Penjelasan Pemilik Big Travel Soal Hadiah Umroh yang Belum Terealisasi
Pemilik Big Travel Cabang Purwokerto, Lina Diah Novitasari, memberikan penjelasan terkait hadiah umroh yang diberikan kepada pemenang acara jalan sehat dalam rangka perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia di Kabupaten Banyumas. Menurutnya, saat ini hadiah tersebut belum terealisasi karena pihak travel hanya berperan sebagai biro yang ditunjuk oleh panitia, bukan sebagai pemberi hadiah.
Lina mengungkapkan bahwa awalnya panitia acara jalan sehat datang ke kantornya dan bertemu dengan suaminya, Daryanto. Mereka meminta bantuan dana untuk penyelenggaraan acara yang digelar di Menara Teratai, Purwokerto. Saat itu, panitia menawarkan kerja sama dengan alasan adanya hadiah umroh yang akan diberikan kepada pemenang, dan pemenang tersebut akan diberangkatkan lewat Big Travel.
Namun, Lina awalnya menolak rencana kerja sama tersebut. Ia merasa bahwa kegiatan berskala besar dengan membawa nama pemerintah daerah (Pemkab) seharusnya memiliki pendanaan yang jelas, bukan justru meminjam uang untuk operasional awal seperti pencetakan tiket.
Setelah melalui diskusi internal, suaminya akhirnya setuju membantu dengan alasan ingin melakukan branding Big Travel melalui acara tersebut. Pinjaman dana pun diberikan secara bertahap kepada panitia. Menurut Lina, seluruh transaksi memiliki bukti dan ditandatangani oleh pihak panitia jalan sehat HUT ke-80 RI atas nama Dimas dan Sena.
Total pinjaman dari Biro Big Travel yang diberikan mencapai Rp70 juta untuk operasional awal, dengan alasan untuk pencetakan tiket. Selain itu, Big Travel juga diminta membantu berbagai pengadaan seperti kaos dan tas hoodie. Lina menjelaskan bahwa mereka diminta bantu cetak kaos sebesar Rp20 juta, lalu tas hoodie sebesar Rp2 juta 80 ribu. Big Travel mengeluarkan dana untuk itu semua. Bahkan untuk tenda booth, pihaknya juga bayar sendiri sebesar Rp3,5 juta.
Pada malam sebelum acara, Lina datang ke lokasi untuk mengecek kesiapan. Ia melihat mobil Honda Brio dan sepeda motor yang dipajang sebagai hadiah utama, sehingga merasa acara tersebut aman. Keesokan paginya, Lina diminta datang ke Menara Teratai karena Sekda Banyumas dijadwalkan hadir ke stand Big Travel.
Saat itu, pemenang hadiah umroh adalah seorang warga Desa Keniten bernama Noviyanti. Pemenang kemudian datang ke lokasi untuk berfoto di booth Big Travel. Namun pada malam harinya, Noviyanti menghubungi Lina dan menyatakan ingin membatalkan hadiah umroh serta menanyakan kemungkinan hadiah tersebut diuangkan.
Lina menjelaskan bahwa tidak bisa memberikan hadiah tersebut karena hanya memfasilitasi keberangkatan. Yang memberikan hadiah itu panitia, bukan pihak Big Travel. Menurutnya, panitia bahkan belum memberikan dana satu rupiah pun kepada Big Travel untuk keberangkatan pemenang.
Panitia sempat menyarankan agar pemenang mencari pengganti dari kerabat, di mana pengganti tersebut nantinya membayar sejumlah uang kepada pemenang, yaitu Noviyanti. Namun hingga kini, tidak ada kejelasan dari panitia.
Rencana awal, pemenang akan diberangkatkan pada keberangkatan tanggal 7 Januari 2026. Namun hingga waktu tersebut, dana dari panitia tetap tidak ada. Lina menegaskan bahwa satu rupiah pun belum masuk ke Big Travel terkait pemenang itu.
Terkait komunikasi dengan pemenang, Lina mengatakan bahwa Noviyanti sempat datang ke kantor bersama saudaranya yang siap menjadi pengganti. Namun, pemenang tetap mengejar panitia, bukan pihak travel, karena memahami posisi Big Travel hanya sebagai penyedia jasa.
Selama persiapan acara, pihaknya banyak membantu panitia, termasuk menyediakan tempat untuk rapat dan konsumsi, tanpa perhitungan biaya. Lina mengaku percaya pada acara tersebut karena menggunakan logo pemerintah daerah dan pejabat.
Selain pinjaman Rp70 juta, pihaknya juga mengeluarkan dana Rp15 juta sebagai uang muka (DP) mobil hadiah. Total pinjaman tersebut disertai perjanjian pengembalian satu minggu setelah acara. Namun hingga kini, uang tersebut belum dikembalikan.
Lina mengaku sudah berkonsultasi terkait langkah hukum, meski sebelumnya masih mencoba menyelesaikan secara kekeluargaan. Ia menyebut bahwa awalnya mereka tahan dulu karena mau diselesaikan kekeluargaan. Katanya sedang diusahakan, bahkan sampai mau jual tanah.
Dalam pembicaraan awal, panitia hanya menganggarkan biaya umroh sekitar Rp25 – 30 juta. Panitia bilang anggarannya Rp25 juta sampai maksimal Rp30 juta.







