Perkembangan Konflik Iran dan Amerika Serikat
Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menyebut operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung selama empat hingga lima minggu memicu spekulasi tentang potensi eskalasi konflik. Sejumlah analis menilai durasi tersebut bukanlah batas akhir, melainkan indikasi bahwa opsi militer, termasuk pengerahan pasukan darat, masih terbuka.
Adrianus Prisma, praktisi pertahanan militer dari Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (KERIS), mengatakan pernyataan Trump menunjukkan bahwa kekuatan penuh militer AS belum sepenuhnya dikerahkan. Menurut dia, sejumlah pejabat tinggi AS seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga memberi sinyal serupa melalui pernyataan publik dan media sosial mereka.
“Mereka menambahkan bahwa elemen besar kekuatan Amerika Serikat itu belum dimunculkan. Jadi memang terbuka peluang untuk melakukan operasi darat,” ujar Adrianus dalam dialog di KompasTV, Selasa (3/3/2026).
Trump sebelumnya menyebut operasi militer diproyeksikan berlangsung selama empat hingga lima minggu dan tidak menutup kemungkinan diperpanjang apabila diperlukan. Namun, Adrianus menilai pernyataan tersebut lebih merupakan strategi politik dibanding kepastian durasi perang.
Hingga kini, operasi militer AS terhadap Iran masih didominasi serangan udara dan laut. Jika Washington memutuskan mengerahkan pasukan darat dalam skala besar, dinamika konflik dinilai akan berubah secara signifikan. Langkah tersebut juga berpotensi menimbulkan konsekuensi politik domestik.
Adrianus mengingatkan bahwa Trump sebelumnya berjanji tidak akan menjadi presiden yang gemar membawa AS ke dalam perang berkepanjangan. “Kalau sampai menerjunkan tentara di darat dengan skala besar, tentu akan menjadi hal baru dan bisa memicu reaksi publik Amerika,” ujarnya.
Strategi Militer AS Saat Ini
Secara militer, AS saat ini mengandalkan taktik yang disebut sebagai “SWAT and Shield”. Dua kapal induk, USS Abraham Lincoln yang ditempatkan di Laut Arab dan USS Gerald R. Ford di lepas pantai Israel, menjadi tulang punggung kekuatan laut sekaligus perisai pertahanan. Selain itu, sejumlah pangkalan udara di Israel difungsikan sebagai titik serangan maju.
Adrianus menyebut beberapa pangkalan yang sebelumnya menjadi target balasan Iran telah dievakuasi jauh hari, menandakan adanya persiapan matang sebelum eskalasi meningkat. Dengan kondisi tersebut, analis menilai konflik belum mencapai puncak kapasitas militer penuh AS.
Opsi eskalasi, termasuk operasi darat, dinilai masih berada dalam perhitungan strategis Washington.
Jika Operasi Darat Dimulai
Iran memiliki wilayah geografis yang luas dan sistem komando tersebar, sehingga operasi darat akan jauh lebih kompleks dibandingkan kampanye udara. “Sedangkan Iran sendiri mereka memang lebih mengandalkan pada kemampuan rudalnya, peluru kendalinya itu yang memang dia mengandalkan kondisi geografis Iran yang sangat luas. Jadi mereka tersebar-sebar dan memiliki komando dan pengendalian terpisah. Jadi tidak hanya mengandalkan sentralisasi di Teheran begitu secara kondisi pertahanan terkini,” jelas Adrianus dikutip dari Kompastv.
Pengerahan pasukan darat berisiko memicu perang jangka panjang, korban besar, dan kemungkinan keterlibatan lebih luas dari aktor regional. Saat ini, konflik juga telah melibatkan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Serangan balasan Iran terhadap fasilitas di kawasan tersebut berpotensi memicu reaksi berantai.
Selain itu, proksi Iran seperti Hizbullah dan Houthi dapat memperluas front konflik. Jika eskalasi meningkat, perang tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel, melainkan mencakup kawasan Timur Tengah secara luas.
Ujian “Pain Tolerance” Pemerintah
Adrianus menyebut situasi saat ini sebagai ujian “pain tolerance” atau daya tahan politik dan militer pemerintah Israel dan Amerika Serikat. Menurut Adrianus, ada dua faktor yang bisa mendorong konflik menjadi perang besar. Pertama, jika Iran berani menyerang kapal induk Amerika Serikat secara langsung. Kedua, jika Iran menyerang lokasi yang diduga sebagai situs senjata nuklir Israel.
“Itu dua dua hal yang bisa membuat perang ini berkembang menjadi all out war,” ujarnya.
Sejauh ini, serangan masih berada dalam pola eskalasi terkendali. Namun dengan opsi operasi darat masih terbuka, dan dinamika geopolitik yang terus berubah, durasi perang sulit dipastikan. Jika AS tetap mengandalkan dominasi udara dan laut, konflik mungkin bisa dibatasi. Tetapi jika ground invasion benar-benar terjadi, perang Iran-AS berpotensi memasuki fase baru yang lebih panjang dan tidak terprediksi.
Untuk saat ini, dunia menunggu apakah Washington akan benar-benar mengerahkan pasukan darat—atau tetap membatasi konflik pada kampanye militer jarak jauh.







