Sejarah dan Perkembangan Kerapan Sapi Brujul
Kerapan Sapi Brujul adalah tradisi unik yang berasal dari Kota Probolinggo, Jawa Timur. Tradisi ini berawal dari kebiasaan petani yang menggunakan sepasang sapi untuk membajak sawah sebelum masa tanam padi. Untuk mengusir rasa lelah dan jenuh, para petani kemudian mengadakan balapan kecil di lahan sawah yang berlumpur. Seiring waktu, kegiatan ini berkembang menjadi tradisi tahunan yang digelar menjelang musim tanam sebagai bentuk hiburan sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.
Awalnya, kegiatan ini tidak bersifat kompetitif dan tanpa hadiah. Namun, seiring meningkatnya minat masyarakat, lomba mulai terorganisasi dengan aturan tertentu, termasuk kewajiban joki mengenakan udheng (ikat kepala khas Probolingggo) sebagai identitas budaya lokal.
Arena Berlumpur Jadi Ciri Khas
Berbeda dengan kerapan sapi Madura, Kerapan Sapi Brujul menggunakan sapi pembajak sawah yang bertubuh lebih besar dan tidak terlalu cepat. Perlombaan digelar di sawah yang telah digenangi air dengan lintasan sekitar 50 hingga 150 meter. Sepasang sapi akan berpacu menembus lumpur dengan arahan joki di atasnya.
Sebelum lomba dimulai, suasana semakin meriah dengan suara musik tradisional seperti saronen serta pengumuman panitia yang memanggil peserta. Nama-nama unik pasangan sapi seperti “Macan Gila” hingga “Angin Ribut”, pun turut menambah keseruan.
Kejadian unik pun sering terjadi, mulai dari joki yang terjatuh berguling di lumpur hingga sapi yang keluar jalur. Meski demikian, suasana tetap berlangsung aman dan menjadi hiburan menarik bagi masyarakat.
Nilai Sosial dan Dampak Ekonomi
Selain sebagai hiburan, Kerapan Sapi Brujul juga berkembang sebagai event yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Kehadiran pelaku UMKM di sekitar arena lomba terbukti turut menghidupkan aktivitas ekonomi warga setempat. Ajang ini juga menjadi sarana silaturahmi para pecinta sapi sekaligus meningkatkan nilai jual sapi yang berhasil meraih kemenangan.
Dengan perpaduan antara pelestarian budaya, hiburan rakyat, dan aktivitas ekonomi, Kerapan Sapi Brujul semakin memiliki daya tarik yang luas.
Warisan Budaya Takbenda yang Terus Dilestarikan
Sebagai bentuk pengakuan, Kerapan Sapi Brujul telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 18 Oktober 2019 oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. Penetapan ini semakin memperkuat posisinya sebagai identitas budaya masyarakat Probolinggo sekaligus sarana pelestarian kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.
Pemerintah daerah pun terus berupaya memperkenalkan tradisi ini ke tingkat yang lebih luas. Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, menegaskan komitmennya untuk membawa Kerapan Sapi Brujul ke kancah internasional. Hal senada juga disampaikan Dandim 0820 Probolinggo, Letkol ARH Heri Budiasto, yang berencana mengundang jurnalis luar negeri untuk mempromosikan tradisi ini sebagai daya tarik wisata mancanegara.
Warisan Leluhur yang Tetap Hidup
Hingga kini, Kerapan Sapi Brujul tetap bertahan sebagai tradisi yang dijaga masyarakat. Lebih dari sekadar lomba, tradisi ini mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan, dan hubungan erat manusia dengan alam. Dengan antusiasme masyarakat yang terus meningkat, Kerapan Sapi Brujul diharapkan tetap lestari dan menjadi kebanggaan budaya Kota Probolinggo di masa depan.







