Kebiasaan dan Stereotip tentang Pertemanan Sesama Perempuan dan Laki-Laki
Banyak orang memiliki anggapan bahwa pertemanan sesama perempuan sering kali bersifat toksik, penuh drama, dan saling iri. Di sisi lain, pertemanan antar laki-laki dianggap lebih sehat dan stabil. Apakah benar begitu? Anggapan ini sebenarnya hanya melanggengkan perspektif seksis dan stigma gender yang seharusnya kita lawan sebagai manusia yang berpikir dan berkembang. Jika kamu masih mempercayai anggapan tersebut, coba tonton enam film berikut ini untuk mengevaluasi kembali pandanganmu.
1. The Waitress (2007)
The Waitress bisa membuatmu berpikir ulang mengenai argumen bahwa perempuan tidak bisa berteman dengan sesamanya. Dalam film ini, Keri Russell memerankan Jenna, seorang pramusaji restoran pai yang terjebak dalam pernikahan toksik dan sedang menabung untuk bisa bercerai dan pindah jauh dari suaminya. Namun, di tengah rencana itu, ia justru menemukan dirinya hamil dan rencananya kabur ketahuan. Jenna pun terpaksa mengubah rencana. Ia beruntung karena dikelilingi teman-teman kerja yang suportif dan tak menghakiminya. Mayoritas dari mereka adalah perempuan dan tahu betul bagaimana cara berempati.
Genre: Drama, Romcom
Pemain: Keri Russell, Adrienne Shelly
Sutradara: Adrienne Shelly
2. Career Girls (1997)

Annie dan Hannah adalah teman sekamar saat kuliah. Setelah lulus, mereka terpisah dan tak lagi berkontak. Bertahun-tahun kemudian, pada usia 30-an, mereka bertemu lagi. Sama-sama meniti karier di kota besar, mereka pun mengalami evolusi. Kini mereka lebih bijak dan bisa saling berempati terhadap masalah masing-masing. Tidak ada konflik nyata di sini, tipikal film-filmnya Mike Leigh, kita seolah sedang menyelami kehidupan nyata yang seringkali membosankan dan monoton. Namun, pesannya sama, sesama perempuan biasanya punya pengalaman yang kurang lebih sama dan rasa senasib itu jadi kunci koneksi mereka.
Genre: Drama
Pemain: Katrin Cartlidge, Lynda Steadman
Sutradara: Mike Leigh
3. Obsession (2026)

Jika kamu masih percaya bahwa pertemanan sesama perempuan selalu toksik, tonton Obsession, deh. Film yang sempat viral itu berkisah tentang empat muda-mudi dalam satu sirkel pertemanan. Dari luar mereka tampak rukun dan asyik, tetapi diam-diam toksik. Ada yang diam-diam naksir, tetapi tak berani menyampaikan perasaannya hingga berubah jadi predator yang memanfaatkan keadaan. Di sisi lain, ada juga yang menikung dari belakang. Setelah nonton film ini, seharusnya sih kita tak lagi terjebak dalam stigma gender yang salah, ya.
Genre: Horor-psikologi, Thriller
Pemain: Michael Johnston, Inde Navarrette
Sutradara: Curry Barker
4. Nightwatch (1994)

Protagonis film Denmark ini adalah Martin, mahasiswa hukum yang mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai penjaga kamar jenazah di sebuah rumah sakit. Sejak mengambil pekerjaan itu, ia sering mengalami gangguan dan puncaknya difitnah melakukan sebuah kejahatan sadis. Menariknya, film ini bikin kita menebak-nebak siapa sebenarnya antagonis sejati yang perlu diwaspadai. Jens, sahabat laki-laki Martin, jadi salah satu yang sering dicurigai. Relasinya dengan Martin cukup kompleks dan termasuk toksik. Ia sering mendorong Martin melakukan tantangan-tantangan yang melawan kompas moralnya. Mereka juga gemar bergosip dengan nada misoginis.
Genre: Noir, Komedi
Pemain: Nikolaj Coster-Waldau, Kim Bodnia
Sutradara: Ole Bornedal
5. Mikey and Nicky (1976)

Pertemanan toksik yang melibatkan lelaki juga bisa kamu temukan dalam film klasik Mikey and Nicky. Sinema ini menyelami maskulinitas toksik lewat persahabatan dua lakonnya. Setelah mencuri dari geng kriminal, Nicky menelepon teman dekatnya, Mikey untuk minta perlindungan. Mikey berusaha maksimal mengakomodasi kebutuhan Nicky saat itu. Namun, Nicky ternyata mencurigai temannya tak benar-benar berada di pihaknya. Jadilah tarik ulur dua sobat karib ini berlanjut. Kita juga diajak melihat bagaimana kegelisahan dan ego keduanya merusak kehidupan personal mereka.
Genre: Noir
Pemain: John Cassavetes, Peter Falk
Sutradara: John Cassavetes
6. Me Without You (2001)

Tidak semua pertemanan antarperempuan itu sehat juga, kok. Dalam Me Without You, kamu akan meneropong persahabatan toksik Holly dan Marina yang sudah bergulir selama beberapa dekade. Kenal sejak kecil, mereka ternyata terindikasi mengalami kodependensi. Holly butuh Marina yang lebih asertif dan ekstrover untuk mengimbangi kepribadiannya yang introver dan pendiam. Marina butuh Holly sebagai pendengar dan suporter terbaiknya. Namun, lama kelamaan kodependensi ini berubah fatal. Terutama saat Marina mulai menyabotase kehidupan Holly dan membuatnya terus berada di bawah bayang-bayangnya.
Genre: Tragikomedi, Drama
Pemain: Michelle Williams, Anna Friel
Sutradara: Sandra Goldbacher
Harapannya dengan menonton keenam film tentang persahabatan tadi, kamu tak lagi melihat pertemanan dari stigma gender. Tidak semua pertemanan perempuan toksik dan tidak semua pertemanan antarlelaki sehat seperti yang dipercaya sebagian orang. Pertemanan yang melibatkan dua gender sekaligus pun bisa pula mengalami masalah. Intinya, ini soal kepribadian masing-masing individu dan cara mereka berinteraksi dengan orang lain dalam sirkel mereka. Setuju?







