Kekacauan Politik dan Ketegangan Militer di Timur Tengah
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap Iran yang dinilai tidak serius dalam proses negosiasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara bersama Sean Hannity di Fox News yang ditayangkan pada 14 Mei 2026.
Trump mengungkapkan frustrasinya terhadap sikap Teheran yang dianggap mengulur waktu dalam mencapai kesepakatan dengan Washington. “Saya tidak akan bersabar lebih lama lagi,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa orang waras mana pun akan membuat kesepakatan, namun Iran justru dianggap tidak rasional.
Pernyataan ini muncul di tengah situasi kawasan yang semakin genting pasca-operasi militer besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam operasi yang dikenal sebagai Epic Fury. Operasi ini telah memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan militer Iran.
Trump Sebut Pemerintahan Iran Sedang Kacau
Selain itu, Trump juga menyebut bahwa pemerintahan Iran sedang dalam kekacauan. Menurutnya, lambatnya komunikasi diplomatik dari Teheran menunjukkan ketidakstabilan internal. Surat atau respons yang seharusnya dikirim dalam hitungan jam justru tertunda berhari-hari.
“Mereka membuat kesepakatan, lalu keesokan harinya, kami menunggu lima hari untuk surat yang seharusnya sampai dalam satu jam,” ujar Trump. Ia menegaskan bahwa Iran sedang mengalami banyak kekacauan.
Pernyataan ini memperkuat narasi Washington bahwa rezim Iran kini berada dalam tekanan besar, baik secara politik maupun militer.
Xi Jinping Janji Tak Kirim Peralatan Militer ke Iran
Dalam wawancara yang sama, Trump mengungkap hasil pertemuannya dengan Presiden Cina, Xi Jinping, di Beijing. Trump mengatakan bahwa Xi telah memberikan komitmen penting terkait Iran, yakni tidak akan memasok peralatan militer kepada Teheran.
“Dia bilang dia tidak akan memberikan peralatan militer. Itu pernyataan yang besar,” kata Trump. Gedung Putih kemudian merilis pernyataan resmi bahwa Trump dan Xi sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk jalur perdagangan global.
Kesepakatan ini dipandang sangat penting mengingat selama ini Cina dituduh diam-diam membantu kemampuan militer Iran melalui teknologi dwiguna, material industri, hingga jaringan pengadaan rahasia.
Israel Tuduh China Bantu Program Rudal Iran
Kecurigaan terhadap Beijing semakin menguat setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menyatakan bahwa Cina telah memasok komponen penting untuk pembuatan rudal Iran. Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS pada 10 Mei lalu, Netanyahu mengaku bahwa Cina memberikan dukungan tertentu kepada Teheran.
“Cina telah memberikan Iran sejumlah dukungan dan komponen khusus pembuatan rudal,” kata Netanyahu. Meski tidak menjelaskan secara rinci, pernyataan tersebut memperkuat tuduhan lama bahwa Beijing tetap menopang infrastruktur pertahanan Iran secara tidak langsung.
Amerika Serikat sendiri sebelumnya telah menjatuhkan sejumlah sanksi terhadap perusahaan-perusahaan Cina yang dituduh membantu operasi militer Iran. Beberapa perusahaan dituduh menyediakan citra satelit hingga material yang digunakan dalam produksi rudal berbahan bakar padat.
Harga Minyak Dunia Melonjak
Ketegangan yang terus meningkat langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent tercatat melonjak 2,4 persen menjadi 108,22 dolar AS per barel pada perdagangan 15 Mei 2026. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 2,4 persen menjadi 104,03 dolar AS per barel.
Selama sepekan terakhir, harga Brent tercatat naik hampir 7 persen, sedangkan WTI melonjak sekitar 9 persen akibat kekhawatiran terhadap stabilitas Selat Hormuz. Selat strategis tersebut kini menjadi pusat perhatian dunia setelah Iran melakukan blokade efektif terhadap jalur pelayaran minyak global menyusul perang dengan AS dan Israel.
Sebagai respons, Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April 2026.
Militer AS Klaim Iran Lumpuh
Di tengah memanasnya situasi, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyampaikan kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat AS. Ia menyatakan kemampuan Iran untuk mengancam pasukan Amerika dan kepentingan regional telah menurun drastis sejak dimulainya Operasi Epic Fury.
“Dalam waktu kurang dari 40 hari operasi tempur besar-besaran, pasukan USCENTCOM secara sistematis membongkar apa yang telah dibangun Iran selama empat dekade,” kata Cooper. Ia mengklaim Iran kini tidak lagi mampu memasok senjata canggih kepada kelompok proksi seperti Hizbullah, Hamas, Houthi, maupun milisi di Irak.
Menurut Cooper, kekuatan udara dan pertahanan udara Iran kini “tidak relevan secara fungsional dan operasional”. Bahkan, militer AS mengklaim telah menghancurkan 161 kapal perang Iran dari 16 kelas berbeda dan melumpuhkan lebih dari 90 persen stok ranjau laut Iran yang sebelumnya mencapai lebih dari 8.000 unit.
“Angkatan laut Iran tidak lagi dapat mengklaim sebagai kekuatan maritim,” ujar Cooper.
Dunia Menanti Langkah Selanjutnya
Ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan dinamika keterlibatan Cina kini menjadi perhatian dunia internasional. Di satu sisi, Washington terus meningkatkan tekanan diplomatik dan militer terhadap Teheran. Di sisi lain, pernyataan Xi Jinping yang disebut Trump sebagai “sangat besar” memunculkan harapan baru bahwa Cina tidak akan memperburuk konflik dengan dukungan militer terbuka kepada Iran.
Namun dengan situasi yang masih sangat cair, dunia kini menanti apakah Iran akan memilih kembali ke meja negosiasi atau justru membawa kawasan menuju konflik yang lebih luas dan berbahaya.






