Perang Rusia-Ukraina Memasuki Hari ke-1.508
Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.508 pada Sabtu (11/4/2026). Konflik ini telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun, dengan dampak yang terasa hingga saat ini. Di tengah situasi yang semakin memburuk, Amerika Serikat dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang pengecualian yang memungkinkan sejumlah negara tetap membeli minyak dan produk petroleum dari Rusia meski berada di bawah sanksi.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi pemerintahan Donald Trump guna meredam lonjakan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, pada 12 Maret, Departemen Keuangan AS telah menerbitkan lisensi sementara yang mengizinkan pembelian minyak Rusia yang masih berada di laut, sebagai upaya menjaga stabilitas pasar energi.
Lisensi tersebut dijadwalkan berakhir pada 11 April, sehingga pembahasan perpanjangan menjadi krusial di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia. Utusan Kremlin, Kirill Dmitriev, yang baru saja melakukan kunjungan ke AS, menyebut kebijakan ini berpotensi membuka akses hingga 100 juta barel minyak mentah Rusia—jumlah yang hampir setara dengan produksi minyak global dalam satu hari.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dilaporkan telah membahas rencana tersebut langsung dengan Trump di Gedung Putih dan menilai langkah itu sebagai opsi yang tepat. Lonjakan harga minyak dan gas terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari, yang kemudian dibalas dengan penutupan Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Meskipun berpotensi menambah pasokan, rencana pelonggaran sanksi ini menuai kritik karena dinilai dapat melemahkan upaya Barat dalam menekan pendapatan Rusia untuk membiayai perang di Ukraina, sekaligus berisiko merenggangkan hubungan dengan sekutu.
Gencatan Senjata Paskah Dinilai Tidak Percaya
Di sisi lain, sekutu Kyiv juga dikabarkan meminta Kyiv menunda serangan terhadap fasilitas minyak Rusia demi mencegah lonjakan harga energi yang lebih tinggi. Warga Ukraina menyambut dengan kewaspadaan pengumuman gencatan senjata Paskah Ortodoks yang disampaikan Rusia. Kremlin menyatakan penghentian pertempuran akan berlangsung selama 32 jam, dimulai Sabtu sore hingga Minggu malam, dengan klaim menghentikan operasi militer di semua arah.
Presiden Volodymyr Zelenskyy mengatakan Kyiv terbuka untuk merespons secara timbal balik, meski situasi di lapangan masih penuh ketidakpastian. Di ibu kota Kyiv, skeptisisme publik terhadap komitmen Moskow kian menguat. Sejumlah warga menilai janji gencatan senjata hanyalah retorika, mengingat rekam jejak Rusia yang dinilai sering tidak konsisten antara pernyataan dan tindakan.
Beberapa jam sebelum gencatan senjata diberlakukan, serangan Rusia di wilayah Ukraina dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai sedikitnya 15 lainnya. Serangan drone menghantam fasilitas sipil di Poltava, termasuk toko dan kafe, sementara di wilayah Sumy serangan menyasar kawasan permukiman dan melukai warga dari berbagai usia.
Perundingan Mandek dan Penolakan Gencatan Senjata Jangka Panjang
Negosiasi mandek, Rusia menolak gencatan senjata tanpa syarat jangka panjang yang diajukan Kyiv, dengan alasan lebih fokus pada penyelesaian damai secara menyeluruh. Perundingan yang dimediasi Amerika Serikat pun mengalami kebuntuan, terutama terkait status wilayah timur Ukraina yang sebagian dikuasai Rusia.
Kedua pihak juga mengadakan gencatan senjata untuk Paskah Ortodoks tahun lalu. Namun, jeda ini terjadi di tengah kebuntuan upaya untuk menghentikan invasi Rusia, dengan perhatian AS sekarang terfokus pada perang Timur Tengah.
Penahanan Jurnalis dan Tekanan terhadap Media
Pengadilan di Moskow memutuskan menahan jurnalis Novaya Gazeta, Oleg Roldugin, hingga sebelum persidangan. Penangkapan ini terjadi setelah aparat menggerebek kantor media tersebut, yang dikenal kritis terhadap pemerintah. Roldugin sebelumnya melaporkan dugaan korupsi pejabat tinggi, mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap media independen sejak invasi ke Ukraina dimulai.
Estonia memutuskan untuk tidak menahan kapal-kapal “armada bayangan” Rusia di Laut Baltik, meski kapal tersebut diduga membantu pendanaan perang. Keputusan ini diambil untuk menghindari risiko eskalasi militer langsung dengan Moskow. Sikap Estonia berbeda dengan beberapa negara Eropa lain yang justru memperketat pengawasan dan penindakan terhadap kapal-kapal tersebut.







