Panduan Lengkap Teks Khutbah Idul Fitri 1447 H / 2026 dalam Bahasa Jawa
Idul Fitri adalah momen yang sangat dinanti oleh seluruh umat Muslim. Pada hari raya ini, umat Islam di seluruh dunia berkumpul untuk menunaikan shalat Id dan merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Salah satu elemen penting dalam rangkaian ibadah shalat Id adalah khutbah. Khutbah tidak hanya menjadi sarana penyampaian pesan agama, tetapi juga menjadi ajang memperkuat iman dan persaudaraan.
Bagi para khatib atau siapa pun yang ingin mencari referensi naskah khutbah Idul Fitri dalam bahasa Jawa, berikut ini disajikan dua contoh teks khutbah yang relevan dan menyentuh hati. Naskah ini telah dirancang secara sistematis, mulai dari Khutbah I hingga Khutbah II, dengan tema utama syukur dan makna kemenangan sejati.
1. Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Riyadine Wong Syukur lan Sabar
Khutbah I:
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن
Amanat kepada jemaah Idul Fitri yang minulyo, kita diminta untuk meningkatkan rasa takwa kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya agar mendapatkan keberkahan. Hari ini adalah hari bahagia dan kesempatan bagi seluruh umat Islam untuk saling memaafkan. Kondisi ini harus diiringi rasa syukur kepada Allah karena memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan keluarga, saudara, dan tetangga dengan hati yang luas dan penuh kasih sayang.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukur kepada Allah. Siapa saja yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan siapa saja yang kufur, maka sesungguhnya Allah itu dzat yang maha kaya lagi maha terpuji.”
Pemberian nikmat seperti iman, Islam, persaudaraan, kebersamaan, dan bantuan antar sesama adalah sebagian dari nikmat besar yang sering kita lupakan. Sejatinya, nikmat tersebut harus disyukuri melalui tindakan yang baik, menjalankan perintah Allah dan sunnah Rasulullah.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Poso Ramadhan mengajarkan kita menjadi orang yang bersyukur dan sabar; syukur bisa dirasakan saat berbuka puasa; sabar bisa dijaga saat tidak makan atau minum, serta segala hal yang bisa membatalkan puasa. Sabar disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 153:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang beriman diperintahkan untuk memohon pertolongan kepada Allah agar diberi sifat sabar dalam menjauhi maksiat, dosa, dan semua godaan. Shalat juga dipandang sebagai bentuk perlindungan dari tindakan buruk. Ringkasnya, orang yang sabar akan didampingi pertolongan Allah.
Lalu ayat tentang syukur disebutkan dalam surat Luqman, ayat 12:
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗوَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukur kepada Allah. Siapa saja yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan siapa saja yang kufur, maka sesungguhnya Allah itu dzat yang maha kaya lagi maha terpuji.”
Sebagian ulama tafsir menyebutkan bahwa ilmu hikmah yang diberikan kepada Luqman adalah pemahaman tentang agama. Lalu harus disyukuri. Syukur artinya mengingat dan memuji nikmat Allah.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Hadirin yang minulyo,
Sifat syukur dan sabar disampaikan Nabi Muhammad dalam hadis Sahih Muslim:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: “Dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Suhaib, katanya: Nabi Muhammad berkata, ‘Ajaibnya urusan seorang mukmin, semua urusannya baik dan tidak ada yang demikian kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia meraih kebahagiaan, maka ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, maka ia sabar dan itu baik baginya.’”
Hari yang kita lalui sekarang bisa disebut sebagai hari latihan orang yang bersyukur dan sabar, karena orang yang meraih kebahagiaan memiliki rezeki yang luas, sedangkan orang yang susah akibat musibah dikelilingi oleh bantuan, kasih sayang, sehingga semua bersyukur dan memuji Allah.
Akhirnya, orang yang meraih kebahagiaan dapat berbagi dengan orang yang sedang susah akibat musibah dan dapat dibantu oleh orang yang kaya dan hatinya lapang. Dari sini, sabar dan syukur dapat ditularkan ke seluruh penjuru. Mudah-mudahan kita termasuk hamba Allah yang bersyukur dan sabar. Amin.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . بسم الله الرحمن الرحيم يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
بَارَكَ الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنيِ وَاِيّاَكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
2. Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Sapa iku Wong kang Menang ing Dina Riyaya?
Ramadhan telah berlalu, dan kini berganti dengan Syawal yang ditandai dengan Idul Fitri. Semua orang tentu menyambut suasana bahagia dan hari kemenangan ini. Namun, sejatinya kemenangan apakah yang kita dapatkan di momen Idul Fitri? Apakah kita juga termasuk yang mendapatkannya?
Teks khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa ini berjudul “Sapa iku Wong kang Menang ing Dina Riyaya?” Untuk mengunduh dan mencetak naskah khutbah Idul Fitri ini dalam format PDF, silakan klik di kolom download. Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
Jamaah shalat Idul Fitri yang dipunrahmati Allah,
Semua puji hanya kepunyaan Allah Ta’ala, yang telah memberi kita banyak anugerah, hingga kita tidak mungkin bisa menghitung semua nikmat yang telah kita terima. Terutama pada hari ini, kita bisa berkumpul bersama keluarga, saudara, dan umat Muslim dengan tubuh yang sehat dan hati yang gembira. Karena hari ini kita semua merayakan Idul Fitri atau hari raya, hari yang penuh berkah dan rasa gembira.
Oleh karena itu, semua nikmat tersebut marilah kita syukuri melalui lisan, hati, dan tindakan yang baik. Mudah-mudahan kita semua termasuk orang yang bersyukur kepada Allah Ta’ala.
Di awal sidang khutbah yang mulia ini, khatib mengucapkan nasihat kepada kita semua. Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita, dengan menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang mendapatkan ridha dari Allah Ta’ala.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ
Artinya: “Bawa bekallah kalian, karena sebaik-baik bekal adalah ketakwaan kepada Allah. Dan takwalah kalian, hai orang-orang yang mempunyai akal.” (QS Al Baqarah: 197)
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah
Pada Idul Fitri ini, juga disebut sebagai hari kemenangan. Disebut demikian, karena kita semua sudah melakukan ibadah wajib pada bulan Ramadhan. Saat itu, kita menghindari segala hal yang membatalkan puasa. Mulai dari makan, minum, sampai hal-hal lain yang bisa membatalkan puasa, mulai dari shubuh hingga maghrib.
Setelah menyelesaikan ibadah puasa wajib pada bulan Ramadhan, maka hasilnya kita akan mendapatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Seperti firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang beriman, puasa diwajibkan atas kalian, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, supaya kalian menjadi orang-orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.”
Ketakwaan adalah standar tertinggi kemuliaan manusia. Inna akramakum ‘indallâhi atqâkum. Dalam bulan Ramadhan, ketakwaan tidak bisa diperoleh hanya dengan menahan lapar dan haus, tetapi juga dengan menahan diri dari perbuatan buruk, seperti marah, dusta, menipu orang lain, dan sebagainya. Nabi Muhammad Saw juga pernah berkata:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasannya, kecuali rasa lapar,” (HR Imam Ahmad).
Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah, Selain orang yang berpuasa Ramadhan, orang yang bertakwa bisa dikenali dari tanda-tandanya. Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan tanda-tandanya orang yang bertakwa. Seperti dalam Surat Ali Imran:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ
Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah, Ayat ini menjelaskan tiga sifat orang yang bertakwa. Pertama, yaitu orang yang senantiasa menafkahkan hartanya dalam keadaan baik maupun sulit. Atau ketika dalam keadaan senang maupun susah, mereka tetap istiqamah. Orang yang bertakwa pasti tidak hanya memikirkan diri sendiri, keluarganya, tetapi juga orang-orang yang membutuhkan bantuan, terutama orang fakir miskin. Pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri, sifat orang yang bertakwa yang pertama ini diwujudkan, terutama dalam membayar zakat fitrah.
Tanda orang yang bertakwa yang kedua, yaitu mampu menahan amarah. Marah atau emosi yang wajar terhadap hal-hal yang manusiawi. Namun bagi orang yang bertakwa, mereka mampu menahan atau tidak meledakkan emosi, jika marah atau emosi. Ini ibarat kalian yang mampu menyimpan atau mengendalikan rasa panas. Demikian pula, orang yang bertakwa mampu mengendalikan rasa panas atau emosi, serta mampu menyalurkannya pada waktu yang tepat, guna kepentingan yang bermanfaat, ketika dibutuhkan. Oleh karena itu, bulan Ramadhan harus menjadi waktu untuk melatih kemampuan mengendalikan amarah kita.
Kaitannya dengan mengendalikan amarah. Nabi Muhammad Saw pernah bertanya kepada para sahabat, siapa yang dianggap sebagai pejuang sejati. Para sahabat menjawab, pejuang sejati adalah orang yang bisa menang ketika dikepung banyak orang. Namun jawaban Nabi:
لَيْسَ ذَلِكَ وَلَكِنَّ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَه عِنْدَ الغَضَبِ
Artinya: “Bukan begitu, pejuang sejati adalah orang yang mampu mengatur (mengendalikan) dirinya ketika marah,” (HR Muslim).
Tanda yang ketiga dari orang yang bertakwa adalah mampu memaafkan kesalahan orang lain. Idul Fitri juga merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk saling memaafkan. Setelah membersihkan diri dari dosa, dengan menjalani ibadah puasa dan amalan-amalan lain pada bulan Ramadhan, kita sempurnakan dengan memaafkan dosa-dosa kita kepada sesama.
Firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-A’raf ayat 199:
خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ
Artinya: “Berilah maaf (Muhammad) dan perintahlah berbuat baik serta mengabaikan orang-orang yang bodoh.”
Ketika kita meminta maaf, bukan berarti kita kalah atau lemah. Juga ketika kita memaafkan, bukan berarti kita lebih hebat. Firman Nabi yang lain:
َمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا
Artinya: “Tidak akan ada tambahan (ganjaran) selain kehormatan dari Allah bagi orang yang memaafkan,”
Demikianlah khutbah di kesempatan ini. Mudah-mudahan kita semua dijadikan Allah Ta’ala sebagai orang yang bertakwa, bahagia dunia dan akhirat. Diampuni segala dosa kita. Diterima segala amal ibadah kita. Dan mudah-mudahan kita dikumpulkan Allah bersama keluarga, guru-guru kita, dan Nabi Muhammad Saw di Surga-Nya. Amin. Allahumma amin.
جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ الله لِى وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
2. Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Sapa iku Wong kang Menang ing Dina Riyaya?
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ … اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ … اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. فَاللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعْمَالِنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا فِيْ رَمَضَانَ وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يُقِيْمُهَا وَيُدِيْمُهَا وَيُحْيِيْهَا بَعْدَهُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Demikianlah sajian Contoh Teks Khutbah Idul Fitri 2026 Bahasa Jawa yang dapat Anda gunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas mulia di hari kemenangan nanti. Kedua naskah di atas menekankan betapa pentingnya menjaga konsistensi ib






