Pengalaman Keluarga Pasien Skoliosis di Rumah Singgah Yayasan RMHC
Martina, orang tua dari Deby, seorang pasien skoliosis asal Lampung, menceritakan pengalamannya tinggal di salah satu rumah singgah Yayasan Ronald McDonald House Charities (RMHC) di Lebak Bulus. Martina dan Deby mengaku sangat terbantu dengan adanya fasilitas tersebut. “Kami berasal dari Lampung, dan ketika kami mendengar bahwa anak kami harus menjalani pengobatan intensif karena diagnosis skoliosis di RSUP Fatmawati yang ada di Jakarta, kami sempat kebingungan untuk mencari tempat tinggal yang dekat dengan rumah sakit,” katanya.
Selama persiapan operasi skoliosis hingga waktu operasi, Deby yang berusia 16 tahun ini harus menjalani berbagai pemantauan dokter. Misalnya, Deby harus dicek kondisi gigi atau kondisi kesehatan umum lainnya. “Kami harus bolak balik ke berbagai poli dengan waktu pemeriksaannya biasanya selang sepekan. Kalau bolak balik Lampung – Jakarta, berat di ongkos,” ujarnya.
Martina harus mengeluarkan sedikitnya Rp 1,5 juta untuk ongkos dua orang setiap naik bis dari Lampung ke Jakarta demi berobat. Walaupun operasinya ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, Martina tetap harus mengeluarkan kocek untuk makan, minum, hingga hotel demi perawatan anaknya itu. Padahal dia tidak memiliki sanak saudara di ibu kota. Kesulitan itu membuatnya mengadu ke salah satu perawat di RS Fatmawati. Beruntung, akhirnya ia bisa tinggal di rumah singgah.
Berada di rumah singgah dari RMHC membuat Martina lebih bersyukur karena bisa merasa lebih tenang lantaran bisa selalu dekat dan menjaga anaknya yang sedang berobat. “Kamar khusus untuk setiap keluarga juga membuat privasi kami terjaga, sementara kebersamaan kami membuat anak tidak merasa berada di tempat asing dan tetap merasa nyaman seperti di kamarnya sendiri. Ini sangat membantu menjaga kondisi mentalnya selama menjalani pengobatan,” tutur Martina.
Peresmian Rumah Singgah Kemanggisan
Dalam menandai 15 tahun perjalanannya, Yayasan Ronald McDonald House Charities (Yayasan RMHC) merilis kembali rumah singgah keempat yang berlokasi di Kemanggisan, Jakarta Barat. Dengan kapasitas 66 kamar, Rumah Singgah Kemanggisan menjadi rumah singgah terbesar yang dikelola Yayasan RMHC. Rumah singgah ini merupakan upaya mendukung keluarga pasien anak dengan penyakit kronis. Yayasan RMHC pun menjalin kemitraan strategis bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) untuk merancang pembangunan Rumah Singgah Kemanggisan ini sejak 2024. Kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan fasilitas pendukung layanan medis, tetapi juga memperkuat edukasi kesehatan, sistem rujukan dan pendampingan bagi keluarga selama masa pengobatan.
Salah satu yang menjadi fokus dalam bantuan ini adalah para pasien yang didiagnosis Penyakit Jantung Bawaan (PJB) yang tengah menjalani rujukan pengobatan di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, RSAB Harapan Kita, serta RS Kanker Dharmais. “PJB merupakan salah satu penyakit serius pada anak yang memerlukan penanganan jangka panjang dan berkelanjutan. Diperkirakan terdapat sekitar 45 ribu bayi lahir setiap tahun dengan PJB, dan sekitar 91 persen di antaranya berasal dari luar Pulau Jawa,” kata Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan Oktavia Lilyasari dalam peresmian Rumah Singgah Kemanggisan 10 Februari 2026.

Peresmian Rumah Singgah Ronald McDonald House (RMH) Kemanggisan di Jakarta Barat pada 10 Februari 2025/RMHC
Oktavia mengatakan anak yang mendapatkan dukungan emosional dari keluarga cenderung lebih tenang dan kooperatif selama proses pengobatan. Namun, banyak keluarga dari luar daerah masih menghadapi tantangan besar terkait tempat tinggal dan biaya hidup. “Ini mengapa peran fasilitas rumah singgah dari Yayasan RMHC menjadi sangat penting dalam mendukung keberhasilan terapi,” ujar Oktavia.
Upaya Yayasan RMHC dalam Mendukung Keluarga Pasien Anak
Ketua Yayasan RMHC Caroline Djajadiningrat mengatakan timnya berusaha konsisten menghadirkan dukungan yang holistik melalui penyediaan rumah singgah, pendampingan, serta lingkungan yang aman dan suportif bagi keluarga pasien sejak 2011. Seluruh rumah singgah kami rancang sebagai rumah kedua bagi keluarga yang sedang berjuang mendampingi anak menjalani pengobatan jangka panjang. “Kami berupaya untuk selalu menempatkan keluarga sebagai bagian penting dari proses penyembuhan pasien anak,” ujar Caroline.
Kehadiran Rumah Singgah Kemanggisan terwujud berkat dukungan lebih dari 300 mitra baik itu mitra strategis, donatur perusahaan, donatur individu, komunitas/instansi serta volunteer dari seluruh Indonesia yang terus menunjukkan semangat gotong royong dan kepedulian. Yayasan RMHC menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berbagi dan menjadi bagian dari upaya membantu keluarga pasien anak melalui berbagai kegiatan seperti Lari untuk RMHC, Padel for Hope, Bear4Love, McHappy Socks Fundraiser, Hyrox for Hope hingga Cinta dalam Sepotong Bata.
Melalui pengalaman mendampingi ribuan keluarga pasien anak dari berbagai daerah yang singgah di Rumah Singgah Lebak Bulus, Rumah Singgah Kiara-RSCM, dan Rumah Singgah Denpasar, Yayasan RMHC melihat besarnya kebutuhan akan fasilitas yang lebih luas, terintegrasi, dan mampu menjangkau lebih banyak keluarga, khususnya anak-anak dengan PJB. Rumah Singgah Kemanggisan merupakan bangunan empat lantai dengan fasilitas meliputi kamar tidur, dapur bersama dan area makan, ruang bermain anak, ruang keluarga, ruang belajar, area ibadah, serta layanan dukungan psikososial dalam lingkungan yang ramah anak dan keluarga.
Setiap kamar diperuntukkan bagi satu keluarga guna menjaga privasi dan kenyamanan, dan seluruh layanan diberikan secara gratis agar keluarga dapat fokus pada proses penyembuhan. Rumah singgah ini juga dilengkapi dengan fasilitas antar jemput siaga serta berlokasi dekat dengan rumah sakit mitra untuk memudahkan akses layanan medis. “Melalui kolaborasi dengan PERKI, kami ingin memastikan bahwa keluarga pasien tidak hanya mendapatkan tempat tinggal sementara, tetapi juga ruang aman yang memberikan dukungan emosional,” kata Caroline.
Ke depan, Yayasan RMHC Terus Berkembang
Ke depan, Caroline berjanji timnya akan terus memperkuat standar layanan, sistem rujukan, serta kapasitas tim pendamping agar rumah singgah ini dapat memberikan manfaat maksimal sesuai dengan kebutuhan pasien dan keluarga. “Kami juga akan terus mengembangkan program pendukung agar semakin banyak anak dan keluarga dapat merasakan manfaat fasilitas dan layanan yang kami hadirkan, sekaligus membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat sebagai donatur,” lanjut Caroline Djajadiningrat, Ketua Yayasan RMHC.
Saat ini, empat rumah singgah yang dikelola Yayasan RMHC secara akumulatif telah menyediakan lebih dari 62.000 malam menginap bagi lebih dari 2.600 keluarga pasien anak dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran rumah singgah ini memberikan dampak nyata dalam memastikan pasien anak tetap dapat menjalani pengobatan tanpa harus terpisah dengan keluarga akibat keterbatasan jarak dan biaya.
Caroline pun mengajak masyarakat untuk ikut membantu mendukung pasien untuk mendukung operasional, perawatan fasilitas, serta peningkatan kenyamanan rumah singgah bagi keluarga pasien. Partisipasi dapat dilakukan melalui berbagai pilihan paket kontribusi mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta melalui tautan s.id/makeithome atau situs resmi Yayasan RMHC di www.rmhc.or.id. “Bersama, kita dapat memastikan anak di Indonesia tidak perlu menjalani perjalanan penyembuhan sendirian, karena No Child Heals Alone,” kata Caroline.







