Pada hari Senin (30/3/2026), indeks utama Wall Street dibuka dengan kenaikan yang signifikan, setelah mengalami penurunan pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, khususnya setelah komentar dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang pembicaraan dengan Iran.
Dow Jones Industrial Average naik sebesar 116,4 poin atau 0,26% menjadi 45.283,06 pada pembukaan. Sementara itu, Indeks S&P 500 meningkat 34,5 poin atau 0,54% menjadi 6.403,37, dan Nasdaq Composite melonjak 147,9 poin atau 0,71% menjadi 21.096,24. Kenaikan ini menunjukkan adanya optimisme di pasar modal, meskipun situasi politik tetap memicu ketidakpastian.
Trump menyatakan bahwa AS sedang melakukan diskusi serius dengan “rezim yang lebih masuk akal” untuk mengakhiri perang. Namun, ia juga memberikan peringatan bahwa jika Selat Hormuz ditutup, AS akan menghadapi risiko serangan terhadap sumur minyak dan pembangkit listrik Iran. Perkembangan ini muncul setelah milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman terlibat dalam konflik, serta penambahan pasukan AS di kawasan tersebut, yang berpotensi memperburuk eskalasi.
Pakistan, sebagai mediator, menyatakan bahwa “perundingan bermakna” dapat dilakukan dalam beberapa hari mendatang. Hal ini memberikan harapan bagi para investor bahwa konflik bisa segera mereda. Di sisi lain, harga minyak terus naik, sehingga saham energi seperti Exxon Mobil dan Chevron menguat lebih dari 1% di perdagangan pra-pasar.
Sam Stovall, chief investment strategist di CFRA Research, menyatakan bahwa Indeks S&P 500 masih turun kurang dari 10% sejak perang dimulai. Menurutnya, investor terpengaruh lebih sedikit oleh penutupan Selat Hormuz daripada yang diharapkan. Ia menambahkan bahwa kenaikan hari ini kemungkinan lebih bersifat technical bounce, karena banyak sektor dan sub-industri berada dalam kondisi oversold.
Pada Jumat lalu, indeks utama Wall Street menutup minggu kelima berturut-turut di zona merah. Dow Jones mengonfirmasi bahwa indeks ini berada di wilayah koreksi setelah menutup lebih dari 10% di bawah rekor tertingginya. Nasdaq dan Russell 2000 juga berada di wilayah koreksi sejak perang dimulai, sementara S&P 500 hanya sekitar 1% dari ambang koreksi.
Morgan Stanley, sebuah rumah broker ternama, menurunkan peringkat ekuitas global menjadi “equal weight” dari “overweight”. Meski demikian, aliran dana ke saham dan obligasi AS telah melampaui wilayah lain sejak konflik dimulai, menunjukkan bahwa pasar AS mungkin kembali menjadi safe haven bagi investor.
Investor akan memantau komentar dari Ketua The Fed Jerome Powell dan Presiden New York Fed John Williams yang dijadwalkan berbicara kemudian hari ini. Data pasar tenaga kerja, termasuk angka nonfarm payrolls bulan Maret, juga akan dirilis minggu ini dan diharapkan memberikan wawasan lebih lanjut tentang kondisi ekonomi.
Lonjakan harga minyak akibat konflik Iran telah memicu kekhawatiran inflasi, sehingga pelaku pasar uang mulai menghapus asumsi pelonggaran suku bunga The Fed tahun ini, dibandingkan dua kali pemangkasan sebelumnya sebelum perang dimulai, menurut CME Group’s FedWatch Tool.
Di sektor saham lainnya:
* Saham Sysco turun 8,3% pre-market setelah mengumumkan akuisisi pemasok katering Jetro Restaurant Depot senilai US$29 miliar, termasuk utang.
* Saham produsen aluminium naik, seiring harga logam ini mencapai level tertinggi empat tahun. Alcoa dan Century Aluminum masing-masing naik 10,5% dan 12,8%.
Pasar AS akan tutup pada Jumat mendatang untuk peringatan Good Friday.







