Sarjo Utomo, seorang petani tuna netra asal Kulonprogo, Yogyakarta, menunjukkan keteguhan dan semangat yang luar biasa dalam menjalani ibadah haji. Meskipun menghadapi keterbatasan fisik akibat kebutaan yang dialaminya sejak usia 37 tahun, Sarjo tetap mampu menunaikan rukun haji pada musim haji 2026. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menyediakan layanan haji yang lebih ramah bagi jemaah lansia dan disabilitas.
Sarjo, yang berusia 71 tahun, tiba di Madinah bersama kloter pertama YIA 1 pada 22 April 2026. Meski perjalanan udara memakan waktu hampir 10 jam, dia terlihat bugar dan tenang saat tiba di penginapan. “Aamiin, sehat. Sampun maem wonten pesawat, lawuh ikan,” ujarnya dengan senyum cerah.
Perjalanan hidup Sarjo penuh tantangan. Kebutaan yang dialaminya dimulai dari infeksi herpes yang menyerang kedua matanya secara bertahap. Meski telah menjalani pengobatan, kondisi tersebut semakin memburuk hingga akhirnya menyebabkan kebutaan total. Namun, hal itu tidak menghalangi dirinya untuk tetap bekerja sebagai buruh tani. Dengan tekad dan kerja keras, Sarjo berhasil menabung dan membeli tanah serta rumah.
Pada 2012, Sarjo mendaftar untuk berhaji bersama istrinya. Namun rencana tersebut berubah setelah sang istri meninggal pada 2024. Setelah itu, Sarjo kembali mendaftar pada 2018 dan diperbolehkan mendampingi ayahnya. Untuk melunasi biaya haji, Sarjo bahkan menjual tanah yang dibelinya sejak 1990. Dana tersebut digunakan tidak hanya untuk biaya haji, tetapi juga membantu pendidikan cucunya.
Keluarga sempat khawatir tentang kemampuan Sarjo dalam menjalani ibadah haji yang membutuhkan aktivitas fisik yang tinggi. Namun, kekhawatiran tersebut berkurang setelah adanya dukungan fasilitas dan pendampingan dari petugas haji. “Keraguan itu sekarang tidak ada lagi karena banyak petugas yang membantu Bapak. Kursi roda juga sudah disediakan,” kata Sri Murtina, putri keduanya.
Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan bahwa penyelenggaraan haji 2026 difokuskan pada layanan yang inklusif. Dari total kuota 221.000 jemaah Indonesia, sebanyak 47.384 merupakan lansia dan 513 jemaah disabilitas. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menekankan bahwa layanan haji tahun ini dirancang agar lebih ramah dan manusiawi bagi kelompok rentan.
“Haji tahun ini harus ramah, aman, dan manusiawi untuk lansia, disabilitas, dan perempuan. Mereka harus merasa terlayani, bukan disulitkan,” ujarnya.
Sarjo menjadi salah satu contoh jemaah disabilitas yang menjalani ibadah dengan dukungan sistem layanan yang disediakan. Perjalanan menuju puncak haji diharapkan dapat dilalui dengan lancar hingga kembali ke Tanah Air. Dengan semangat dan dukungan yang memadai, Sarjo membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang untuk mencapai tujuan spiritual.







