Dukungan DPRD Surabaya untuk Tradisi Ziarah Wali di Gununganyar Lor
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menunjukkan dukungan penuh terhadap tradisi ziarah wali yang dilakukan oleh masyarakat Gununganyar Lor menjelang Ramadhan. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menjadi upaya melestarikan budaya lokal di tengah arus modernisasi. Tradisi ini dinilai penting dalam memperkuat identitas dan kebersamaan antar generasi.
Kegiatan ziarah wali lima yang digelar oleh warga Gununganyar Lor Surabaya mendapatkan perhatian luas karena mampu menciptakan semangat kebersamaan lintas generasi. Arif Fathoni yang turut serta dalam rombongan menyatakan bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual religi, melainkan momen refleksi atas perjuangan para wali sekaligus doa bagi Kota Surabaya agar tetap aman dan tenteram. Ia juga mengucapkan doa khusus untuk Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi agar diberi kekuatan dalam memimpin kota.
Tradisi ziarah wali lima sudah lama dikenal sebagai bentuk penghormatan terhadap para penyebar Islam di Jawa Timur. Dari Sunan Ampel hingga Sunan Giri, makam para wali menjadi tujuan ribuan peziarah setiap tahun. Menurut para tokoh masyarakat, kegiatan ini bukan hanya ritual, tetapi juga sarana pendidikan rohani bagi generasi muda agar tidak kehilangan akar budaya mereka.
Koordinator kegiatan, Maskur Nasrulloh, menekankan bahwa ziarah menjelang Ramadhan menjadi ruang muhasabah diri. Ia berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan kecintaan kepada para wali, meneladani akhlak mereka, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Hal senada disampaikan oleh tokoh masyarakat Abdul Muhith yang menilai tradisi ini harus terus dilestarikan sebagai media pembelajaran spiritual.
Fenomena ziarah wali juga memiliki dampak sosial-ekonomi. Beberapa penelitian mencatat bahwa wisata religi di Jawa Timur, termasuk ziarah wali, berkontribusi pada perputaran ekonomi lokal. Pedagang kecil, penyedia transportasi, hingga pengelola penginapan turut merasakan manfaat dari ramainya kunjungan jamaah. Pemerintah daerah pun sering menjadikan wisata religi sebagai bagian dari strategi pariwisata berbasis budaya.
Di sisi lain, tradisi ini menjadi benteng identitas di tengah gempuran budaya global. Akademisi dari Universitas Airlangga menilai bahwa pelestarian tradisi keagamaan seperti ziarah wali mampu menjaga kohesi sosial. Dengan adanya dukungan dari pejabat publik, masyarakat merasa lebih percaya diri untuk terus melaksanakan kegiatan yang diwariskan turun-temurun.
Arif Fathoni menegaskan bahwa sebagai wakil rakyat, ia berkewajiban mendukung setiap upaya warga dalam menjaga tradisi. Menurutnya, nilai spiritual yang terkandung dalam ziarah wali dapat menjadi penyeimbang di tengah kehidupan kota yang serba cepat. “Kegiatan wisata religi ini diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari takmir dan remaja masjid, termasuk warga RW 01 Gununganyar Lor,” ujarnya.
Tradisi ziarah wali lima juga sejalan dengan tren meningkatnya minat wisata religi di Indonesia. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa destinasi berbasis spiritual mengalami kenaikan kunjungan dalam lima tahun terakhir. Hal ini menandakan bahwa masyarakat semakin mencari pengalaman yang bukan hanya rekreasi, tetapi juga memberi ketenangan batin.
Dengan dukungan DPRD Surabaya, diharapkan tradisi ziarah wali tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari identitas kota. Surabaya yang dikenal sebagai kota metropolitan tetap memiliki ruang bagi warganya untuk merawat nilai-nilai spiritual. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa modernitas dan tradisi bisa berjalan beriringan.
Ke depan, masyarakat berharap pemerintah kota dapat memberikan fasilitas lebih baik bagi kegiatan ziarah, seperti transportasi dan sarana pendukung. Dengan begitu, tradisi ini tidak hanya lestari, tetapi juga memberi manfaat lebih luas bagi warga Surabaya dan Jawa Timur. Dukungan publik dan pemerintah menjadi kunci agar tradisi ziarah wali tetap hidup di tengah perubahan zaman.







