Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit di Lebak Bulus
PT MRT Jakarta (Perseroda) saat ini sedang menyiapkan pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menghidupkan kembali kawasan Point Square yang dalam beberapa tahun terakhir kehilangan geliatnya.
Sagita Devi, Kepala Departemen Perencanaan TOD MRT Jakarta, menjelaskan bahwa dari sembilan kawasan TOD yang direncanakan, lima di antaranya telah memiliki dasar hukum dan regulasi untuk dikembangkan, salah satunya adalah Lebak Bulus. MRT Jakarta akan mengoptimalkan kembali kawasan bekas Terminal Lebak Bulus dan lahan parkir.
“Nantinya mungkin juga pengembangan terminal di Lebak Bulus karena dulu ada terminal sekarang tidak,” ujar Sagita dalam acara bertajuk “Pedestrian Deck Dukuh Atas: Menghubungkan Kawasan, Menggerakkan Kota” di Jakarta, Kamis (30/7).
Area parkir resmi MRT Lebak Bulus masih tergolong jauh dari stasiun. Namun, Sagita menyatakan bahwa fasilitas parkir di kawasan Lebak Bulus tetap akan dipertahankan karena lahannya merupakan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam rencana pengembangan jangka panjang MRT Jakarta, kawasan tersebut akan ditata sebagai bagian dari kawasan berorientasi transit (TOD).
Ia menyebut area parkir nantinya akan diintegrasikan dengan terminal, gedung parkir bertingkat, dan juga pengembangan hunian di atasnya. Selain itu, kawasan tersebut juga direncanakan terhubung langsung dengan Stasiun MRT Lebak Bulus dan akan dibangun skybridge.
Sagita menambahkan bahwa perencanaan tersebut sudah masuk dalam rencana Dinas Bina Marga. “Jadi untuk saat ini kami masih melakukan pengembangan masa transisi dulu, karena kan kita masih ada perjanjian sewa sampai 2029-2030 kalau enggak salah, baru kami akan mulai pengembangan ultimate-nya,” ia menjelaskan.
Revitalisasi Parkir Komunal di Sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus
MRT Jakarta juga tengah merevitalisasi kawasan parkir komunal di sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus yang sebelumnya berfungsi sebagai area park and ride, namun dinilai belum dimanfaatkan optimal dan kurang terawat.
Sagita mengatakan bahwa MRT akan bekerja sama dengan operator parkir. Dalam penataan itu, MRT Jakarta tetap menyediakan fasilitas park and ride dengan tarif yang sama bagi pengguna MRT. Selain itu, perseroan juga menerapkan tarif parkir progresif bagi kendaraan non-pengguna MRT yang memanfaatkan area tersebut.
Sagita menjelaskan, skema tarif progresif diterapkan sebagai bentuk subsidi silang untuk mendukung biaya operasional dan pemeliharaan kawasan parkir ke depan. “Nanti seiring berjalannya waktu, sebetulnya di lahan park and ride Lebak Bulus ini juga, untuk rencana ultimate-nya, akan kita lakukan pengembangan TOD ke depan,” ujarnya.
Mendorong Bisnis dan Membuka Keran Investasi
Sejalan dengan itu, pengamat transportasi Universitas Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menilai pengembangan TOD di Stasiun MRT Lebak Bulus akan mengubah kawasan tersebut dari sekadar titik transit menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jakarta Selatan.
Menurutnya, pengembangan ini juga berpotensi meningkatkan nilai lahan dan harga properti. Khususnya bangunan komersial maupun hunian yang berada dalam radius 400–800 meter dari stasiun.
“Reorientasi fungsi lahan, bangunan tua atau pusat perbelanjaan konvensional di sekitarnya terdorong untuk melakukan repositioning dan revitalisasi fungsi menjadi kawasan pemanfaatan campuran,” kata Djoko.
Selain itu, ia juga mengatakan rencana tersebut akan mendorong aktivitas bisnis & ritel. Misalnya kenaikan foot traffic, ribuan pengunjung harian yang keluar-masuk stasiun menjadi basis konsumen langsung bagi tenant ritel, restoran, dan jasa.
Djoko juga menyoroti revitalisasi pusat perbelanjaan. Lalu pusat kegiatan seperti Poins Square bertransformasi dari mal konvensional menjadi transit hub yang menyediakan area F&B, fasilitas publik, coworking space, hingga fasilitas park and ride.
Strategi Lebak Bulus Jadi Pusat Keramaian
Djoko menilai Lebak Bulus berpotensi untuk berkembang menjadi pusat keramaian yang setara dengan Sudirman maupun Blok M karena posisinya sebagai gerbang utama Jakarta Selatan atau southern gateway.
Ia mengatakan pengembangan itu dengan mengoptimalkan fasilitas park and ride berkapasitas besar hingga memperkuat integrasi dengan moda transportasi pengumpan seperti Transjakarta dan angkutan umum. Menurutnya, kawasan tersebut menjadi titik temu utama para komuter dari Tangerang Selatan dan Depok.
Selain itu, Djoko juga menyoroti pentingnya konsep mixed-use yang memadukan hunian, perkantoran, fasilitas publik, ruang komersial, area kreatif, hingga pusat kuliner malam.
Menurutnya, suksesnya pengembangan kawasan juga tergantung dari kenaikan kualitas infrastruktur pejalan kaki, seperti covered walkway dan skybridge, agar masyarakat dapat berjalan kaki dengan aman dan nyaman hingga radius sekitar 800 meter dari stasiun.
“Lalu menyediakan transit plaza dan ruang terbuka hijau tempat berinteraksi warga. Ruang publik yang ramah pejalan kaki terbukti menjadi magnet keramaian anak muda dan komunitas di Blok M maupun kawasan Sudirman,” ujar Djoko.







