Kandidat Calon Presiden FIGC yang Muncul Pasca-Kegagalan Timnas Italia
Setelah kegagalan Timnas Italia dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio) mulai mencari presiden baru. Gabriele Gravina, presiden sebelumnya, mengundurkan diri setelah kegagalan tersebut. Keputusan ini juga diikuti oleh Gianluigi Buffon, yang meninggalkan posisi sebagai kepala delegasi Timnas Italia. Dalam waktu dekat, Gennaro Gattuso, pelatih Timnas saat ini, juga disebut akan mengikuti langkah serupa.
Kosongnya jabatan presiden FIGC memicu bursa calon yang semakin panas. Tiga nama kuat yang muncul sebagai kandidat utama adalah Gianni Rivera, Giovanni Malagò, dan Giancarlo Abete. Masing-masing memiliki latar belakang unik dan pengalaman yang berbeda dalam dunia sepak bola Italia.
1. Gianni Rivera: Legenda Hidup yang Siap Membenahi Italia
Gianni Rivera, legenda AC Milan dan Timnas Italia, menjadi salah satu sosok yang menarik perhatian dalam bursa calon presiden FIGC. Usianya yang sudah mencapai 82 tahun tidak menghalangi ia untuk ikut serta dalam pencalonan. Rivera adalah orang Italia pertama yang meraih Ballon d’Or pada 1969, saat masih membela AC Milan.
Rivera mengaku telah menyiapkan program khusus untuk membenahi sepak bola Italia yang dinilainya sedang menghadapi masalah serius. Ia menyatakan bahwa kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia bukanlah hal yang mengejutkan, melainkan akibat dari masalah lama yang belum terselesaikan.
“Saya siap menjadi Presiden FIGC karena saya memiliki program yang sangat spesifik yang telah saya kembangkan bersama teman-teman, termasuk putra Angelo Sormani,” ujar Rivera, dikutip dari Football Italia.
2. Giovanni Malago: Kandidat Terkuat dan Berpengalaman
Selain Rivera, Giovanni Malago juga disebut sebagai kandidat terdepan untuk menjadi Presiden FIGC. Saat ini, Malago menjabat sebagai Presiden Komite Olimpiade Italia sejak 2013 dan memiliki pengalaman besar dalam tata kelola olahraga. Ia juga pernah mengambil alih kendali FIGC pada 2018 saat federasi mengalami kebuntuan dalam pemilihan presiden.
Pengalaman ini membuatnya dianggap sebagai sosok paling siap memimpin transisi di tubuh federasi sepakbola Italia. Malago cukup dekat dengan sejumlah klub Serie A. Ia memiliki kedekatan dengan keluarga Agneli dan baru saja mendapat dukungan dari Presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis.
“Dunia olahraga, di mana negara juga terlibat, telah menjadi pertanda kesuksesan besar. Kami melihat bukti ini di Olimpiade Musim Dingin dan Olimpiade terakhir.”
“Malago adalah seseorang yang bekerja dengan sangat baik, sempurna dari sudut pandang profesional.”
“Seseorang seperti dia, terbiasa selalu melakukan yang terbaik karena dia adalah seorang profesional yang hebat dan selalu menunjukkannya,” kata De Laurentiis, dikutip dari Lamilano.
Jika ia terpilih, laporan media Italia Calciomercato menyebutkan Roberto Mancini kemungkinan besar akan mengisi pelatih Timnas Italia. Saat ini Mancini terikat kontrak dengan Al-Sadd setelah pengalaman singkat sebagai pelatih tim Arab Saudi.

3. Giancarlo Abete: Figur Senior dari Liga Amatir
Nama lainnya adalah Giancarlo Abete, yang saat ini memimpin Lega Nazionale Dilettanti (LND) atau Liga sepak bola amatir di bawah FIGC. Abete bukan orang baru di FIGC. Ia pernah menjabat sebagai Presiden FIGC sebelumnya. Jabatan itu ia empan pada periode 2007 hingga mengundurkan diri tahun 2014 seiring gagalnya Italia lolos ke fase gugur Piala Dunia kala itu.
Dengan pengalamannya itu, ia dinilai memahami betul struktur dan dinamika internal federasi. Dukungan dari sektor liga amatir, yang memiliki porsi suara terbesar, bisa menjadi kekuatan utama bagi Abete.
Perebutan Kursi Panas FIGC
Pemilihan Presiden FIGC dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni, dengan batas pendaftaran kandidat hingga 7 Juni. Ada 274 delegasi yang memilih Presiden baru, dengan 18 persen suara diberikan kepada perwakilan Serie A. Lainnya, 6 persen dari Serie B, 12 persen Lega Pro, 34 persen untuk Liga Amatir (LND), 20 persen Asosiasi Pemain, dan 10 persen Asosiasi Pelatih.
Dengan komposisi suara terbesar dipegang liga amatir (34 persen), persaingan dipastikan berlangsung ketat. Masuknya Gianni Rivera memberi warna tersendiri dalam bursa calon Presiden FIGC. Namun, pengalaman Giovanni Malagò dan jaringan kuat Giancarlo Abete membuat persaingan semakin menarik.
Siapa pun yang terpilih, tantangan besar sudah menanti: mengembalikan kejayaan Italia setelah krisis panjang di level internasional.






