Desakan Empat Tokoh Nasional untuk Indonesia Keluar dari Board of Peace (BoP)
Sejumlah tokoh nasional di Indonesia menyerukan agar negara ini segera keluar dari Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Mereka menganggap partisipasi Indonesia dalam BoP dapat merusak prinsip politik luar negeri bebas aktif yang diamanatkan dalam konstitusi. Selain itu, mereka juga khawatir bahwa keberadaan BoP justru memperkuat posisi Israel dan tidak efektif dalam menyelesaikan konflik global.
Alasan-alasan Indonesia Keluar dari BoP
TB Hasanuddin, anggota Komisi I DPR RI, menyampaikan lima alasan utama mengapa Indonesia perlu meninggalkan BoP. Pertama, partisipasi Indonesia dinilai bertentangan dengan prinsip bebas aktif yang tercantum dalam UUD 1945. Kedua, pemerintah dianggap tidak menunjukkan sikap tegas dalam mengutuk invasi AS-Israel terhadap Iran. Ketiga, posisi yang tidak netral dan konsisten bisa memperburuk persepsi rakyat Palestina terhadap Indonesia. Keempat, alokasi anggaran untuk partisipasi TNI dalam pasukan ISF BoP berpotensi memberatkan fiskal negara. Kelima, Indonesia berisiko terjebak dalam konflik geopolitik Timur Tengah yang tidak menguntungkan.
Selain TB Hasanuddin, Ketua MUI Anwar Iskandar juga turut mendesak Indonesia segera menarik diri dari BoP. Dalam keterangan resmi MUI, ia mempertanyakan niat AS dalam membentuk badan perdamaian tersebut. Ia menilai BoP justru melegitimasi tindakan Israel di Gaza dan tidak efektif dalam menyelesaikan konflik. Anwar menegaskan bahwa desakan ini bukan untuk menggurui pemerintah, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap stabilitas regional.
Pandangan Prof. Connie Bakrie
Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Guru Besar Hubungan Internasional di Universitas Negeri Saint Petersburg, Rusia, juga menyarankan evaluasi posisi strategis Indonesia. Ia menilai momentum ketegangan kawasan dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengevaluasi perannya. Menurutnya, dinamika terbaru telah menggeser semangat awal pembentukan forum tersebut. Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi politik luar negeri bebas aktif dan non-blok agar memiliki ruang manuver diplomasi yang lebih fleksibel.
Pandangan Hikmahanto Juwana
Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional di Universitas Indonesia, menilai BoP tidak berjalan sesuai tujuannya. Ia menyatakan bahwa forum ini justru kontraproduktif karena digunakan untuk melegitimasi tindakan Israel di Gaza. Meskipun dalam aturan pendiriannya BoP dijanjikan sebagai solusi atas konflik global, nyatanya tidak efektif. Oleh karena itu, ia menyarankan pemerintah Indonesia untuk segera keluar dari BoP dan fokus pada kerja sama di bawah PBB.
Profil Tokoh-tokoh yang Mendesak Indonesia Keluar dari BoP
1. TB Hasanuddin
TB Hasanuddin lahir di Majalengka, Jawa Barat, pada 8 September 1952. Ia adalah mantan TNI yang kemudian terjun ke dunia politik. Setelah pensiun dari militer, ia bergabung dengan Partai PDI Perjuangan dan duduk sebagai anggota DPR RI. Karier politiknya mencakup berbagai jabatan, termasuk Wakil Ketua Komisi I DPR RI. Ia juga pernah mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat namun gagal.
2. Ketua Umum MUI Anwar Iskandar
Anwar Iskandar lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 24 April 1950. Ia adalah putra dari KH Iskandar, pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ulum. Sejak muda, Anwar aktif dalam organisasi keislaman seperti PMII dan NU. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Rais Aam PBNU dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Umum MUI.
3. Hikmahanto Juwana
Hikmahanto Juwana lahir pada 23 November 1965. Ia adalah akademikus dan pakar hukum internasional terkemuka di Indonesia. Selain menjadi Guru Besar di Fakultas Hukum UI, ia pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani. Ia dikenal sebagai ahli hukum internasional yang sering memberikan pandangan tentang isu-isu global.
4. Connie Rahakundini Bakrie
Connie Rahakundini Bakrie lahir pada 3 November 1964. Ia adalah Guru Besar Hubungan Internasional di Universitas Negeri Saint Petersburg, Rusia, sekaligus Ambassador of Science and Education of Russia. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman profesional yang luas, ia dikenal sebagai ahli hubungan internasional dan pertahanan, khususnya dalam bidang maritim dan dirgantara.







