Jasa Titip Nyekar dan Rawat Makam yang Viral di Media Sosial
Laifa, seorang wanita muda berusia 27 tahun, kini menjadi perhatian banyak orang setelah menawarkan jasa titip membersihkan makam dan mendoakan di media sosial. Jasa unik ini kini viral dan ramai dibicarakan, dengan sudah ada belasan orang yang memesannya. Laifa mematok tarif Rp 50 ribu untuk membersihkan makam, dan tambahan Rp 50 ribu jika ingin mendoakannya.
Jasa yang terbilang unik ini belakangan viral dibicarakan di media sosial. Laifa mengunggah layanannya melalui media sosial, dan animo masyarakat cukup besar terhadapnya. Ia membuka jasa membersihkan makam dan mendoakannya. Awalnya, ia mulai dari sebuah permintaan seseorang di media sosial yang tinggal di luar Jawa.
Berawal dari Permintaan Seseorang dari Luar Pulau Jawa
Laifa (27) mendapat pesan di media sosialnya dari seseorang yang mengaku sekarang tinggal di luar Jawa. “Boleh minta tolong bersihkan makam ibu saya di Sidoarjo?,” pintanya. Esoknya, ia bersiap dari tempat tinggalnya di Siwanlankerto, Surabaya, Jawa Timur menggunakan kemeja, celana dan jilbab serba hitam menuju satu makam di Waru, Sidoarjo.
Berbekal sapu lidi, gunting, kantong plastik, lap basah dan kering dimasukkan ke dalam wadah kain. Melaju di bawah matahari pagi melintas dari Surabaya menuju Sidoarjo.
Bersihkan Makam
Sebelum sampai Tempat Pemakaman Umum (TPU), ia mampir di salah satu pedagang di pinggir jalan untuk membeli sekantong kecil bunga tabur segar. Orang Indonesia memang terbiasa dengan budaya mengunjungi makam para leluhur atau keluarga yang telah mendahului. Tak terkecuali di Surabaya Sidoarjo, beberapa barang seperti kembang tabur hingga air dan wewangian sering kali menghiasi makam-makam para pendahulu dengan kepercayaan bisa membuat harum rumah terakhir bagi yang sudah meninggal.
Tiba di TPU, ia memastikan titik lokasi nisan yang harus ia tuju. Persis di bawah pohon kamboja, bernisan putih tertutup setengah gundukan tanah. Satu kendi yang lapuk berada di samping nisan. Laifa lalu mulai menyapu, menyingkirkan sampah-sampah daun basah akibat tetesan hujan semalam. Lalu mencabut rumput-rumput liar yang baru saja tumbuh beberapa hari yang lalu.
Nama nisa bercat hitam yang sebelumnya tertutup tanah mulai terlihat setelah ia mengelapnya dengan kain. Lalu menabur bunga warna-warni dan menyiramkan air segar. Makam itu kini sudah tak lagi terlihat sunyi mulai hidup sebagai tempat yang dijaga dan baru saja dihampiri orang tersayangnya. Laifa mengirimkan doa yang dia panjatkan sesuai keyakinan. Beberapa jepretan yang diambil singkat menggunakan ponsel kemudian dikirimkan ke keluarga penghuni makam.
Sejarah “Jastip Nyekar Rawat Makam”
Sejak pertengahan Ramadhan 2026 kemarin, Laifa membuka “Jasa Titip (Jastip) Nyekar Rawat Makam”. Pekerjaan yang masih cukup awam di era saat ini tapi ia berniat menjadi “tangan sambungan” bagi kasih sayang yang terhalang jarak. “Muncul pikiran jastip ini waktu bulan puasa gak sengaja scrolling TikTok ada ojol (ojek online) yang dapat orderan nyekar, jadi aku terinspirasi,” kata Laifa saat ditemui Kompas.com, Minggu (29/3/2026).
Mulanya, ia membuka jastip nyekar melalui media sosial threads bagi anak rantau yang tidak dapat mudik Lebaran tetapi ingin mengunjungi makam keluarga. Ia memasang tarif Rp 50.000 untuk pembersihan dan kirim doa. “Awalnya pro kontra karena add on baca yasin nambah Rp 50.000 karena seperti jual doa. Akhirnya banyak yang menyarankan fokus ke nyekar dan rawat makam,” sambungnya.
Laifa hanya membuka jastip nyekar dan rawat makam yang lokasinya maksimal 10 kilometer dari tempat tinggalnya di Surabaya. Selain itu, identitas makam bisa diketahui melalui papan nama nisan yang masih terbaca. Tetapi, saat ia kesulitan mencari makam yang harus dituju, Laifa akan menanyakan ke juru kunci.
Kesulitan dan Respons Masyarakat
Laifa mengaku, animo order jastip nyekar dan rawat makam cukup ramai. Terlihat banyaknya orderan yang masuk lewat direct message. Teman terdekatnya menyarankan agar side job ini dijalankan secara serius. “Terus ada yang terinspirasi juga untuk busa jasa yang sama di area Jabodetabek karena ada yang dm orang Bekasi atau Jakarta gitu, nanya-nanya ke aku,” tuturnya.
Berawal dari Kerinduan Ziarah ke Pusara Ayah
Selain terinspirasi dari orderan ojol, Laifa juga merasakan kerinduan sulitnya datang langsung ke pusara sang ayah sekadar untuk berkirim doa atau memastikan tidak ada lagi semak yang menutupi papak namanya. Pemicu awal beberapa tahun lalu, ia merantau dari Lampung ke Jombang Jawa Timur tinggal bersama neneknya untuk melanjutkan sekolah. Lalu, berkuliah di Surabaya dan melanjutkan bekerja di Kota Pahlawan.
Suatu hari pada tahun 2017, perasaannya terguncang ketika satu notifikasi pesan muncul di ponsel mengabarkan ayahnya mengembuskan napas terakhir di Lampung. “Ayah meninggal pagi dan baru ada pesawat pagi. Yang harusnya dari Surabaya ke Lampung 2 jam jadi berjam-jam karena delay. Aku telat, gak bisa ikut memakamkan Ayah,” ungkapnya mengingat momen itu.
Sekembalinya ke Surabaya, keinginan mengunjungi makam ayah secara langsung selalu terlintas. Perasaan itu hanya bisa terobati dari foto makam setelah nyekar yang dikirim Ibu dan adiknya. “Sejak ayah meninggal juga saya gak lagi taut ke makam sendirian. Karena saya pulang ke Lampung hanya di momen tertentu saja, Lebaran ini gak pulang,” tuturnya.
Ia merasa senang bisa membantu orang lain menyampaikan pesan dan menjadi jembatan rindu ke makam orang tersayang karena terhalang jarak. Disentuhnya nisan yang dingin dan mencium aroma tanah basah dan bunga segar. “Saya melihat makam seperti rumah terakhir yang bisa kita kenang dan harus kita rawat bukan dibiarkan terbengkalai begitu saja. Itu yah membuat saya gak takut dan senang menjalankan pekerjaan sampingan ini,” pungkasnya.







