Pengalaman Mengerikan Melaney Ricardo Saat Remaja
Melaney Ricardo dikenal sebagai presenter ternama di Indonesia. Meskipun usianya kini sudah menginjak 45 tahun, ia tetap menjaga kualitas kerjanya dengan maksimal. Kehidupan suksesnya ini tidak lepas dari perjalanan panjang yang ia lalui.
Di balik kesuksesannya, Melaney memiliki pengalaman masa lalu yang sangat mengerikan. Ia bahkan sempat nyaris kehilangan nyawa saat masih remaja. Pengalaman tersebut diungkapkannya dalam sebuah acara FYP Trans 7 pada Selasa (3/3/2026). Saat itu, ia hadir bersama kedua orangtuanya, Ricardo Siahaan dan Sylvia Herawatie Boru Pardede.
Awalnya, mereka membicarakan kesehatan sang ayah yang menurun karena mengidap penyakit Parkinson. Melaney juga bercerita tentang momen-momen indah ketika dirinya dan ayahnya masih bisa berkomunikasi secara normal. Kini, ia hanya bisa mengenang kenangan-kenangan mereka, baik maupun buruk.
Salah satu hal buruk yang masih terus diingat oleh Melaney adalah saat ia dan teman-temannya menghadiri pesta di sebuah kelab malam. Mereka mengonsumsi segala sesuatu yang ada di meja secara berlebihan. Tak disangka, tubuh Melaney kehilangan kendali. Ia ambruk dan mengaku mengalami hal-hal di luar nalar.
“Aku hampir mengalami pengalaman itu (nyaris meninggal dunia), aku melihat seperti roh gue hampir keluar dari badan gue, tapi guenya masih hang out sama teman-teman,” kata Melaney.
Beruntung, saat itu ia masih bisa terselamatkan. “Aku Puji Tuhan masih bisa hidup, karena teman banyak party hura-hura itu meninggal, gue bisa aja saat itu meninggal,” ujar Melaney.
Sebenarnya, pengalaman ini tak pernah benar-benar ingin ia ungkapkan. Bahkan, sang ibu sempat melarangnya berbicara hal ini kepada publik. Selain aib, cerita ini juga masih sering membuat sang ibu sedih bukan main.
“Bokap nyokap gue taunya gue ngekost, gak tau gue nakal. Waktu dibawa ke rumah sakit, kalau something happened to me itu masa bokap nyokap gak ada, jadi gue suruh temen gue telepon orangtua gue,” kata Melaney.
“Karena waktu itu, gue udah berbusa mulutnya,” tambahnya.
“Sampai di rumah sakit bilang ke dokter, saya habis party, dan dokter tau itu kenapa,” katanya.
Sebelum insiden itu terjadi, Melaney mengakui jika hubungannya dengan sang ayah tak melulu baik, bahkan kerap saling keras kepala. Namun, ketika sang ayah melihat putrinya terbujur lemas di ranjang rumah sakit, ia tak marah, sebaliknya, ayahanda Melaney tertunduk sedih dan muram.
“Justru papa mama pas lihat gue di rumah sakit gak marah, ya diam aja. Justru itu, gue sebagai anak ngerasa failed sebagai anak dan mengecewakan orangtua,” kata Melaney.
“Itu terakhir kali aku ikut party dan segala macam, berhenti total. Sebenarnya, ada beberapa kejadian yang bikin gue hampir traumatik, sama Tuhan dicolek gue bodo amat, gitu terus, dan saat itu gue ditampar, ya sudah,” kata Melaney.
“Gue juga alami masalah mental lumayan lama. Gue selalu merasa ketakutan, paranoid.”
“Otak gue terus mikir, capek, ketakutan, kejang-kejang, efek dari kejadian sebenarnya 2-3 tahun, tapi orang gak pernah tau, masih on off gue sakitnya.
“Mungkin saat itu gue udah lewat, tapi mama papa gue itu doa sih,” katanya.
Cara Melaney dan Tyson Lynch Jaga Anak dari Risiko Pergaulan
Pasangan suami istri Melaney Ricardo dan Tyson Lynch membagikan cara mereka menjaga anak-anak di tengah kekhawatiran soal lingkungan dan pergaulan. Mereka menilai tantangan orang tua saat ini semakin besar, terutama ketika anak mulai memasuki usia remaja.
Keduanya sepakat bahwa fondasi terpenting dalam hubungan orang tua dan anak adalah komunikasi. Hal ini dianggap menjadi kunci agar anak tetap terbuka dalam berbagai situasi.
“Ya menurut saya harus komunikasi. Komunikasi untuk hal sesuatu yang baik atau sedang bingung (sulit), yang penting komunikasi,” ujar Tyson di kawasan Margonda, Depok, dikutip dari Grid.id, Selasa (24/2/2026).
Ia menambahkan, faktor komunikasi juga penting karena perkembangan teknologi membuat anak mudah terhubung dengan siapa saja. Menurutnya, orang tua perlu sadar bahwa dunia anak sekarang jauh lebih luas dibanding dulu.
“Dan ada beberapa sosial media atau beberapa caranya untuk bisa hubungan sama siapapun dari bukan Indonesia, Australia atau Amerika, apapun jadi harus komunikasi,” katanya.
Melaney juga menekankan pentingnya kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Ia percaya hubungan yang hangat membuat anak merasa aman untuk bercerita.
“Yang penting sama anak-anak tuh dekat ya, apalagi Chloe kan sudah mulai teenager, sudah mulai ABG. Supaya kalau dia punya crush, sekarang sebutnya bukan gebetan, crush, bisa cerita” jelas Melaney.
Ibu dua anak ini mengatakan kedekatan itu sangat membantu ketika anak menghadapi masalah. Dengan begitu, orang tua bisa mengetahui kondisi anak lebih cepat.
“Mereka punya pergaulan atau masalah di sekolah, ada bullying mungkin di sekolah ataupun di sosial media, mereka akan selalu bisa cerita sama orang tuanya,” tuturnya
Melaney juga mengungkapkan bahwa putrinya termasuk anak yang cukup terbuka. Meski demikian, ia memahami bahwa setiap anak tetap memiliki ruang privasi.
“Chloe ini memang terbuka sama aku, tapi tentu pasti mereka ada hal-hal yang di-keep untuk diri sendiri dan aku mengerti itu,” katanya.
Ia merasa bersyukur karena sang anak masih sering berbagi cerita keseharian. Hal tersebut membuatnya merasa lebih dekat sekaligus lebih tenang sebagai orang tua.
“Cuma sebagian besar dia naksir siapa, dia hari ini seperti apa, dia pasti cerita terutama ke aku ya dan ke bapaknya, tapi paling dekat pasti ke ibunya,” ungkapnya.
Dalam hal percintaan remaja, pasangan ini menerapkan aturan yang tegas namun tetap realistis. Mereka ingin anak memahami batasan tanpa merasa dikekang.
“Sekarang pacaran belum boleh, tapi kalau naksir-naksiran mereka cerita. Cuma kalau pacaran in relationship ke mana-mana berdua, belumlah, masih 14 tahun,” pungkasnya.







