Pengalaman Personal dalam Membangun Hubungan Indonesia-Jepang
Sebagai pendiri Yayasan Sakuranesia, saya memiliki pengalaman yang sangat berharga dalam memahami bagaimana citra Indonesia di mata masyarakat Jepang. Pengalaman ini terasa hidup dan emosional ketika saya menghadiri Osaka Expo 2025. Bukan hanya keramaian paviliun atau atraksi budaya yang menarik perhatian, tetapi juga cara masyarakat Jepang melihat Indonesia. Mereka penuh rasa ingin tahu, saling menghormati, dan bahkan memiliki kedekatan emosional.
Mereka bertanya tentang kehidupan sehari-hari, agama, serta bagaimana masyarakat Indonesia menjaga harmoni di tengah keberagaman. Dari sini, saya mulai menyadari bahwa citra Indonesia tidak hanya dibangun oleh kebijakan luar negeri, tetapi juga oleh pengalaman antarmanusia yang nyata.
Pengalaman tersebut semakin kuat ketika saya berkunjung ke Kuil Miidera (Onjoji) di Otsu, Prefektur Shiga. Di tempat yang menghadap Danau Biwa, dialog lintas iman antara Islam dan Buddha berlangsung dalam suasana tenang, terbuka, dan saling menghormati. Tidak ada sikap defensif, tidak ada upaya saling mengungguli. Yang ada adalah keinginan tulus untuk saling memahami, sebuah pemandangan yang semakin langka di dunia yang sering kali diliputi ketegangan identitas dan konflik simbolik.
Pengalaman ini penting dicatat karena menunjukkan bahwa ketahanan nasional tidak selalu dibangun di ruang-ruang keras seperti militer, ekonomi, atau diplomasi formal. Ketahanan juga tumbuh dengan sendirinya, di kuil, di ruang dialog, dan di perjumpaan budaya. Dalam konteks Indonesia-Jepang, forum informal seperti ini justru paling produktif dalam membangun kepercayaan jangka panjang antar bangsa.
Dialog Lintas Iman dan Kekuatan Persahabatan
Dialog antara Islam dan Buddha di Miidera menunjukkan bahwa agama, yang sering dianggap sebagai sumber konflik, justru dapat menjadi medium persahabatan. Kepala Pendeta Miidera menyampaikan ketertarikannya untuk memahami Islam sebagai ajaran kasih sayang dan pelayanan terhadap manusia serta alam. Gestur simbolik berupa pemberian kaligrafi tulisan tangan menjadi penanda bahwa relasi antar bangsa tidak selalu dimulai dari nota kesepahaman, melainkan dari simbol, rasa, dan kepercayaan.
Dalam bahasa ketahanan nasional, inilah social trust capital yang nilainya sulit diukur, tetapi dampaknya sangat besar. Di titik ini, saya merumuskan sebuah konsep ‘Sebudigi Strategic’, akronim dari Seni, Budaya, Pendidikan, dan Teknologi, menjadi kerangka yang relevan untuk membaca hubungan Indonesia-Jepang secara lebih mendalam.
Seni, Budaya, Pendidikan, dan Teknologi
Seni dan budaya membuka pintu dialog; pendidikan memperdalam pemahaman; teknologi memastikan keberlanjutan kerja sama. Keempatnya bekerja sebagai satu ekosistem, bukan sektor yang berdiri sendiri. Seni dan budaya, misalnya, bukan hanya pertunjukan atau artefak, melainkan cara berpikir dan merasakan dunia. Jepang menghargai kesenyapan, ketekunan, dan kontinuitas tradisi. Indonesia menawarkan kekayaan ekspresi, spiritualitas, dan kemampuan hidup dalam keberagaman.
Ketika dua pendekatan ini bertemu, yang tercipta bukan benturan, melainkan resonansi. Inilah fondasi people-to-people diplomacy yang sering kali lebih kuat daripada diplomasi negara-ke-negara.
Pendidikan sebagai Penguat Resonansi
Pendidikan kemudian menjadi penguat resonansi tersebut. Ketertarikan masyarakat Jepang terhadap Indonesia membuka peluang besar bagi pertukaran pelajar, riset lintas disiplin, dan pembelajaran bersama tentang isu-isu global seperti keberlanjutan lingkungan, kebencanaan, dan etika teknologi. Generasi muda yang tumbuh dari interaksi semacam ini tidak hanya membawa keahlian teknis, tetapi juga empati lintas budaya, modal penting bagi ketahanan nasional di era globalisasi.
Keyakinan saya tentang pentingnya pendekatan yang lebih utuh dalam pendidikan semakin menguat ketika mengunjungi sebuah taman kanak-kanak di Edogawa, Jepang. Di sana, bersama Azalee Group, saya menyaksikan pendidikan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) tidak diajarkan sebagai mata pelajaran terpisah, melainkan sebagai pengalaman hidup yang menyenangkan. Anak-anak belajar sains dan matematika melalui kegiatan sederhana seperti membuat udon (mengukur, mencampur, merasakan, dan bereksperimen) tanpa kehilangan unsur seni, imajinasi, dan kegembiraan.
Teknologi sebagai Alat Transformasi
Dari pengalaman itu saya sampai pada satu kesimpulan, Indonesia tidak cukup hanya mengadopsi STEM yang kering dan teknokratis, tetapi membutuhkan STEAM yang berakar pada budaya, rasa, dan kreativitas. Di sinilah istilah Sebudigi (Seni, Budaya, Pendidikan, dan Teknologi) menjadi sangat relevan sebagai pendekatan Indonesia yakni sebuah kerangka yang tidak menyingkirkan nilai dan tradisi, tetapi justru menjadikannya sumber daya utama dalam membangun generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter.
Teknologi, pada akhirnya, berfungsi sebagai alat transformasi. Jepang memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan teknologi yang berorientasi pada kebutuhan sosial. Indonesia memiliki konteks sosial dan alam yang kompleks. Ketika teknologi dipadukan dengan pemahaman budaya dan pendidikan yang matang, kerja sama tidak berhenti pada konsumsi inovasi, melainkan menghasilkan solusi bersama yang kontekstual dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Semua ini menunjukkan bahwa ketahanan nasional abad ke-21 tidak dapat dibangun dengan pendekatan tunggal. Akan tetapi, memerlukan strategi yang lentur, humanis, dan berjangka panjang. Sebudigi Strategic menawarkan pendekatan tersebut, yakni membangun kekuatan bangsa melalui jejaring persahabatan, dialog lintas iman, pertukaran budaya, dan kolaborasi pengetahuan.
Upaya-upaya yang tumbuh dari pengalaman personal dan dialog lintas peradaban, seperti yang kami rintis melalui Yayasan Sakuranesia, menunjukkan bahwa persahabatan Indonesia-Jepang bukan sekadar relasi bilateral, melainkan praktik nyata membangun harmoni negeri antar bangsa. Dari kuil kuno di Miidera hingga forum global seperti Osaka Expo, ketahanan nasional Indonesia justru menemukan bentuknya yang paling kuat ketika kita hadir sebagai bangsa yang terbuka, dipercaya, dan dicintai.







