Optimisme Trump terhadap Kesepakatan Nuklir AS-Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan optimisme bahwa kesepakatan nuklir antara AS dan Iran dapat tercapai dalam waktu sebulan. Pernyataan ini disampaikan saat ia berbicara dengan wartawan di Gedung Putih, menjawab pertanyaan mengenai perkembangan terbaru negosiasi antara Washington dan Teheran.
“Saya kira dalam sebulan ke depan, hal seperti itu akan terjadi dengan cepat,” ujar Trump, sebagaimana dikutip dari Anadolu.
Optimisme Presiden AS ini didorong oleh perkembangan terbaru dalam jalur diplomasi yang kembali dibuka setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Kembalinya dialog langsung antara kedua pihak melalui pertemuan di Oman pada pekan lalu menjadi momentum penting dalam proses perundingan. Pembicaraan tersebut merupakan yang pertama sejak ketegangan militer pada Juni 2025 silam dan menandai berakhirnya masa jeda sekitar delapan bulan.
Pembicaraan ini dipandang sebagai tanda bahwa Iran masih membuka ruang kompromi, sehingga proses perundingan dinilai dapat bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Selain faktor diplomasi, optimisme Trump juga dipengaruhi oleh dukungan dari sekutu regional dan mitra internasional untuk menjaga jalur diplomasi tetap berjalan.
Beberapa negara Timur Tengah sebelumnya mendorong Washington agar tidak membatalkan pembicaraan dengan Iran dan tetap mengejar solusi damai. Dukungan tersebut memperkuat keyakinan bahwa kesepakatan masih memiliki peluang realistis jika negosiasi dilanjutkan secara intensif dengan tujuan menghindari dampak yang lebih besar.
Tekanan Militer Tetap Disiapkan Jika Negosiasi Gagal
Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa Washington tidak hanya mengandalkan jalur diplomasi dalam perundingan nuklir dengan Iran, tetapi juga tetap membuka opsi peningkatan tekanan jika pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan. Dalam pernyataannya, Trump mengingatkan bahwa kegagalan negosiasi dapat membawa konsekuensi serius bagi Teheran.
Ia bahkan menyinggung serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu sebagai gambaran tindakan yang bisa kembali terjadi apabila upaya diplomatik tidak membuahkan hasil. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa strategi pemerintah AS saat ini menggabungkan dua pendekatan sekaligus, yakni diplomasi dan tekanan.
Di satu sisi, Washington terus melanjutkan pembicaraan untuk mencari solusi damai. Namun di sisi lain, Amerika juga memperkuat posisi militernya sebagai bentuk peringatan agar Iran menunjukkan keseriusan dalam negosiasi. Seiring berlangsungnya proses dialog, Amerika Serikat diketahui meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Salah satu langkah yang diambil adalah pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta armadanya.
Penguatan militer ini dipandang sebagai sinyal tegas bahwa Washington ingin melihat kemajuan nyata dalam perundingan. Langkah tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan posisi tawar Amerika Serikat sekaligus mencegah kemungkinan eskalasi jika pembicaraan menemui jalan buntu.
Trump juga mengungkapkan bahwa ia telah menggelar pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sehari sebelumnya. Meski Israel dikenal sebagai pihak yang skeptis terhadap perundingan dengan Iran, Trump menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah AS. Ia menambahkan bahwa jika kesepakatan yang dihasilkan tidak dianggap adil dan menguntungkan, maka Iran akan menghadapi masa yang sulit.
Kendati demikian, Trump mengakui bahwa pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan konkret selain komitmen untuk melanjutkan negosiasi.
Perbedaan Sikap Masih Tajam
Sejauh ini, jadwal negosiasi putaran lanjutan masih direncanakan, meski jadwal resminya belum diumumkan. Namun, pembicaraan masih menghadapi sejumlah hambatan besar, terutama terkait isu pengayaan uranium. Washington menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan memindahkan stok uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri.
Selain itu, AS ingin memasukkan isu program rudal balistik Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan ke dalam perundingan. Sebaliknya, pemerintah Iran berulang kali menolak memperluas negosiasi di luar isu nuklir. Iran menolak tuntutan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai. Teheran juga meminta pencabutan sanksi ekonomi Barat sebagai syarat utama kesepakatan.
Dengan perbedaan posisi yang masih tajam terkait pengayaan uranium, sanksi ekonomi, dan isu keamanan regional, jalan menuju kesepakatan dinilai masih penuh tantangan. Jika negosiasi berhasil, kesepakatan baru berpotensi menurunkan ketegangan di Timur Tengah. Akan tetapi, kegagalan dapat meningkatkan risiko eskalasi konflik antara AS, Iran, dan sekutu masing-masing di kawasan.







