Peran Perempuan di Era Digital dan Pentingnya Literasi Keuangan
Peran perempuan dalam masyarakat semakin kompleks, terutama di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang memperkuat literasi keuangan, khususnya bagi ibu rumah tangga. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari momentum Hari Kartini, yang digunakan sebagai titik awal untuk mengakselerasi edukasi agar perempuan tidak hanya mandiri, tetapi juga aman dalam bertransaksi dan berinvestasi.
Pengukuhan program ini ditandai dengan peluncuran Bulan Literasi Keuangan (BLK) yang diselenggarakan oleh OJK Malang bersama Perkumpulan Istri Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PIISEI) Cabang Malang dan Universitas Brawijaya (UB). Acara ini diadakan pada Rabu (6/5/2026) dan dikemas dalam bentuk talk show dengan tema “Perempuan Kartini Berdaya di Era Digital: Literasi Keuangan sebagai Kunci Transaksi dan Investasi Aman”.
Di hadapan 500 peserta yang berasal dari komunitas perempuan hingga mahasiswa, Kepala OJK Malang Farid Faletehan menegaskan bahwa perempuan menjadi prioritas utama dalam peningkatan literasi keuangan. Hal ini tidak lepas dari peran ganda yang dijalani sebagian besar perempuan. Menurutnya, sebanyak 79,3 persen perempuan menjalankan peran ganda, sehingga penting bagi mereka untuk memiliki pemahaman keuangan yang kuat.
Farid menjelaskan bahwa saat ini, perempuan hidup di tengah arus media sosial yang kuat serta fenomena crazy rich dan cerita sukses instan. Tanpa disadari, hal ini mendorong tekanan untuk mengikuti gaya hidup yang belum tentu sesuai dengan kondisi keuangan. Pemahaman keuangan bukan lagi sekadar kemampuan mengatur pengeluaran, melainkan juga keterampilan mengenali risiko di tengah maraknya transaksi digital.
Selain itu, maraknya pinjaman online ilegal, investasi bodong, dan berbagai modus penipuan yang semakin mengancam perempuan sebagai pengelola keuangan keluarga juga menjadi tantangan nyata. Farid menekankan bahwa gaya hidup konsumtif dan kurangnya dana darurat akibat keputusan keuangan yang emosional, bukan berdasarkan perencanaan, menjadi masalah utama.
Untuk itu, Farid berharap literasi keuangan masyarakat, khususnya perempuan, semakin meningkat. Dengan begitu, perempuan tidak hanya mampu mengelola keuangan secara bijak, tetapi juga terlindungi dari berbagai risiko kejahatan finansial di era digital. Ia menegaskan bahwa perempuan dan ibu rumah tangga menjadi sasaran prioritas penerima edukasi keuangan.
Dampak dari literasi keuangan ini tidak hanya pada individu, tetapi juga pada ketahanan ekonomi keluarga dan masa depan anak. Oleh karena itu, perempuan perlu dibekali literasi keuangan yang kuat agar mampu mengambil keputusan keuangan yang aman, bijak, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian Bulan Literasi Keuangan yang akan berlangsung hingga Agustus 2026. OJK menyiapkan berbagai program, mulai dari Financial Literacy Series, kampanye literasi keuangan, hingga puncaknya Financial Literacy Award.
Edukasi Praktis tentang Kejahatan Siber
Dalam talk show tersebut, peserta juga dibekali wawasan praktis terkait kejahatan siber. Senior Advisor Fraud Banking Investigation BCA sekaligus Ketua Komite Kerja Siber Fraud Perbanas, Wani Sabu, mengingatkan bahwa modus penipuan digital terus berkembang dan menyasar berbagai kalangan. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan serta literasi digital sebagai pelengkap literasi keuangan.
“Jika masyarakat memahami bagaimana menjaga keamanan data dan mengenali pola penipuan, maka mereka bisa lebih siap menghadapi ancaman digital,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (UB) Malang, Abdul Ghofar, menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia menilai literasi keuangan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, terutama ketika perempuan turut berperan sebagai pengelola keuangan rumah tangga.
“Harapannya, ibu-ibu tidak hanya cakap secara finansial, tetapi juga bijak memanfaatkan teknologi untuk mendukung kesejahteraan keluarga,” tandasnya.







