Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Menteri Luar Negeri Iran: Kami Bangsa Berpengalaman dalam Perang

    12 Februari 2026

    Orang Tanpa Internet Punya 8 Kekuatan Mental yang Sulit Dibentuk Sekarang, Menurut Psikologi

    12 Februari 2026

    Gambar 2 Dimensi: Soal Seni Budaya Kelas 4 SD

    12 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Kamis, 12 Februari 2026
    Trending
    • Menteri Luar Negeri Iran: Kami Bangsa Berpengalaman dalam Perang
    • Orang Tanpa Internet Punya 8 Kekuatan Mental yang Sulit Dibentuk Sekarang, Menurut Psikologi
    • Gambar 2 Dimensi: Soal Seni Budaya Kelas 4 SD
    • Estimasi Biaya Pasang Listrik Baru Februari 2026 Mulai 450 VA hingga 3.500 VA
    • Afriansyah Noor Akui Pertemuan dengan Jokowi Hanya Spontanitas
    • 22 Siswa Jateng Terpapar Radikalisme, Ini Penjelasan Densus 88
    • Ketika Teknologi BYD Bukan Sekadar Cerita, Tapi Bukti: Menelusuri Perkembangan Teknologi BYD
    • Persija Kalah dari Arema FC: Jakmania Kritik Transfer dan Strategi Pelatih
    • Promo Indomaret Hari Ini: Cadbury Rp12.500, Minyak Goreng Tropical Rp40.900
    • Masih Bingung Memilih Jasa Kebersihan? Coba Kenali 8 Karakteristik Unikmu!
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Pendidikan»22 Siswa Jateng Terpapar Radikalisme, Ini Penjelasan Densus 88

    22 Siswa Jateng Terpapar Radikalisme, Ini Penjelasan Densus 88

    adm_imradm_imr12 Februari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



    Semarang – Sebanyak 22 anak sekolah di Jawa Tengah (Jateng) teridentifikasi terpapar paham intoleransi dan radikalisme. Hal ini diungkap oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri sebagai bagian dari upaya deteksi dini penyebaran paham radikal di kalangan pelajar.

    Kompol Lugito Gopar, Kanit Idensos Satgas Wilayah Jawa Tengah Densus 88 Mabes Polri, menyebut bahwa puluhan anak tersebut telah mendapatkan pembinaan bersama aparat kewilayahan. Ia menjelaskan bahwa kegiatan pembinaan dilakukan di berbagai daerah, seperti Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kota Semarang, Magelang, Kota Surakarta, Jepara hingga Kudus.

    Menurut Kompol Gopar, sebagian besar paparan paham intoleransi dan radikalisme berasal dari media sosial. Anak-anak tersebut terhubung dengan konten maupun grup yang mengarah pada kekerasan. “Rata-rata terpengaruh dari media sosial. Dari grup-grup kekerasan, kemudian mereka ikut dalam grup-grup ISIS Daulah,” ujarnya.

    Selama ini, proses pembinaan dilakukan dengan melibatkan peran orang tua, sementara pihak sekolah belum dilibatkan secara langsung. Namun, ke depan, pola penanganan tersebut direncanakan berubah. Densus 88 akan memperkuat pencegahan melalui sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah bersama pemerintah daerah.

    “Dengan adanya kegiatan ini, mudah-mudahan ke depan bisa kita lakukan sosialisasi bersama Dinas Pendidikan dan Kesbangpol ke sekolah-sekolah,” kata Kompol Gopar.

    Terkait konten kekerasan di ruang digital, Kompol Gopar mengakui akses terhadap konten tersebut masih relatif terbuka. Karena itu, langkah pencegahan terus diperkuat. “Masih, makanya ini kami berupaya supaya mencegah. Jangan sampai kejadian seperti di Jakarta atau kemarin di Kalimantan Barat terjadi di sini,” katanya.

    M Agung Hikmati, Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan, dan Karakter Bangsa Badan Kesbangpol Jawa Tengah, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pencegahan sejak dini. “Kalau bicara Densus itu bukan soal penindakan semata. Ada sisi pencegahan, dan ini bagian dari upaya cegah radikalisme dan terorisme,” ujarnya.

    Agung menyebut keterpaparan paham ekstrem di kalangan remaja menunjukkan tren yang perlu direspons cepat. Karena itu, Pemprov Jawa Tengah bergerak bersama Dinas Pendidikan dan Densus 88 untuk memperkuat benteng ideologi kebangsaan di sekolah. “Keterpaparan di anak-anak remaja itu sudah mulai meningkat. Kami harus ambil langkah cepat,” katanya.

    Kegiatan Meet and Greet Densus menjadi langkah awal yang sengaja dikemas dengan pendekatan kekinian agar lebih dekat dengan dunia remaja dan tidak menimbulkan rasa takut. “Kalau dengar Densus, anak-anak sering kali punya persepsi macam-macam. Makanya kita bikin kegiatan yang ramah dan dialogis,” ujar Agung.

    Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Kusno menyambut baik kolaborasi lintas sektor tersebut. Menurutnya, isu intoleransi dan radikalisme merupakan tantangan serius di dunia pendidikan. “Ini program yang sangat penting. Kami berkepentingan untuk memfasilitasi, karena bahaya radikalisme dan terorisme tidak boleh dianggap sepele,” katanya.

    SMAN 6 Semarang dipilih sebagai titik awal pelaksanaan program di Kota Semarang sebelum diperluas ke daerah lain di Jawa Tengah. “Ini menjadi titik awal. Dari sini nanti kita bergerak ke kabupaten dan kota lain,” ujarnya.

    Tahap lanjutan telah disiapkan dengan menyasar enam kabupaten/kota terlebih dahulu sebelum program diperluas secara bertahap. “Target akhirnya memang semua sekolah, tapi sistemnya diseminasi. Tidak harus mendatangi satu per satu,” kata Kusno.

    Kepala SMAN 6 Semarang Yuwana mengaku bersyukur sekolahnya dipercaya menjadi proyek percontohan. Ia menilai pendidikan toleransi menjadi bekal penting bagi siswa sebagai calon pemimpin bangsa. “Mudah-mudahan mereka kelak bisa mengisi kepemimpinan tanpa adanya intoleransi, radikalisme, dan terorisme,” ujarnya.

    Kegiatan ini juga melibatkan media daring bacaaja.co. Chief Operating Officer bacaaja.co, Puji Utami, menyebut upaya pencegahan radikalisme pada pelajar merupakan tanggung jawab bersama. “Kami ingin anak-anak tidak tersangkut kekerasan, intoleransi, dan sejenisnya. SMAN 6 ini menjadi pilot project,” katanya.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Inklusivitas dan Kesejahteraan Psikologis di Sekolah Aman dan Nyaman

    By adm_imr11 Februari 20260 Views

    Kunci Jawaban IPAS Kelas 6 Halaman 77, Ayo Mengamati

    By adm_imr11 Februari 20260 Views

    Persyaratan Beasiswa BRIN 2026 untuk Program Doktoral di Universitas …

    By adm_imr11 Februari 20262 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Menteri Luar Negeri Iran: Kami Bangsa Berpengalaman dalam Perang

    12 Februari 2026

    Orang Tanpa Internet Punya 8 Kekuatan Mental yang Sulit Dibentuk Sekarang, Menurut Psikologi

    12 Februari 2026

    Gambar 2 Dimensi: Soal Seni Budaya Kelas 4 SD

    12 Februari 2026

    Estimasi Biaya Pasang Listrik Baru Februari 2026 Mulai 450 VA hingga 3.500 VA

    12 Februari 2026
    Berita Populer

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    Kabupaten Malang 6 Februari 2026

    Kabupaten Malang– Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang menggeledah Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten…

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026

    Kabar Transfer: AC Milan Beralih dari Vlahovic ke Striker Nomor 9

    9 Februari 2026

    Unduh Jadwal Imsakiyah Ramadan 2026, Lengkap Muhammadiyah dan Kemenag

    8 Februari 2026
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?