Kehidupan Seorang Guru Ngaji yang Menabung Selama 40 Tahun untuk Berhaji
Sofiah S (72), seorang guru ngaji Al-Qur’an asal Plaju, Palembang, menjadi salah satu jemaah haji Kloter 4 yang berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama 40 tahun dari penghasilan mengajar yang tidak menentu. Keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan ibadah biasa, tetapi merupakan hasil dari kesabaran dan ketekunan yang ia kumpulkan selama empat dekade.
Perjalanan Panjang Hingga Bisa Berhaji
Sejak usia 30 tahun, Sofiah memiliki tekad bulat untuk bisa melaksanakan ibadah haji. Profesi sebagai guru privat Al-Qur’an yang ia geluti sejak usia 20-an menjadi sumber penghasilan utamanya. Uniknya, ia tidak pernah mematok tarif kepada murid-muridnya. “Aku nabung untuk naik haji ini 40 tahun. Dari usia 30 tahun mulai nabung. Sudah dapat 26 juta aku setorke dan daftar sekitar tahun 2013. Lanjut nabung lagi untuk nambahin hingga berangkat ini,” ujar Nenek Sofiah saat ditemui di sela keberangkatan di Kompleks Jakabaring Sport City Palembang.
Setiap hari, mulai lepas Zuhur hingga pukul 17.00 WIB, ia berkeliling dari rumah ke rumah di kawasan kompleks Pertamina. Dalam sehari, ia bisa mengunjungi sembilan rumah muridnya. Meski lelah, ia selalu menyambut murid-muridnya dengan senyuman. “Namanya anak-anak, kadang rewel. Ada yang minta makan dulu, ada yang mau buat PR dulu. Ya kita harus sabar, yang penting mereka semangat mengaji,” tambahnya.
Uang hasil mengajar yang tak seberapa, terkadang hanya terkumpul Rp800 ribu per bulan dan ia tabung dengan cara tradisional. “Saya simpan sedikit demi sedikit di bawah kasur. Kalau sudah banyak, baru saya bawa ke bank,” kenangnya.
Proses Pendaftaran dan Persiapan Jemaah Haji
Ketekunan itu membuahkan hasil. Pada tahun 2013, ia berhasil menyetorkan uang sebesar Rp26 juta sebagai setoran awal pendaftaran haji. Sejak itu, ia terus menabung untuk melunasi biaya keberangkatan hingga akhirnya tiba waktunya untuk berangkat pada tahun 2026.
Pemilik KBIH Al Multazam, H. Piter Abdullah, menjelaskan bahwa total 304 jemaahnya telah menjalani pembimbingan selama satu tahun penuh. “Kami melakukan 18 kali pertemuan, baik teori maupun praktik. Jemaah kami rata-rata sudah mendaftar sejak 2013. Untuk usia, termuda 24 tahun dan yang paling senior 86 tahun. Ada 32 jemaah yang menggunakan kursi roda,” jelas Piter.
Terkait kondisi cuaca di Madinah, ia menyebut suhu saat ini berkisar di angka 38 derajat Celsius pada siang hari dan 32 derajat Celsius pada malam hari, yang dinilai masih cukup bersahabat bagi jemaah asal Palembang. Sesuai jadwal, 304 jemaah haji Kloter 4 ini akan terbang langsung menuju Madinah pada Minggu (26/4/2026) pukul 12.00 WIB.
Suasana Haru Saat Keberangkatan
Keberangkatan KBIH Al Multazam yang tergabung dalam Kloter 4 ini ditandai dengan suasana haru di lokasi pemberangkatan. Para jemaah dilepas menuju Asrama Haji Embarkasi Palembang. Piter, yang juga akan memimpin langsung rombongan tersebut, mengimbau jemaah untuk mematuhi aturan Kementerian Haji dan Umrah serta Kementerian Kesehatan RI.
“Alhamdulillah proses di Embarkasi Palembang lancar karena petugas sangat siaga. Semoga di Arab Saudi nanti juga berjalan lancar semua,” tutup H. Piter yang pernah membantu Sriwijaya Post untuk kolom Kabar Jemaah Haji Sumsel pada tahun 2002 lalu.







