Ultimatum Trump terhadap Iran Dikritik sebagai Gertakan
Ultimatum atau ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan akan menghancurkan infrastruktur vital Iran, mendapat respons pesimis dari sejumlah pihak. Ancaman ini muncul setelah Trump menegaskan bahwa jika Iran tidak memenuhi tuntutan Washington, maka negara tersebut akan dihancurkan dalam waktu singkat.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026), Trump mengatakan bahwa seluruh negara Iran bisa dilenyapkan dalam satu malam, dan itu bisa terjadi besok malam. Ia juga menepis tuduhan bahwa langkah tersebut bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.
“Seluruh negara itu bisa dilenyapkan dalam satu malam, dan itu bisa jadi besok malam,” ujar Trump, dikutip AFP. Ia menegaskan bahwa Iran harus menyepakati perjanjian yang mencakup “kebebasan lalu lintas minyak” di Selat Hormuz. Jika tidak, ia memperingatkan akan ada “penghancuran total, dan itu akan terjadi dalam periode empat jam.”
Trump juga mengungkapkan rencana untuk mengenakan tarif bagi kapal yang melintas membawa minyak di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pernyataan keras Trump muncul hanya beberapa jam setelah ia menyebut proposal gencatan senjata dengan Iran sebagai “langkah yang sangat signifikan.” Namun, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah menolak usulan gencatan senjata tersebut, yang mereka sebut sebagai “proposal Amerika.”
Sejumlah negara kini berupaya mencari solusi diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 38 hari. Menanggapi ultimatum Trump, Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran (Unpad) Dina Sulaeman menilai bahwa ancaman besar-besaran itu hanyalah gertakan.
Menurut Dina, tanpa adanya ultimatum itu pun sebenarnya Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan ke Iran sampai hari ini. Dan yang menjadi sasaran adalah infrastruktur sipil, rumah-rumah, dan kilang minyak.
Apakah akan tereskalasi atau serangannya jauh lebih besar? Dina melihat bahwa cadangan bom Amerika Serikat sudah jauh berkurang. Sementara dari pihak Iran sudah memberikan ancaman. “Sebenarnya yang penting respon dari Iran ya. Ketika Iran merespons kalau diserang akan membalas dengan jauh lebih keras,” kata Dina dikutip dari Kompas TV pada Selasa (7/4/2026).
Hal ini diperkuat pernyataan dari juru bicara IRGC yang mengancam kalau diserang, kawasan akan menjadi neraka. “Itu kalimat terakhirnya ya, kawasan akan menjadi neraka. Artinya ini ada tarik ulur nih, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berani,” katanya.
Dan, lanjut Dina, Amerika tentu akan berhitung hal itu sebelum menyerang lebih keras lagi. “Sekarang saja sudah balasannya sudah luar biasa, terutama ke Israel juga jauh lebih masif,” katanya.
Karena hal itu lah, Dina menilai ultimatum Trump yang akan menyerang secara besar-besaran, sebagai sebuah gertakan. “Kalau eskalasi besar-besaran saya pikir gertakan. Tapi kalau menyerang ya masih berlanjut sampai hari ini,” tegasnya.
Terkait ancaman Trump akan menyerang pembangkit listrik, menurut Dina hal itu juga sudah diantisipasi Iran. “Karena kalau dari sisi pembangkit listrik itu juga tersebar, jadi tidak hanya terpusat di satu titik saja. Sehingga kalau betul-betul Iran diserang pembangkit listriknya, situasi secara keseluruhan di Iran masih bisa teratasi karena pembangkit listriknya ada di banyak titik,” katanya.
Di satu sisi, dengan serangan itu resiko yang harus ditanggung Amerika, Iran akan membalas dengan serangan yang setara atau bahkan lebih. “Berarti kan yang terancam negara-negara di kawasan ya, pembangkit listrik di Teluk juga terancam akan diserang juga sebagai serangan balasan oleh Iran. Nah, sekarang Amerika Serikat tentu, dan saya meyakini bahwa di balik layar back channel diplomasi itu berjalan ya. Karena negara-negara itu pasti ketakutan kalau itu terjadi.”
Siapakah Dina Sulaeman?
Dina Sulaeman lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 30 Juli 1974. Dina menempuh pendidikan S1 Sastra Arab di Universitas Padjajaran, Bandung. Pada tahun 1999, dia belajar di Fakultas Teologi Universitas Teheran, Iran dengan beasiswa. Dia belajar teologia jurusan Hukum Islam.
Ia juga berpengalaman sebagai jurnalis selama 5 tahun di Iran Broadcasting. Setelah kembali ke Indonesia, Dina Sulaeman melanjutkan pendidikan pasca sarjana tahun 2011 di Unpad mengambil jurusan hubungan internasional. Selain menjadi akademisi, Dina juga menulis sejumlah buku seperti Oh Baby Blues, Paham Al Quran hingga Pelangi di Persia.
Dina Sulaeman diketahui menikah dengan Otong Sulaeman dan dikaruniai oleh dua orang anak. Suaminya, mantan jurnalis IRIB (Radio Iran Indonesia) dan penulis novel terbitan Mizan. Dina juga dikenal sebagai pengamat geopolitik dan pakar Hubungan Internasional (HI) terkemuka. Analisisnya sering dikutip terkait isu-isu krusial seperti konflik Iran-Israel dan dampak keamanan global.
Dina aktif di berbagai platform seperti Instagram, YouTube, Twitter, dan Telegram untuk membagikan pandangannya mengenai isu internasional.







