Koperasi Kelurahan Merah Putih Manulai II Tampilkan Perkembangan Positif
Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Manulai II, yang berada di Kecamatan Alak Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan geliat positif sebagai penggerak ekonomi masyarakat lokal. Perkembangan usaha yang dijalankan saat ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan KSP TLM Indonesia.
Ketua koperasi, Roby Dami, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut membantu mengembangkan produk-produk asli NTT sesuai konsep OVOP dan OSOP. Produk yang dipasarkan mencakup kebutuhan dasar seperti beras hingga air mineral yang diproduksi oleh masyarakat maupun mitra usaha dari KSP TLM Indonesia. Selain itu, koperasi juga mulai merambah sektor hortikultura sebagai bagian dari diversifikasi usaha.
Dari sisi kinerja, koperasi mencatat omset lebih dari Rp 47 juta dan diproyeksikan meningkat hingga menembus Rp 100 juta dalam enam bulan ke depan. Namun, sistem transaksi yang diterapkan saat ini masih sederhana, yakni pembayaran langsung di tempat, sembari terus melakukan pembenahan tata kelola koperasi.
Roby mengakui bahwa pemahaman masyarakat tentang koperasi masih menjadi tantangan. Namun pihaknya terus melakukan edukasi dan berencana menggelar sosialisasi hingga tingkat RT. Ia menyebutkan bahwa keanggotaan terus bertambah, tetapi masyarakat belum sepenuhnya paham koperasi. Ini menjadi tugas mereka untuk memberikan pemahaman.
Dalam pengembangan usaha, koperasi juga tengah menyusun skema agar produk-produk mereka dapat masuk ke dapur program MBG atau SPPG. Untuk itu, dukungan dari Kementerian Koperasi dinilai sangat krusial. Roby berharap Bapak Menteri dan Bapak Gubernur bisa menjadi anggota luar biasa di koperasi ini.
Komitmen Pemerintah untuk Penguatan Koperasi
Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyatakan komitmennya untuk mendorong penguatan koperasi, termasuk dari sisi permodalan dan pengembangan bisnis. Ia menegaskan bahwa koperasi adalah alat perjuangan masyarakat kecil. Dari kondisi sederhana, ia yakin bisa berkembang. Ke depan akan dibangun gudang, gerai, dan fasilitas pendukung lainnya agar koperasi ini semakin maju.
Ia juga menekankan bahwa koperasi harus bertransformasi dari sekadar simpan pinjam menjadi entitas produktif yang bergerak di sektor produksi, distribusi, hingga industri. “Jangan hanya simpan pinjam. Koperasi harus memproduksi dan menjual sendiri agar uang berputar di masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah menyiapkan dukungan anggaran hingga Rp 3 miliar per koperasi untuk pembangunan dan operasional. Menteri juga menyatakan kesiapannya menjadi anggota dengan simpanan pokok sebesar Rp 50 juta.
Aspirasi Pelaku Usaha Lokal
Dalam sesi diskusi yang dipandu Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT, Linus Lusi, sejumlah pelaku usaha turut menyampaikan aspirasi. Lili Mariani Bale menyoroti potensi lokal yang belum tergarap maksimal dan berharap adanya pelatihan serta studi banding agar produk lokal bisa bersaing di pasar. Ia ingin menjual produk daerah sendiri, bukan dari luar. Ia juga berharap koperasi bisa membantu dari sisi sarana seperti kandang untuk usaha ayam potong.
Sementara itu, warga lainnya, Munce Baun, meminta strategi konkret agar koperasi dapat berjalan sehat dan anggota memiliki kesadaran dalam pengembalian pinjaman. Menanggapi hal tersebut, Menteri menegaskan bahwa koperasi harus kembali ke jati dirinya sebagai “soko guru ekonomi” dengan mengedepankan nilai kebersamaan dan kemandirian ekonomi.
Peran Koperasi dalam Ekonomi Rakyat
Gubernur NTT Melki Laka Lena juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menggerakkan koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat. Ia menyatakan bahwa ekonomi itu usaha bersama, bukan untuk segelintir orang. Koperasi harus menjadi wadah kolaborasi, dari produksi hingga pemasaran. Ia berharap, Koperasi Merah Putih Manulai II mampu menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjutan di NTT.







