Tradisi Puter Kayun di Boyolangu, Banyuwangi: Mengenang Jejak Leluhur dengan Napak Tilas
Puter Kayun adalah sebuah ritual tradisional yang dilaksanakan oleh warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Banyuwangi, setiap tanggal 10 Syawal. Ritual ini menjadi bentuk penghormatan terhadap para leluhur yang telah berjasa dalam membuka jalan di kawasan utara Banyuwangi.
Tradisi ini bermula dari napak tilas yang dilakukan oleh warga dengan menaiki dokar hias dari Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol. Dalam perjalanan tersebut, mereka mengingat jasa Ki Buyut Jakso, tokoh penting yang dipercaya sebagai orang pertama kali membangun jalan di wilayah utara Banyuwangi.
Sejarah dan Makna Puter Kayun
Menurut Risyal Alfani, ketua panitia sekaligus tokoh pemuda Boyolangu, ritual Puter Kayun merupakan bentuk napak tilas jejak Ki Buyut Jakso. Dikisahkan bahwa saat membuka jalan di sebelah utara, Belanda meminta bantuan pada Ki Buyut Jakso karena adanya gundukan gunung yang sulit dibongkar. Ki Jakso lalu melakukan semedi dan tinggal di Gunung Silangu, yang kini menjadi kawasan Boyolangu. Atas kesaktiannya, ia berhasil membuka jalan tersebut sehingga wilayah itu diberi nama Watu Dodol, yang artinya “watu didodol” atau “dibongkar”.
Sejak saat itu, Ki Buyut Jakso menyampaikan pesan kepada anak cucunya untuk berkunjung ke Pantai Watu Dodol dan melakukan napak tilas seperti yang telah dilakukannya. Karena mayoritas masyarakat Boyolangu pada masa itu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka menggunakan dokar sebagai sarana dalam napak tilas tersebut.
Perubahan Rute Tahun Ini
Pada tahun ini, rute napak tilas Puter Kayun mengalami perubahan. Hal ini disebabkan oleh kemacetan yang terjadi di sekitar Pelabuhan Ketapang, sehingga jalan menuju Pantai Watu Dodol tidak bisa dilewati dengan lancar. Akibatnya, kuda yang biasanya melakukan napak tilas hanya berputar di wilayah kota saja.
Beberapa warga mengatakan bahwa sebelumnya, mereka selalu berbondong-bondong mengiringi kuda dengan kendaraan roda empat. Namun, karena kondisi jalan yang macet, mereka harus beralih ke motor roda dua untuk menembus kemacetan tersebut.
Upaya Melestarikan Tradisi
Plt Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menyampaikan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk mengangkat dan melestarikan tradisi lokal masyarakat, termasuk tradisi Puter Kayun di Boyolangu. Selain sebagai bentuk menjaga tradisi dan ritual, ritual ini juga menjadi bagian dari atraksi wisata di Banyuwangi.
Sebelum pelaksanaan Puter Kayun, warga Boyolangu menggelar rangkaian acara yang dikemas dalam Boyolangu Traditional Culture. Acara dimulai pada tanggal 7 Syawal dengan Lebaran Kopat, yang diawali dengan acara selamatan dan diakhiri dengan makan kopat oleh seluruh warga. Di hari ke-9 Syawal, digelar Tradisi Kebo-keboan.
Kehadiran Dokar dalam Ritual
Salah satu kusir delman yang masih bertahan dengan profesinya adalah Abdul Mufid (65). Ia sudah menjadi kusir sejak tahun 1971 dan selalu ikut serta dalam tradisi Puter Kayun bersama warga setempat. Menurutnya, yang terpenting dalam ritual ini adalah proses napak tilasnya, bukan sekadar tampilan atau pesta.
Pagi hari, dua buah dokar telah dihias dengan megah sebagai simbol ritual adat Puter Kayun. Kusir-kusir yang akan membawa dokar tersebut telah siap di sisi dokar. Meski rute tahun ini sedikit berubah, tradisi ini tetap berjalan dengan khidmat dan penuh makna.







