Program Makan Bergizi Gratis di Bangka Selatan Dikritik
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bangka Selatan kini tengah menjadi sorotan setelah ditemukan adanya masalah dalam pemberian menu makanan yang tidak sesuai dengan usia balita. Hal ini menimbulkan kekhawatiran dari warga terutama para orang tua yang merasa bahwa program tersebut belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan gizi anak-anak.
Keluhan Warga Terhadap Menu Makanan
Salah satu keluhan datang dari Udi, seorang warga Kelurahan Toboali, yang menyatakan bahwa paket makanan untuk anak laki-lakinya yang baru berusia 10 bulan mengandung menu kering seperti kacang polong, kacang telur, dan kacang koro. Kondisi ini dinilai tidak sesuai karena bayi tersebut belum memiliki gigi yang cukup untuk mengunyah makanan keras.
Udi mengungkapkan bahwa meskipun ada beberapa kali menu yang lebih relevan seperti puding, telur, dan buah, dominasi makanan kering tetap menjadi perhatian serius. Ia meminta agar SPPG melakukan evaluasi menyeluruh agar distribusi menu kedepannya disesuaikan dengan profil usia penerima manfaat.
Kritik Serupa dari Warga Lain
Irna, seorang warga Kecamatan Pulau Besar, juga menyampaikan kritik terhadap komposisi menu kering yang diberikan kepada anak usia sekolah menengah atas. Meskipun paket makanan memiliki variasi seperti keripik tempe dan telur, ia merasa standar kecukupan gizi untuk mendukung produktivitas siswa tetap perlu ditinjau ulang secara transparan.
Tanggapan dari Dinas Kesehatan
Menanggapi gejolak di masyarakat, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan mulai melakukan langkah-langkah peninjauan serius. Kepala Dinas Kesehatan Bangka Selatan, dr Agus Pranawa, mengonfirmasi bahwa meski menu telah mengacu pada rekomendasi ahli gizi, terdapat celah dalam teknis pemberian di lapangan.
Agus Pranawa menjelaskan bahwa meskipun menunya sesuai dengan rekomendasi ahli gizi, masih ada beberapa menu yang berada di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG). Penyajian makanan yang monoton tanpa kuah atau sayur dinilai menyulitkan peserta didik tingkat PAUD hingga sekolah dasar untuk mengonsumsi paket nutrisi tersebut.
Masalah Pemberian Protein Nabati
Pihak dinas secara khusus menyoroti kekeliruan pemberian protein nabati berupa kacang-kacangan keras untuk balita yang secara fisik belum mampu mengonsumsinya. Agus Pranawa menegaskan bahwa meskipun secara gizi benar dan mengandung protein, pemberian tersebut salah karena tidak sesuai dengan usia anak.
Peringatan Terkait Kualitas Pengemasan
Pemerintah daerah juga mewanti-wanti seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menjamin kualitas pengemasan agar tidak ada lagi temuan makanan yang tidak matang atau berjamur. Kejadian makanan tidak layak konsumsi dipandang dapat merusak citra program, terutama dengan adanya pengawasan ketat dari masyarakat melalui media sosial saat ini.
Komitmen Dinas Kesehatan
Dinkes Bangka Selatan menyatakan komitmennya untuk mendampingi SPPG dalam menyusun komposisi menu yang tetap bergizi di tengah fluktuasi harga bahan pangan pokok. Komunikasi terbuka antara pengelola program dengan ahli gizi di setiap puskesmas diharapkan menjadi solusi agar kejadian salah sasaran menu tidak terulang kembali.
Setiap SPPG jangan takut berdiskusi dengan kami terkait menu program MBG, ujar Agus Pranawa.







