Pentingnya Deteksi Dini Bercak di Cuping Telinga sebagai Gejala Kusta
Pada suatu siang di pertengahan 2022, TA menyadari adanya perubahan pada wajah dan telinganya. Ia mengira itu hanya alergi atau penyakit kulit biasa. Namun, selama sekitar lima bulan, ia tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Akibatnya, tangan dan kakinya sering merasa kebas. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit, dan dokter menegaskan bahwa ia mengidap kusta.
Kusta atau dikenal sebagai penyakit Hansen adalah infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Menurut WHO, penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, dan mukosa, menyebabkan bercak mati rasa dan kecacatan jika tidak diobati. Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan jumlah kasus kusta terbanyak, setelah India dan Brasil. Pada 2023, prevalensi kusta mencapai 0,71 per 10.000 penduduk.
TA mengaku kaget dan tak percaya karena ia pikir kusta adalah penyakit langka dan tidak ada obatnya. Namun, setelah mendapat penjelasan dari dokter, ia memahami bahwa kesalahpahaman umum di masyarakat menjadi penyebab keterlambatan diagnosis. Bercak pada kulit sering dianggap sebagai panu, alergi, atau infeksi ringan. TA pun mengakui hal yang sama, ia tidak menyadari bahwa bercak tersebut adalah gejala awal kusta.
Belakangan, TA mengetahui bahwa keponakannya sempat terdiagnosis kusta. Kontak erat dalam keluarga diduga menjadi sumber penularan. Selain kurangnya pengetahuan, beban mental juga menjadi sebab lain yang memperberat situasi. Stigma terhadap kusta membuatnya takut dikucilkan.
Akibat keterlambatan tersebut, kondisinya sempat memburuk. TA bahkan tidak bisa berjalan selama beberapa bulan. Kondisi itu berdampak langsung pada pekerjaan sehari-hari yang disibukkan membantu ibunya berjualan di pasar. Saat sakit, ia berhenti total. Kini, setelah menjalani pengobatan rutin selama hampir satu tahun, kondisinya berangsur membaik.
Pengobatan Gratis dan Harapan untuk Sembuh
Solusi yang TA jalani dimulai dari memeriksakan diri ke dokter kulit, kemudian rutin mengambil obat kusta secara gratis di puskesmas setiap bulan. Ia mengaku tidak mengalami kendala selama terapi. Tenaga medis memberikan penanganan dan edukasi yang jelas. Ia pun disiplin minum obat dan menjaga kebersihan.
“Minum obat rutin dari puskesmas, jaga kebersihan, pakai masker. Insyaallah saya yakin tidak akan menular,” ujarnya. Yang membuatnya bertahan adalah keyakinan bahwa kusta bisa disembuhkan. “Saya masih muda, dan saya yakin pasti akan sembuh, saya tetap berdoa dan ikhtiar. Saya percaya sama Tuhan bahwa saya pasti bisa sembuh.”
Kini rasa percaya dirinya mulai pulih. Ia merasa telah diterima kembali oleh lingkungan. Namun ia menegaskan, kesalahpahaman tentang kusta masih perlu diluruskan. Seperti halnya tentang asumsi tak benar bahwa kusta tidak ada obatnya dan tidak bisa disembuhkan.
Tentang Kusta
Dalam wawancara bersama Dokter Spesialis Kulit RSUD Dr. Moewardi Surakarta, Dr. dr. Nur M. Rahmat Mulyanto, M.Sc., Sp.D.V.E., Subsp.D.T., FINSDV, FAADV, menjelaskan, kusta adalah penyakit infeksi kronis yang bisa dijelaskan secara ilmiah, dideteksi secara klinis, dan disembuhkan dengan terapi yang tepat. Kusta atau lepra disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang kulit dan saraf tepi.
Bakteri ini berkembang lambat dan memiliki karakteristik khas, yakni merusak saraf secara perlahan hingga menimbulkan mati rasa. “Inilah yang membedakan kusta dari penyakit kulit lainnya,” jelasnya. Secara klinis, kusta diklasifikasikan menjadi dua tipe utama: paucibacillary (PB) atau kusta kering dan multibacillary (MB) atau kusta basah.
Pasien dengan tipe PB umumnya menjalani terapi selama enam bulan, sementara tipe MB membutuhkan pengobatan minimal dua belas bulan dengan kombinasi antibiotik sesuai standar multidrug therapy (MDT). Secara medis, terdapat tiga tanda kardinal kusta yang menjadi dasar diagnosis: yakni bercak pada kulit yang mati rasa, penebalan saraf tepi, dan ditemukannya kuman melalui pemeriksaan laboratorium.
Penularan: Tidak Semudah yang Dibayangkan
Salah satu kesalahpahaman terbesar di masyarakat adalah anggapan bahwa kusta sangat mudah menular. Faktanya, penularan memerlukan kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum diobati, terutama melalui droplet saluran pernapasan. Kusta tidak menular melalui sentuhan singkat, berjabat tangan, atau interaksi sosial biasa.
Setelah pasien menjalani terapi, risiko penularan menurun drastis. Begitu pengobatan dimulai, daya tularnya cepat menurun. 90 persen tak menular jika minum obat MDT. Jika terlambat ditangani, bakteri dapat merusak saraf sensorik dan motorik. Akibatnya, penderita kehilangan sensasi nyeri sehingga tidak menyadari luka pada tangan atau kaki.
Dukungan dan Kolaborasi Berkelanjutan
Di balik ruang konsultasi dan meja pemeriksaan, ada kerja kolektif yang terus dijalankan para dokter spesialis kulit untuk memastikan kusta tidak lagi menjadi momok sosial. Melalui Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) Cabang Surakarta, upaya edukasi dan deteksi dini dilakukan secara berkelanjutan di wilayah Solo Raya.









