Pupuk Indonesia Bersama Produsen Regional Bentuk Asosiasi untuk Memperkuat Industri Pupuk Asia Tenggara
PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama Petronas Chemicals Group Berhad dan Brunei Fertilizer Industries resmi membentuk Southeast Asia Fertilizer Association (SEAFA), sebuah asosiasi produsen pupuk Asia Tenggara. Pembentukan asosiasi ini dilakukan dalam rangkaian Argus Fertilizer Asia Conference pada Rabu (1/4), dengan tujuan memperkuat kolaborasi antarprodusen pupuk di kawasan ASEAN sekaligus menjaga ketahanan pangan regional.
1. SEAFA Membuka Akses Teknologi dan Kapasitas Produksi yang Lebih Luas
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menjelaskan bahwa melalui kerja sama regional, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas akses terhadap pengembangan teknologi industri, peningkatan kapasitas produksi, serta penguatan rantai pasok pupuk yang lebih tangguh di tengah dinamika pasar global. Hal ini diharapkan dapat mendukung upaya menjaga ketersediaan pupuk bagi sektor pertanian nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri pupuk Indonesia di tingkat regional dan global.
“Apakah yang kita saksikan hari ini bukan sekadar seremoni penandatanganan, melainkan sebuah langkah menuju pertumbuhan dan kemajuan jangka panjang bagi kawasan. Pembentukan SEAFA berangkat dari pemahaman sederhana bahwa tantangan dalam lanskap pertanian dan ketahanan pangan regional semakin kompleks. Menghadapi tantangan tersebut membutuhkan informasi yang lebih baik, kesadaran yang lebih tinggi serta rasa tanggung jawab bersama dari kita semua,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).
2. Pembentukan SEAFA Sebagai Langkah Penting dalam Merespons Tantangan Global

Rahmad juga menekankan bahwa pembentukan SEAFA merupakan langkah penting bagi industri pupuk regional dalam merespons tantangan global, khususnya terkait meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi industri regional dalam memastikan ketersediaan pasokan guna mendukung ketahanan pangan regional.
“Seiring dinamika global yang terus berkembang, ditandai oleh rantai pasok yang volatil dan pergeseran kebutuhan energi yang berdampak pada sektor pertanian, penting bagi kita untuk terus bergerak adaptif. Hal ini penting untuk menjaga kelincahan, sekaligus memastikan setiap langkah tetap berpijak pada prinsip yang kita pegang,” tambahnya.
3. SEAFA sebagai Platform Kolaborasi Strategis untuk Industri Pupuk Asia Tenggara

Pada tahap awal, SEAFA didirikan oleh tiga produsen pupuk di Asia Tenggara, yaitu Pupuk Indonesia dari Indonesia, Petronas Chemicals Group dari Malaysia, dan Brunei Fertilizer Industries dari Brunei Darussalam. Dalam kesepakatan tersebut, para anggota menyetujui bahwa Brunei Darussalam akan menjadi lokasi kantor sekretariat utama asosiasi. Sementara dari sisi struktur organisasi, Pupuk Indonesia ditunjuk sebagai Chairman pertama SEAFA, dengan Petronas Chemicals Group sebagai Co-Chairman. Posisi ketua asosiasi selanjutnya akan dipilih secara bergilir dengan masa jabatan selama satu tahun.
“Ke depan, SEAFA diharapkan dapat berkembang menjadi platform kolaborasi strategis bagi industri pupuk di kawasan, termasuk sebagai wadah berbagi pengetahuan dan inovasi dalam praktik produksi berkelanjutan, pengembangan teknologi rendah karbon, serta digitalisasi rantai pasok pupuk,” ujarnya.
Dengan demikian, organisasi ini juga diharapkan menjadi representasi bersama industri pupuk Asia Tenggara dalam berbagai forum regional dan internasional yang berkaitan dengan ketahanan pangan, industri berkelanjutan, serta agenda perubahan iklim. Dalam jangka panjang, SEAFA juga terbuka untuk memperluas kolaborasi dengan lebih banyak produsen pupuk dari negara-negara ASEAN lainnya. Dengan demikian, asosiasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergi industri pupuk kawasan sekaligus meningkatkan kontribusi ASEAN dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk dan ketahanan pangan global.
Komentar dari Wakil Menteri Pertanian
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan bahwa kolaborasi antar negara menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan, terutama di tengah dinamika geopolitik global. Kerja sama tersebut perlu dibangun secara berkelanjutan, termasuk melalui forum internasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan termasuk negara-negara sahabat.
“Kita ingin relasi ini kita bangun dengan baik, bukan hanya kebutuhan sesaat. Pupuk ini bukan hanya urusan industri pupuk, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Sehingga, kita tidak bisa (berjalan) sendiri-sendiri, kita harus kolaborasi (antar negara),” kata dia.







