Kehilangan Penglihatan, Veri AFI Berjuang Melawan Depresi
Veri AFI, mantan juara pertama Akademi Fantasi Indosiar (AFI) musim pertama pada tahun 2003–2004, kini tengah menghadapi tantangan hidup yang sangat berat. Ia kehilangan penglihatan di mata kirinya akibat penyakit ablasio retina, yang menyebabkan kerusakan saraf matanya secara permanen. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi fisiknya, tetapi juga memicu depresi mendalam dan menghancurkan mimpi-mimpi yang selama ini ia usahakan.
Sebelumnya, Veri memilih meninggalkan dunia hiburan untuk fokus pada passion-nya sebagai desainer grafis. Ia menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) dan mulai menata hidup barunya sebagai kreator visual saat pandemi. Namun, cobaan datang tanpa diduga ketika ia menderita ablasio retina yang membuat penglihatannya di mata kiri terganggu.
Kondisi ini sangat memukul batin Veri karena ia telah mengorbankan karier panggungnya demi mengejar cita-citanya menjadi desainer grafis. Ia bahkan pernah menolak perpanjangan kontrak di dunia hiburan hanya untuk fokus pada studi dan karier baru.
“Di situ aku benar-benar merasa duniaku seperti runtuh lagi,” ujarnya dengan berlinang air mata. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini memicu depresi dan kecemasan hebat, hingga ia sempat mengalami fase tidak bisa masuk makanan sama sekali selama tiga bulan. Dokter menyatakan bahwa retina mata kirinya sudah rusak secara permanen, sementara kedua matanya juga memiliki silinder.
“
Veri mengaku bahwa mata kirinya kini tidak bisa menangkap obyek dengan jelas. Kondisi tersebut memengaruhi kesehatan keseluruhannya, termasuk membuat bobot tubuhnya turun drastis. Ia mengalami dehidrasi parah dan tampak lebih kurus dari sebelumnya.
Mimpi Menjadi Pelukis Besar
Mimpi Veri menjadi desainer grafis bukanlah hal yang tiba-tiba. Ia mengungkapkan bahwa kecintaannya pada seni rupa dimulai sejak kecil. Nama “Afandi” yang disematkan oleh ayahnya merupakan doa agar dirinya kelak bisa menjadi pelukis besar seperti maestro Afandi.
“Waktu umur 5 tahun, aku ikut lomba lukis ditemani ayah dan aku dapat juara satu. Ayah pengin aku jadi pelukis, makanya nama aku dikasih Feri Afandi supaya menjadi pelukis seperti pelukis Afandi,” kenang Veri.
Mimpi itu pun ia kejar hingga jenjang perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Ia berharap bisa menjadi seorang “misioner grafis” yang mampu menciptakan karya-karya visual yang bermakna.
Perjalanan Hidup yang Penuh Tantangan
Setelah meninggalkan dunia hiburan, Veri mencoba bangkit dan fokus pada kariernya sebagai desainer grafis. Namun, cobaan datang ketika ia harus menghadapi kondisi kesehatan yang memengaruhi penglihatannya. Ia sempat mengurung diri dan mengalami gangguan mental yang parah.
Meskipun begitu, Veri kini berusaha untuk beradaptasi dengan keterbatasan tersebut. Ia sedang mencoba menata kembali kesehatan mentalnya yang sempat hancur akibat kehilangan mata. Dengan dukungan orang-orang terdekat, ia berharap bisa kembali melangkah maju dalam hidupnya.
Kiprah Awal di Dunia Hiburan
Sebagai juara pertama AFI 1, Veri Affandi dikenal sebagai salah satu peserta yang paling sukses di acara tersebut. Dalam grand final tahun 2004, ia berhasil mengalahkan dua saingannya, yaitu Kia dan Mawar. Kemenangan ini membuat namanya tiba-tiba populer dan sering muncul di berbagai panggung dan layar kaca.
Namun, seiring berjalannya waktu, karier Veri di dunia hiburan mulai meredup. Meski begitu, ia masih sering tampil sebagai penyanyi dan pembawa acara. Kini, ia fokus pada kariernya sebagai desainer grafis, meskipun harus berjuang melawan keterbatasan yang dihadapinya.
Veri AFI kini menjadi contoh bagi banyak orang yang menghadapi tantangan hidup. Meski kehilangan penglihatan di mata kiri, ia tetap berusaha bangkit dan menata kembali hidupnya. Dengan semangat dan dukungan orang-orang terdekat, ia percaya bahwa ada harapan di balik keterbatasan.







