Pulau Semau, Kecantikan yang Tertunda
Pulau Semau, yang terletak di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, tampak menarik dengan lalu lintas perahu nelayan di selat antara pulau itu dan Pelabuhan Tenau Kupang. Siapa sangka bahwa pulau yang hanya dilihat kapal-kapal meninggalkan Kota Kupang ini ternyata menyimpan begitu banyak potensi.
Wajah pulau itu tertinggal nyaris dalam segala hal, luput dari perhatian kepala daerah yang berganti-ganti di sana. Padahal, Semau punya segudang potensi yang patut dikembangkan. Setelah sekitar 15 menit menyeberangi selat dengan perahu yang ditumpangi, tiba di pesisir utara Pulau Semau, tepatnya di Desa Hansisi.
Tidak ada tambatan perahu di sana. Perahu merapat ke talut penahan air laut. Dengan bantuan tali, penumpang melompat dari perahu ke sisi talut, lalu merangkak ke permukaan talut setinggi hampir 6 meter. Di seberang talut, sebuah mobil jemputan siap menyambut. Mobil itu diangkut dengan feri dari Kota Kupang.
Pelabuhan feri tak jauh dari Hansisi yang beroperasi sekali setiap hari, tetapi belakangan beroperasi sampai dua kali pergi dan pulang setiap akhir pekan. “Sekitar lima tahun lalu, hanya satu atau dua kali per minggu,” ucap Naldo (43), warga yang ditemui di Hansisi.
Saatnya menyusuri pulau itu. Suara gemeretak roda mobil melindas jalanan tanah berbatu, nyaris tanpa sepotong aspal pun. Debu jalanan beterbangan. Kaca mobil wajib ditutup. Untuk mobil dengan kolong pendek, kecepatannya diatur perlahan jika tak ingin bodi mobil dihajar batu-batu kecil. Jalan aspal termasuk yang sudah terkelupas sepanjang 18,5 kilometer, jalan berbatu 85 km, dan jalan tanah 24 km.
Di pinggir jalan, rumah warga berdiri berjauhan. Semau, pulau seluas lebih dari 246 km persegi itu, dihuni sekitar 13.000 jiwa. Artinya, setiap 1 km persegi terdapat 52 jiwa di sana. Pulau Semau terdiri atas dua kecamatan, yakni Semau dan Semau Selatan. Total ada 16 desa. Di Kota Kupang, kepadatan penduduk mencapai 2.388 orang per km persegi.
Uniknya, setiap rumah warga dikelilingi pagar yang terbuat dari batu. Warga menyusun batu setinggi pinggang orang dewasa, lebih dari 1,2 meter. Selain sebagai penanda batas lahan, pagar batu juga menjadi pelindung tanaman di halaman dari jangkauan ternak. Maklum, di pulau itu masih banyak ternak milik warga yang berkeliaran.
Di jalanan itu, warga memikul air di jeriken dan ember dari sumur. Seperti daerah lain di NTT, Pulau Semau juga dilanda kekeringan lebih dari enam bulan setiap tahun. Warga hanya mengandalkan sumur gali dan sumur bor. Namun, debit air tak bisa bertahan lama. Pulau karang dengan rongga di bawahnya membuat air cepat meresap.
Ini hanyalah sekilas gambaran ironis kondisi Pulau Semau yang hanya sejengkal jaraknya dari Kota Kupang. “Dari dulu, Pulau Semau selalu mendapat banyak stigma buruk. Pulau ini dilupakan dari dulu. Sekarang baru mulai berubah,” kata Carles (58), tokoh masyarakat Pulau Semau.
Perubahan yang dimaksudkan Carles adalah serangkaian proyek infrastruktur berupa pembangunan jalan, pembangunan lembaga pendidikan, dan penataan lokasi pariwisata. “Salah satunya bangunan ini,” katanya merujuk pada bangunan Sekolah Luar Biasa Negeri Semau. Ia menjadi kepala sekolahnya.
Potensi Semau
Semau menjadi daerah penyumbang ikan untuk Kota Kupang. Ikan dari Semau dominan kerapu, kakap, dan ikan karang lain. Coba saja ke warung ikan bakar di sisi jalan ataupun restoran, pemiliknya akan menceritakan itu. Setiap hari, nelayan Semau mengirim ikan ke Kupang. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam satu tahun, produksi ikan dari Pulau Semau mencapai lebih dari 700 ton.
“Harganya lumayan murah. Kerapu per kilo hanya Rp 10.000,” kata Mersi Ndu Ufi (43), penjual ikan bakar di Maulafa. Sayang, banyak nelayan Semau belum mendapat bantuan pemerintah. Mereka masih mengandalkan perahu motor dayung. Jika gelombang tinggi, mereka tak bisa melaut lebih jauh. Perahu tanpa motor 69 unit, ketinting 76 unit, sedangkan kapal motor di bawah 10 gros ton ada 12 unit.
Di darat, Semau juga menyumbang sapi. Banyak sapi yang dikirim dari NTT ke Pulau Jawa berasal dari Semau. Namun, setiap musim kemarau seperti saat ini, peternak kesulitan pakan. Tak ada lagi rumput hijau. Air pun mengering. Banyak sapi kurus dan mati. “Peternakan masih jalan sendiri,” kata Carles. Ternak di pulau itu, pada tahun 2019 terdiri dari 1.948 sapi, 7.140 kambing, dan 11.551 babi.
Potensi lain yang kini mulai dikelola adalah pariwisata. Pantai Liman dan Pantai Otan menjadi destinasi wisata yang mulai digarap Pemerintah Provinsi NTT. Sajian pasir putih dan sensasi matahari terbenam menjadi jualan bagi wisatawan yang tak kalah indah dari daerah lain. Sejumlah kegiatan pemerintah mulai digelar di sana dengan tujuan mengenalkan daerah itu.
Akhir Agustus lalu, Pemprov NTT menggelar acara pengukuhan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah di Pulau Semau. Acara itu dihadiri para kepala daerah dan sekretaris daerah dari semua kabupaten/kota di NTT. Di sana juga dilaksanakan lomba memancing yang diikuti puluhan orang.
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat berjanji akan memajukan Pulau Semau. Jalanan aspal mulai dibangun di beberapa ruas jalan. Menara jaringan telekomunikasi juga mulai menjangkau pelosok pulau. Frekuensi pelayanan feri akan ditambah. Kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah juga mulai diwadahi Bank NTT. Beberapa produk mereka, seperti gula merah, juga sudah masuk ke galeri Dewan Kerajinan Nasional Daerah NTT di Kota Kupang. Potensi wisata mulai dipromosikan pemerintah lewat berbagai kanal.







