Keributan di Lapangan dan Permainan Sengit Arema FC vs Bali United

Pertandingan antara Arema FC melawan Bali United dalam lanjutan Super League 2025/26 berlangsung sangat sengit. Laga yang digelar di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada Jumat (7/3) malam WIB berakhir dengan kemenangan Bali United dengan skor 3-4. Meskipun pertandingan berjalan cukup menarik, ada beberapa insiden yang memicu keributan antarpemain dan penonton.
Keributan terjadi saat Arema FC tertinggal 2-3. Pada menit ke-84, Teppei Yachida ditarik keluar oleh pelatih Bali United, Johnny Jansen. Yachida yang keluar terpincang-pincang membuat proses pergantian agak lama. Pelatih Arema FC, Marcos Santos, mencoba mempercepat proses tersebut. Hal ini memicu emosi dari kubu Bali United, bahkan Jansen sampai harus berlari menuju area bench pemain Arema FC. Akibatnya, keributan pun terjadi antarpemain kedua tim.
Insiden ini tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga menjalar ke tribune. Beberapa penonton tampak memaki upaya Bali United karena dianggap mengulur-ulur waktu. Bahkan tindakan provokasi dari bench Bali United sempat membuat suporter di tribune VIP sedikit memberikan tekanan ke kubu ‘Serdadu Tridatu’.

Yachida yang dianggap menjadi biang kerok keributan dihadiahi kartu kuning oleh wasit. Laga sempat terhenti sekitar dua menit hingga kembali dilanjutkan ketika wasit mengeluarkan kartu kuning juga kepada pemain Arema, Johan Alfarizi, yang memprotes wasit.
Johnny Jansen menjelaskan bahwa ia mencoba membantu dan membela pemainnya ketika menerima tindakan kurang bagus dari Arema FC. Saat itu, Yachida memang ditarik keluar karena sedikit cedera, namun kontak fisik Yachida dengan pemain dan pelatih Arema FC memicu insiden.
“Ketika Yachida mau keluar, dia didorong, itu memancing kami, sehingga terjadi insiden dan ada tindakan yang tidak bagus dari Arema,” ujar Jansen usai pertandingan.
Jansen mengakui bahwa laga melawan Arema FC cukup sulit meski timnya sempat unggul 0-2 terlebih dahulu di awal babak pertama. Arema FC yang menjadi tuan rumah bermain penuh semangat hingga akhirnya mampu memperkecil kedudukan skor.
“Saya menganalisa Arema dengan baik, mereka bermain dengan full back kami taruh di sana dan bisa mencetak gol. Babak kedua mereka dapat tendangan bebas, dapat tendangan sudut. Wajar saja tim tuan rumah tertinggal 0-2, di babak kedua berusaha mengubah permainan dan meningkatkan permainan,” ucap pelatih asal Belanda itu.

Sementara itu, Marcos Santos membantah bila tindakannya ke Yachida bagian dari provokasi. Menurutnya, ia hanya bermaksud membantu Yachida untuk keluar lapangan ketika terjatuh, tapi hal ini memicu reaksi berlebihan bagi kubu Bali United.
“Saya tidak emosi, saya bantu pemain untuk bantu berdiri, tapi saya nggak emosi. Saya mau pemain saya lebih konsentrasi untuk bisa lebih fokus di pertandingan ketika ada masalah sama pemain (Bali United),” kata Marcos Santos.
Dirinya mengakui timnya bermain buruk di babak pertama sehingga kehilangan momen dan kecolongan dua gol. Di awal babak kedua, pelatih asal Brazil itu mengubah skema dengan berbagai pergantian pemain yang membuat alur serangan Arema FC berubah.
“Di babak pertama selalu sulit di tiga pertandingan terakhir, kami bermain buruk. Di babak kedua tadi Arema bagus sekali, kita bekerja keras, tapi kita kalah, saya sedih karena Aremania datang banyak, tapi kita kalah,” terangnya.
Bali United berhasil mencuri kemenangan 3-4 di kandang Arema FC. ‘Serdadu Tridatu’ mencetak gol melalui Teppei Yachida di menit 22 dan 68, Diego Campos di menit 28, serta satu gol bunuh diri dari Betinho di menit 93.
Arema FC hanya mampu memperkecil skor via dua gol dari Dalberto Luan di menit 64 dan penalti menit 78, serta satu gol bunuh diri dari Kadek Arel Priyatna di menit 94.







