Iran Kembali Berdialog dengan AS, Tapi Menolak Kehadiran Militer AS di Teluk
Iran akhirnya menunjukkan sikap terbuka untuk kembali melakukan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat (AS), meskipun masih mempertahankan prinsip-prinsip utamanya dalam proses diplomasi. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya terjadi ketegangan antara kedua negara, terutama terkait kebijakan “tekanan maksimum” yang diterapkan oleh pemerintahan lalu.
Dalam pernyataannya, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menekankan bahwa diplomasi hanya bisa berjalan jika dilakukan dalam suasana saling menghormati dan tanpa ancaman senjata. Ia menyebutkan bahwa Iran bersedia membahas kerangka kerja teknis terkait program nuklir mereka, dengan tujuan memberikan jaminan internasional tentang sifat damai aktivitas nuklir tersebut. Namun, ia juga menuntut pencabutan sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan ekonomi Iran.
- Iran bersedia membahas kerangka kerja teknis terkait program nuklir.
- Tujuan dari pembicaraan adalah memberikan jaminan internasional tentang sifat damai aktivitas nuklir.
- Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi yang telah melumpuhkan negara tersebut.
Meski membuka pintu dialog, Iran tetap menunjukkan sikap keras terhadap kehadiran armada militer AS di kawasan Teluk. Mereka memandang kehadiran kapal induk dan aset militer AS sebagai bentuk intimidasi dan provokasi. Baghaei menyatakan bahwa tindakan tersebut justru merusak upaya mediator dari negara-negara tetangga seperti Qatar dan Oman. Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan konsesi apa pun selama moncong senjata AS masih diarahkan ke wilayah kedaulatan mereka.
Fokus pada Isu Nuklir, Bukan Masalah Regional
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa hak Teheran untuk memperkaya uranium di wilayah sendiri harus diakui agar pembicaraan nuklir dengan AS berhasil. Ia menegaskan bahwa pengayaan nol tidak akan pernah bisa diterima oleh Iran. Pembicaraan harus fokus pada pengaturan yang memungkinkan pengayaan uranium di dalam Iran, sambil membangun kepercayaan bahwa pengayaan tersebut dilakukan dan akan tetap dilakukan untuk tujuan damai.
- Pengayaan nol tidak akan pernah bisa diterima oleh Iran.
- Pembicaraan harus fokus pada pengaturan yang memungkinkan pengayaan uranium di dalam Iran.
- Perlu dibangun kepercayaan bahwa pengayaan dilakukan untuk tujuan damai.
Araghchi juga menyampaikan bahwa hasil putaran Muscat sedang ditinjau, dan kedua belah pihak sedang menunggu keputusan apakah akan melanjutkan atau tidak. Putaran berikutnya diperkirakan akan tetap tidak langsung dan berpotensi diadakan di luar Oman.
- Hasil pembicaraan sedang ditinjau.
- Pendekatan keseluruhan kedua negara adalah untuk melanjutkan pembicaraan.
- Putaran berikutnya diperkirakan akan tetap tidak langsung.
Iran Tidak Akan Menegosiasikan Program Rudal atau Kebijakan Regional
Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan menegosiasikan program rudalnya atau kebijakan regionalnya, menolak seruan AS untuk memperluas agenda tersebut. Ia menyatakan bahwa masalah rudal dan masalah regional belum dan tidak ada dalam agenda pembicaraan.
- Iran tidak akan menegosiasikan program rudalnya.
- Kebijakan regional juga tidak akan dibahas dalam pembicaraan nuklir.
- Seruan AS untuk memperluas agenda ditolak.
Perspektif Analis: Pekan Depan akan Menentukan Nasib Diplomasi
Para analis menilai bahwa pekan depan akan menjadi periode krusial bagi proses diplomasi antara Iran dan AS. Keberhasilan dialog sangat bergantung pada apakah Washington bersedia memberikan pelonggaran sanksi atau menarik mundur armadanya sebagai bentuk itikad baik sebelum pertemuan puncak dilakukan.
Kesimpulan
Dengan membuka pintu dialog, Iran menunjukkan komitmen untuk mencari solusi damai, namun tetap mempertahankan prinsip-prinsip intinya. Pihak Iran menekankan bahwa diplomasi harus dilakukan dalam atmosfer saling menghormati, bukan di bawah ancaman senjata. Di sisi lain, AS tetap menuntut pelucutan total program nuklir dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan. Kedua belah pihak kini menunggu langkah-langkah lebih lanjut dari masing-masing pihak untuk menentukan arah hubungan diplomatik yang akan datang.







