Tempat Keramat di Lombok Timur: Timba Mungguk dan Ritual Penyembuhan
Di tengah pesona alam Lombok yang memukau, tersembunyi sebuah tempat yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual oleh sebagian masyarakat di pulau Lombok. Tempat itu bernama Timba Mungguk, sebuah lokasi yang diyakini sebagai salah satu titik keramat untuk ritual penyembuhan berbagai penyakit yang berada di Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Terletak di daerah perbukitan yang masih asri, Timba Mungguk bukan sekadar destinasi wisata biasa. Bagi masyarakat Lombok, khususnya Suku Sasak, tempat ini menyimpan nilai-nilai leluhur yang terus dijaga hingga kini. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi yang memiliki energi spiritual. Konon, tempat ini menjadi salah satu titik di mana Datu Selaparang dan para Patih dan prajuritnya tempat istirahat dan tempat mandi nya saat dikejar oleh para musuh.
Sekarang masyarakat memahami Timba Mungguk tersebut merupakan tempat pertemuan antara alam nyata dan alam gaib, sehingga sering dijadikan lokasi untuk meminta kesembuhan dari berbagai penyakit, baik fisik maupun non-fisik.
Ritual dan Kepercayaan yang Terjaga
“Timba Mungguk itu bagi kami bukan sekadar tempat biasa. Ini adalah tempat yang dihormati, di mana orang-orang datang untuk berdoa dan memohon kesembuhan,” ujar Amaq Is (59), salah seorang tokoh adat (mangku) yang menjaga Timba Mingguk ini saat ditemui pada Senin (16/2/2026).
Menurut kepercayaan yang berkembang, tempat ini memiliki penjaga yang harus dihormati. Karena itu, siapa pun yang datang diharapkan menjaga perilaku dan niat baik.
Masyarakat yang datang ke Timba Mungguk biasanya melakukan serangkaian ritual sederhana. Mereka membawa sesaji berupa bunga, beras kuning, atau kemenyan sebagai simbol penghormatan. Setelah itu doa-doa dipanjatkan, memohon izin kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para leluhur agar diberikan kesembuhan.
“Tamu yang hendak mencari kesembuhan, biasanya kami ambilkan air dari timba di akar pohon besar ini, setelah itu air tersebut dicampur dengan lekoq lekes yang berisi daun sirih, buah pinang, apur dan kembang,” terangnya. Setelah itu warga yang dianggap sakit itu dimandiin dengan air tersebut didekat mata air atau yang dinamakan Timba Mungguk tersebut.
“Ini hanya sarat saja, yang menentukan kesembuhan hanya tuhan yang maha esa,” tutur Amaq Is.
Tradisi yang Bertahan di Tengah Modernisasi
Fenomena Timba Mungguk menjadi contoh bagaimana kepercayaan lokal masih mengakar kuat di tengah arus modernisasi. Meskipun dunia medis telah berkembang pesat, sebagian masyarakat tetap memegang teguh tradisi leluhur sebagai bentuk keseimbangan hidup.
Praktik pengobatan tradisional di Timba Mungguk tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya Sasak yang menjunjung tinggi harmoni dengan alam. Tempat ini menjadi simbol bahwa kesehatan tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga spiritual.
Para tetua adat mengingatkan bahwa Timba Mungguk bukanlah satu-satunya sumber kesembuhan. Mereka menekankan bahwa kesembuhan sejati datang dari Tuhan, dan tempat ini hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
“Kami tidak mengatakan bahwa Timba Mungguk bisa menyembuhkan secara ajaib. Tapi di sinilah orang-orang memperkuat iman dan keyakinan mereka. Itu yang kemudian menjadi energi positif untuk kesembuhan,” jelasnya.
Pengunjung yang Percaya dan Berdoa
Kini, Timba Mungguk mulai dikenal lebih luas, tidak hanya oleh masyarakat Lombok tetapi juga wisatawan dari luar daerah. “Kami ingin Timba Mungguk tetap terjaga, dan juga sebagai warisan budaya yang mengajarkan kita tentang kearifan lokal dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta,” pungkas Amaq Is.
Salah satu pengunjung, Ibu War (55), mengaku pernah membawa cucunya yang tidak bisa berbicara namun setelah dibawa ke Timba Mungguk, cucunya akhirnya bisa berbicara.
“Setelah kami niatkan dan berdoa di sini, perlahan-lahan cucu saya mulai bisa berbicara. Saya percaya ini berkah dari doa dan keyakinan,” katanya. Dari itulah Ibu War sering membawa cucunya yang sakit dan meniatkan untuk berobat di Timba Mungguk tersebut. Meskipun sudah sembuh namun niatnya untuk membawa cucunya tetap dibawa untuk penyembuhan.
“Ini nazar saya, kalau sembuh pasti saya kesini, agar dia sembuh sempurna,” tutup Ibu War.







