Sejarah dan Proses Pembuatan Karak, Camilan Legendaris Solo
Karak adalah salah satu camilan khas Solo yang telah menjadi bagian dari budaya lokal sejak lama. Dibuat dari nasi yang dikukus dan diolah secara tradisional, karak memiliki tekstur renyah dan rasa gurih yang khas. Selain sebagai camilan, karak juga sering disajikan sebagai lauk pendamping nasi.
Asal Usul Karak
Menurut cerita turun-temurun, karak mulai dikenal pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1940-an. Awalnya, kerupuk ini dibuat oleh Mbah Sastro dari Kampung Bratan, Solo, yang menciptakan camilan ini dari sisa nasi agar tidak terbuang sia-sia. Proses pembuatan karak melibatkan beberapa tahap, mulai dari pengolahan nasi hingga penggorengan. Nasi yang sudah dikukus dicampur dengan bumbu seperti bawang putih dan garam, lalu ditumbuk hingga halus dan dicetak tipis. Setelah itu, adonan dijemur di bawah sinar matahari hingga kering sebelum digoreng.
Perkembangan Usaha Karak
Usaha karak yang dimulai oleh Mbah Sastro terus berkembang. Setelah wafatnya Mbah Sastro pada sekitar tahun 1984-1985, usaha ini sempat diteruskan oleh keluarganya dan bahkan dipindahkan ke Surabaya. Namun, tidak berjalan mulus. Pada tahun 1996, Rudi Harmawan, generasi ketiga dari keluarga tersebut, kembali melanjutkan usaha Karak Bratan Mbah Sastro di Solo.
Selama masa keemasannya, usaha ini sempat mengekspor kerupuk karak ke Singapura dan Malaysia. Bahan baku utamanya adalah beras C4 yang memberikan tekstur mengembang sempurna saat digoreng. Namun, sejak tahun 2006, penjualan kerupuk karak mulai menurun. Meski demikian, Rudi tetap semangat memproduksi dan memasarkannya di toko oleh-oleh ternama di Solo seperti Orion dan Mesran, serta di rumah produksinya.
Teknik Tradisional dan Tantangan Produksi
Pembuatan karak masih mengandalkan proses manual. Setelah beras dicuci dan dikukus dua kali, nasi ditumbuk dengan alat tradisional hingga halus, lalu dicetak dan diiris menggunakan golok panjang agar tipis dan mudah dijemur. Proses penjemuran bergantung pada sinar matahari yang kuat, sehingga musim hujan menjadi tantangan karena karak sulit kering dan hasil gorengan kurang mengembang.
Meski sempat mencoba pengeringan menggunakan oven, Rudi mengaku hasilnya kurang maksimal sehingga kembali mengandalkan cara tradisional. Penggorengan kerupuk karak juga memerlukan teknik khusus agar kerupuk bisa mengembang sempurna. Rudi menyarankan agar konsumen membeli karak yang sudah matang siap goreng, meski dia juga menyediakan karak mentah bagi yang ingin menggoreng sendiri di rumah.
Selain Karak Bratan Mbah Sastro, wilayah Bratan juga dikenal memiliki beberapa produsen kerupuk karak lain seperti Karak Bratan Mbah Harjo dan Karak Bratan Pak Ismu yang turut melestarikan kuliner ini.
Cara Membedakan Karak Asli dan Palsu
Adonan karak terbuat dari nasi yang sudah dikukus, dibumbui dengan rempah agar terasa gurih, dan dicampur dengan tepung kanji agar teksturnya mudah dibentuk. Karak asli Solo tidak menggunakan bahan berbahaya seperti bleng (boraks), meskipun ada pengusaha nakal yang memakai bahan ini demi keuntungan.
Kini, sebagian besar warga Dusun Bratan meneruskan usaha kerupuk ini dengan inovasi, seperti membuat karak dari nasi merah yang lebih sehat. Selain menjadi camilan, karak juga menjadi pelengkap kuliner khas Solo bernama Cabuk Rambak, yang kini mulai langka namun masih bisa ditemui di Pasar Gedhe Solo.
Harga dan Kemasan
Untuk para wisatawan yang ingin membawa oleh-oleh, karak Bratan tersedia dengan harga yang sangat terjangkau. Karak mentah dijual sekitar Rp 44.000 per kilogram, sementara karak matang dijual sekitar Rp 54.000 per kilogram. Karak mentah bisa bertahan hingga satu tahun jika disimpan dalam wadah kering, sedangkan karak matang bisa bertahan sekitar satu bulan tergantung kemasan.







