Tensi Geopolitik Memicu Perubahan dalam Pasar Kendaraan Listrik
Ketegangan geopolitik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran telah memicu perhatian terhadap rencana konversi kendaraan listrik, khususnya motor listrik. Rencana ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mengantisipasi gangguan pasokan minyak mentah akibat konflik tersebut.
Aurelia Barus, Analis Indo Premier Sekuritas, menjelaskan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan percepatan elektrifikasi kendaraan roda dua melalui pembentukan gugus tugas. Target konversi mencapai 4 juta hingga 6 juta unit per tahun, dengan subsidi sebesar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per unit. Angka ini lebih rendah dibandingkan wacana sebelumnya yang mencapai Rp 7 juta hingga Rp 10 juta per unit, menunjukkan penurunan biaya teknologi.
Namun, implementasi rencana ini masih belum pasti karena kebijakan tersebut masih baru. Hambatan historis seperti biaya tinggi dan keterbatasan teknis tetap menjadi tantangan utama. Aurelia menyatakan bahwa jika rencana ini terealisasi, maka pemain suku cadang otomotif seperti PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) akan mendapatkan manfaat. DRMA, khususnya, memiliki eksposur yang lebih tinggi terhadap kendaraan roda dua.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik juga dapat meningkatkan minat pada model battery electric vehicle (BEV) roda empat atau mobil listrik. Menurut Aurelia, hal ini bisa menjadi peluang bagi pasar kendaraan listrik.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyoroti risiko kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dapat menurunkan permintaan untuk mobil berbasis mesin dalam (ICE). Daya beli masyarakat dan suku bunga juga perlu terus dipantau untuk melihat kinerja emiten sektor otomotif. Jika inflasi diperkirakan naik, Bank Indonesia kemungkinan akan menahan suku bunga tinggi untuk meredamnya, yang bisa menjadi tantangan bagi sektor otomotif.
Harry Su mengharapkan pertumbuhan penjualan mobil pada tahun 2026 sebesar low to mid single digit. Meskipun demikian, situasi masih dinamis dan perlu diperhatikan secara terus-menerus.
Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, memperkirakan prospek sektor otomotif masih menantang, namun ada peluang perbaikan bertahap pada tahun ini setelah penjualan yang melemah di tahun sebelumnya. Permintaan belum sepenuhnya pulih karena daya beli masyarakat masih selektif, terutama untuk pembelian berbasis kredit.
Miftahul menilai tantangan utama sektor otomotif datang dari suku bunga yang masih relatif tinggi dan daya beli yang belum membaik. Selain itu, pergeseran preferensi konsumen ke arah kendaraan listrik membuat pemain konvensional cenderung tertekan.
Di sisi sentimen, Miftahul menilai katalis dari suku bunga yang berhubungan dengan permintaan kredit menjadi salah satu perhatian utama. Stabilitas nilai tukar dan insentif pemerintah terutama untuk kendaraan listrik (EV) juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan ke depannya.
Pertumbuhan Penjualan Mobil
Pada Februari 2026, volume penjualan grosir mobil alias four-wheel drive (4W) meningkat sebesar 22% secara bulanan. Volume penjualan dua bulan pertama tahun 2026 mencapai 147.600 unit, naik 10% secara tahunan, yang mencakup 17% dari asumsi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Peningkatan ini terutama didorong oleh merek-merek Jepang.
Suzuki mencatat pertumbuhan terkuat, mencapai 9.659 unit, naik 247% secara bulanan. Kemungkinan besar disebabkan oleh pengiriman yang tertunda dari bulan-bulan sebelumnya. Volume Honda meningkat menjadi 5.385 unit, naik 34% secara bulanan, didukung oleh penawaran yang lebih agresif selama Indonesia International Motor Show (IIMS). Sementara itu, volume Toyota/Daihatsu juga meningkat masing-masing sebesar 12% dan 7% secara bulanan, meski di bawah pertumbuhan pasar.
Adapun, volume penjualan grosir mobil two-wheel drive (2W) mencapai 587.000 unit pada Februari 2026, naik 2% secara bulanan, sehingga volume penjualan dua bulan pertama tahun 2026 mencapai 1,2 juta unit, naik 2% secara tahunan.
Rekomendasi Saham
Miftahul merekomendasikan wait and see saham PT Astra International Tbk (ASII), sementara Harry Su merekomendasikan buy saham PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) dengan target harga Rp 1.000 per saham. Sementara itu, Aurelia memberi peringkat netral sektor otomotif.







