Sejarah dan Perkembangan Kota Batu
Kota Batu, yang terletak di Provinsi Jawa Timur, memiliki sejarah panjang yang berawal dari abad ke-10. Pada masa itu, kawasan ini dikenal sebagai tempat peristirahatan keluarga Kerajaan Medang. Menurut cerita yang beredar, Raja Mpu Sindok memerintahkan Mpu Supo untuk membangun tempat peristirahatan di kawasan pegunungan dekat sumber mata air. Setelah melakukan pencarian, Mpu Supo menemukan lokasi yang kini dikenal sebagai Songgoriti. Di sana dibangun sebuah candi yang dinamakan Candi Supo.
Mata air di sekitar kawasan tersebut awalnya dingin dan sejuk seperti mata air pegunungan. Dalam legenda masyarakat, mata air ini sering digunakan untuk mencuci keris pusaka kerajaan. Aktivitas tersebut dipercaya membuat sumber air yang semula dingin berubah menjadi panas. Hingga kini, sumber air panas Songgoriti masih menjadi daya tarik wisata utama di Kota Batu.
Asal Usul Nama “Batu”
Selain sejarah kerajaan, asal usul nama “Batu” juga memiliki kisah tersendiri. Berdasarkan buku Asal-usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM, nama Batu dikaitkan dengan seorang ulama bernama Abu Ghonaim, yang juga dikenal sebagai Kiai Gubug Angin atau Mbah Wastu. Ia adalah pengikut Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa 1825–1830. Setelah perang berakhir, ia menetap dan membuka hutan di lereng Gunung Panderman. Melalui dakwahnya, masyarakat yang sebelumnya terpecah dalam berbagai komunitas mulai menyatu.
Dalam tradisi lisan masyarakat Jawa, nama Mbah Wastu kemudian disingkat menjadi Mbah Tu, Mbatu, hingga akhirnya dikenal sebagai Batu.
Keindahan Alam dan Julukan “Swiss Kecil”
Secara geografis, Kota Batu berada di dataran tinggi dengan suhu udara yang cenderung dingin. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di bagian utara, serta Kabupaten Malang di sisi barat, selatan, dan timur. Kota ini juga dikelilingi tiga gunung yang telah dikenal luas, yaitu Gunung Arjuna, Gunung Welirang, dan Gunung Panderman.
Pada awal abad ke-19, banyak warga Belanda membangun rumah peristirahatan di kawasan ini. Arsitektur khas Eropa masih dapat dijumpai hingga kini. Keindahan alam dan hawa sejuknya membuat Belanda menjuluki Kota Batu sebagai “De Klein Switzerland” atau Swiss Kecil di Pulau Jawa.
Perkembangan Administratif Kota Batu
Dalam perkembangannya, Batu dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Malang. Pada 6 Maret 1993, Batu ditetapkan sebagai kota administratif. Selanjutnya, pada 17 Oktober 2001, Batu resmi menjadi kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.
Kini, Kota Batu yang juga dikenal sebagai Kota Apel terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan di Jawa Timur. Beragam objek wisata, mulai dari taman rekreasi, desa wisata, hingga museum, menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menikmati pesona alam pegunungan sekaligus jejak sejarah panjang kota ini.







