Kesemutan Bukanlah Hal Biasa, Ini Bahayanya
Kesemutan sering kali dianggap sebagai hal yang biasa dan tidak memerlukan perhatian khusus. Namun, jika terjadi secara berulang atau terus-menerus, kesemutan bisa menjadi tanda awal dari kondisi serius yang disebut neuropati perifer. Neurpiti perifer adalah kerusakan saraf yang umum dialami oleh pasien diabetes. Dalam acara “P&G Health Asia Pacific Virtual Media Roundtable” pada Kamis (16/04/2026), isu ini menjadi fokus utama.
Neuropati Perifer Sering Terlewatkan
Neuropati perifer merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling sering terjadi, tetapi juga sering tidak terdeteksi. Secara global, sekitar 1 dari 5 pasien diabetes mengalaminya. Di Indonesia, angkanya bahkan bisa mencapai lebih dari 50 persen. Berikut rincian kasus di Asia Pasifik:
- Filipina: 58 persen
- Indonesia: 58 persen
- Malaysia: 54 persen
- Thailand: 34 persen
- Singapura: 28 persen
- Australia: 21 persen
Yang memprihatinkan adalah sekitar 80 persen kasus tidak terdiagnosis karena banyak pasien mengira gejala seperti kesemutan, mati rasa, atau rasa terbakar adalah hal biasa. Di sisi lain, tenaga kesehatan sering lebih fokus pada komplikasi lain seperti jantung atau ginjal. Akibatnya, penanganan sering terlambat dan dampaknya tidak main-main.
Neuropati Perifer Sangat Memengaruhi Kualitas Hidup
Neuropati perifer tidak hanya menyebabkan rasa tidak nyaman. Seiring waktu, kerusakan saraf bisa makin parah dan memengaruhi kualitas hidup secara signifikan. Gejala yang umum meliputi:
- Kesemutan atau rasa seperti ditusuk jarum
- Mati rasa di kaki atau tangan
- Nyeri seperti terbakar atau tersetrum
- Penurunan sensitivitas terhadap sentuhan
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat:
- Mengganggu aktivitas sehari-hari
- Meningkatkan risiko jatuh
- Menyebabkan luka yang tidak terasa dan sulit sembuh
- Berujung pada komplikasi serius, termasuk amputasi
“Sering kali gejalanya terlewatkan sejak dini dan tindakan yang terlambat dapat menyebabkan penderitaan yang sebenarnya dapat dicegah,” kata Dr. Kenny James P. Merin, Contributing Author & Lyceum, Philippines University–Davao (LPU Davao).
Peran Penting Apoteker dalam Mendeteksi Neuropati Perifer
Dengan memberdayakan apoteker, perjalanan neuropati perifer dapat diubah. Saat ini, sering kali intervensi dimulai terlambat. Pedoman yang dirancang khusus bagi apoteker diharapkan mampu mengidentifikasi, menilai, dan menangani pasien neuropati perifer dalam praktik sehari-hari. Pedoman ini menawarkan peran yang lebih jelas bagi apoteker, jalur yang lebih jelas bagi pasien, titik komunikasi antarprofesional yang lebih jelas melalui rujukan, dan peluang yang lebih jelas untuk intervensi lebih awal.
Melalui pedoman ini, apoteker berperan sebagai mitra perawatan proaktif melalui beberapa langkah utama, yaitu:
- Mengenali pasien berisiko sejak dini dengan menggunakan mnemonik baru (MEDIC)
- Membedakan nyeri saraf dan nyeri otot
- Menggunakan kuesioner skrining sederhana yang tervalidasi di lokasi apotek (misalnya ACT, DN4, NPQ)
- Memberikan konseling, mempertimbangkan terapi yang sesuai termasuk vitamin B neurotropik dosis tinggi (B1, B6, B12) bila diperlukan, serta merujuk pasien ke dokter jika ditemukan risiko berbahaya
- Melakukan pemantauan dan tindak lanjut untuk mengevaluasi respons, serta menyesuaikan rencana perawatan
“Di negara seperti Indonesia dengan rasio dokter terhadap populasi yang masih terbatas, peran apoteker menjadi sangat penting dalam skrining awal dan mengurangi keterlambatan penanganan,” ujar Dr. Apt. Lusy Noviani, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).
Deteksi Dini untuk Mencegah Komplikasi Serius
Melalui percakapan sederhana, apoteker dapat menggali keluhan pasien, memberikan edukasi yang tepat, serta menyarankan langkah penanganan awal. Selain itu, apoteker juga berperan dalam menentukan kapan pasien perlu dirujuk ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dengan pendekatan yang proaktif, apoteker dapat membantu mempercepat deteksi dini sehingga kondisi tidak berkembang menjadi lebih serius.
Waspada terhadap neuropati perifer dengan deteksi dini. Ada 7 gejala yang perlu diwaspadai. Sekitar 808 juta orang akan mengidap polineuropati diabetik pada tahun 2050.







