Dampak Luas Blokade Selat Hormuz terhadap Komoditas Global
Blokade Selat Hormuz yang terjadi saat ini telah menyebabkan gangguan distribusi minyak terburuk dalam sejarah. Namun, dampaknya tidak hanya terbatas pada pasokan minyak. Berbagai komoditas nonminyak dari kawasan tersebut juga terganggu, termasuk pupuk, sulfur, metanol, grafit, aluminium, helium, dan monoethylene glycol (MEG). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya jalur laut ini bagi perekonomian global.
Pupuk dan Sulfur: Kunci Pertanian dan Industri Kimia
Teluk Arab merupakan pusat pertanian global yang menyumbang sekitar 20 persen ekspor pupuk jalur laut. Sebanyak 46 persen perdagangan urea, bahan baku utama pupuk, juga berasal dari kawasan ini. Pasokan ini sangat penting bagi negara-negara dengan sektor pertanian besar seperti India, Brasil, dan China. Gangguan terhadap pasokan pupuk dan urea akan meningkatkan harga pangan di seluruh dunia.
Sulfur juga terdampak oleh blokade Selat Hormuz. Hingga setengah dari perdagangan sulfur dunia melalui jalur ini. Sulfur digunakan dalam produksi asam sulfat, bahan kimia yang dibutuhkan untuk baterai dan industri fosfor. Selain itu, sulfur juga berperan dalam proses high-pressure acid leaching (HPAL) untuk memurnikan nikel, kobalt, dan tembaga yang diperlukan dalam baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi terbarukan.

Kapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz, Iran, 11 Maret 2026 . – (EPA/ROYAL THAI NAVY )
Metanol dan Grafit: Pengaruh pada Industri Kimia dan Baterai
Sepertiga perdagangan metanol dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di sana akan menghambat distribusi bahan baku untuk resin dan plastik, serta berdampak pada rantai pasokan bahan kimia lainnya. China sebagai pembeli metanol terbesar di dunia akan mengalami kesulitan, karena stok di gudang-gudang pelabuhan turun ke tingkat “mengkhawatirkan”.
Grafit sintetis, yang digunakan untuk anoda baterai kendaraan listrik, juga terpengaruh. Produksi grafit sintetis bergantung pada kokas minyak bumi, yang merupakan produk sampingan dari penyulingan minyak. Jika kilang lebih fokus pada produk lain yang lebih bernilai, pasokan kokas akan berkurang, sehingga harga grafit sintetis melonjak.
Selain itu, grafit alami juga mengalami tekanan harga akibat biaya pengiriman yang meningkat. Kenaikan harga ini memperparah kondisi industri kendaraan listrik yang sebelumnya sudah tertekan oleh gangguan pasokan mineral penting lainnya seperti nikel dan kobalt.
Aluminium dan Helium: Ketergantungan pada Pasokan Global
Aluminium, yang digunakan dalam konstruksi, transportasi, dan energi terbarukan, juga terdampak. Kawasan Timur Tengah memproduksi sekitar 9 persen aluminium dunia. Saat ini, pasokan dari pabrik peleburan di kawasan Teluk sedang terhambat, yang berdampak pada distribusi logam ke pasar internasional.
Helium, yang diproduksi hampir sepertiga oleh Qatar, juga mengalami kelangkaan. Helium digunakan dalam manufaktur semikonduktor dan mesin MRI. Tanpa pasokan stabil, mesin MRI di rumah sakit tidak dapat beroperasi, yang berdampak serius pada sektor kesehatan.
Monoethylene Glycol (MEG) dan Baja: Dampak pada Industri Tekstil dan Konstruksi
MEG, bahan baku utama untuk pembuatan serat poliester, kemasan, dan tekstil, juga terganggu. Wilayah Teluk mengirimkan sekitar 6,5 juta ton MEG pada tahun 2025. Gangguan ini mengancam China sebagai konsumen terbesar, serta negara-negara lain seperti India dan Indonesia. Pembeli di Asia mulai beralih ke pemasok di Amerika Serikat, yang diprediksi akan mendorong kenaikan harga.
Industri baja global juga terkena dampak. Wilayah Teluk adalah penyedia utama pelet bijih besi kadar tinggi dan direct-reduced iron. Ketidakpastian logistik menyebabkan waktu transit lebih lama dan biaya pengiriman melonjak, yang sangat menekan industri baja dengan margin keuntungan tipis.
Transisi Energi yang Terhambat
Krisis di Timur Tengah juga mengancam ambisi transisi energi bersih dunia. Wilayah ini sebelumnya diposisikan sebagai pusat hidrogen hijau, tetapi ketidakstabilan politik dan ketidakpastian rute pengiriman menghambat investasi. Hal ini berisiko memperlambat jadwal pembangunan proyek dan menghalangi peningkatan kapasitas produksi sesuai target.
Di satu sisi, krisis energi mungkin mempercepat keinginan dunia untuk beralih ke energi bersih. Namun, di sisi lain, ketidakpastian di wilayah ini justru menghambat infrastruktur yang dibutuhkan untuk mewujudkan transisi tersebut.







