Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi dan Dampaknya pada Masyarakat
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku mulai hari ini, Sabtu, 18 April 2026, diprediksi akan memengaruhi perilaku masyarakat dalam penggunaan kendaraan. Peningkatan signifikan terjadi pada beberapa jenis BBM, seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Hal ini diperkirakan akan membuat warga beralih ke alternatif transportasi lain, termasuk kendaraan listrik.
Harga Pertamax Turbo kini mencapai Rp 19.400 per liter, naik dari sebelumnya Rp 13.100. Sementara itu, Pertamina Dex melonjak menjadi Rp 23.900 per liter, naik dari Rp 14.500. Dexlite juga mengalami kenaikan hingga Rp 23.600 per liter, meningkat dari Rp 14.200 sebelumnya. Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat yang menggunakan BBM beroktan tinggi dan diesel.
Pengamatan dari Ahli Otomotif
Menurut Riyanto, peneliti dan pengamat otomotif dari LPEM UI, kenaikan harga BBM ini akan berdampak pada penjualan kendaraan listrik, namun tidak secara drastis. “Ada dampaknya, tapi tidak banyak,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa harga Pertalite dan Pertamax masih tetap stabil, sehingga dampak terhadap pasar otomotif lebih disebabkan oleh melemahnya ekonomi dan daya beli masyarakat.
Faktor utama yang memengaruhi pasar otomotif saat ini bukan hanya kenaikan harga BBM nonsubsidi, tetapi juga kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Meski demikian, kenaikan harga BBM diesel nonsubsidi dinilai akan memberikan tekanan pada segmen kendaraan berbahan bakar solar. “Barangkali penjualan mobil diesel akan terpengaruh karena harga diesel non subsidi naik cukup besar,” tambah Riyanto.
Perubahan Perilaku Konsumen
Kenaikan signifikan pada Pertamax Turbo diperkirakan akan mendorong penggunanya beralih ke produk dengan harga lebih rendah, seperti Pertamax atau Pertamax Green. “Betul. Pertamax Turbo naik cukup tinggi, sementara Pertamax tidak atau harganya tetap. Saya menduga pengguna Pertamax Turbo akan beralih ke Pertamax atau ke Pertamax Green,” jelas Riyanto.
Ia juga menyatakan bahwa dampak inflasi akibat kebijakan ini relatif terbatas, karena kenaikan terbesar terjadi pada jenis BBM yang tidak dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Namun, ia mengingatkan adanya potensi lonjakan konsumsi BBM subsidi, khususnya solar. Peralihan dari pengguna Dexlite dan Pertamina Dex ke solar subsidi diperkirakan akan meningkatkan beban anggaran negara.
Pengalaman Warga Belitung Timur
Kenaikan harga BBM nonsubsidi membuat warga Belitung Timur pasrah. Mereka mau tak mau tetap membeli karena kebutuhan. Susilawati, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa harga dexlite kini terlalu tinggi untuk masyarakat biasa. “Terlalu tinggi harganya buat masyarakat biasa kayak kami. Tadi beli Rp500.000, biasanya dengan uang segitu jarum BBM naiknya tinggi, ini cuma naik sedikit,” ujarnya.
Uang setengah juta rupiah yang biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhan perjalanan jauh, kini terasa cukup kecil. Susilawati mengaku kaget saat mengetahui kenaikannya mencapai hampir Rp10 ribu per liter dalam semalam. “Tadi saya dengar ada 1-2 mobil yang pas tahu harganya langsung lari. Mungkin kemahalan bagi mereka. Tapi saya tetap beli karena memang sudah kosong benar, kalau tidak beli tidak bisa balik,” ucapnya.
Stok Dexlite Melimpah, Pembeli Sepi
Kepala Pengelola SPBU Desa Padang, Jumhari, mengatakan kenaikan kali ini adalah satu di antara yang paling signifikan selama pengalamannya. Kenaikan yang mencapai Rp9.650 per liter ini diakuinya membuat suasana SPBU menjadi tidak seperti biasanya. “Antreannya kosong sekarang. Tidak ada yang antre di Dexlite, sepi sampai sekarang. Padahal pengumuman naiknya baru tadi malam,” ujar Jumhari.
Fenomena sepinya pembeli ini dianggap sebagai respons spontan masyarakat terhadap harga yang dinilai terlalu tinggi. Bagi kendaraan logistik atau operasional industri, kenaikan biaya BBM hingga ribuan rupiah per liter akan berdampak langsung pada biaya operasional harian. Jumhari membeberkan bahwa stok 17 ton yang dimiliki SPBU saat ini kemungkinan besar akan terserap lebih lambat dari biasanya. Apalagi pelanggan industri yang rutin mengambil volume besar sudah mulai absen dalam beberapa pekan terakhir.
Harapan Masyarakat
Jumhari khawatirkan akan memicu keresahan warga, terutama imbasnya pada harga jasa transportasi atau angkutan barang. Ia pun terlihat sedikit enggan berkomentar banyak mengenai kenaikan harga tersebut. Baginya, tugas sebagai pengelola SPBU adalah memastikan sistem perubahan harga berjalan lancar di dispenser, struk, dan totem sesuai instruksi.
“Ya pengaruhnya jelas ke pembelian. Tapi kami tidak bisa berbuat banyak. Namanya kebijakan dari pusat, kami yang di bawah tinggal menjalankan saja,” ucapnya. Jumhari berharap masyarakat bisa memahami bahwa perubahan harga ini bukan merupakan kebijakan pihak SPBU setempat, melainkan murni penyesuaian dari Pertamina mengacu pada harga pasar minyak dunia.





