Kunjungan CIA ke Kuba dan Tegangan yang Memburuk
Kunjungan yang dilakukan oleh John Ratcliffe, Kepala Central Intelligence Agency (CIA), ke Kuba menjadi perhatian utama dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba. Pemimpin negara tersebut diutus oleh Presiden Donald Trump untuk menyampaikan pesan kepada pemerintah Kuba. Kunjungan ini terjadi saat Havana menghadapi kesulitan dalam menghadapi blokade laut Washington, bahkan mengakui bahwa persediaan minyak mereka telah habis.
Lembaga CIA—yang selama beberapa dekade berada di tengah konflik Washington–Havana—mengonfirmasi kunjungan Ratcliffe. Foto yang diunggah lembaga tersebut di platform X menampilkan Ratcliffe bertemu dengan sejumlah pejabat Kuba, termasuk Ramon Romero Curbelo, kepala intelijen Kementerian Dalam Negeri Kuba. Dalam foto tersebut, wajah beberapa peserta pertemuan disamarkan.
Diskusi dengan Pejabat Kuba
Menurut laporan Associated Press, Ratcliffe juga sempat berdiskusi dengan Raul Guillermo Rodriguez Castro, cucu dari pemimpin revolusi Kuba Raul Castro. Kunjungan ini terjadi di tengah penurunan hubungan antara dua negara tersebut. Kuba kini mengalami pemadaman listrik yang berkepanjangan, akibat blokade bahan bakar yang diberlakukan oleh Presiden Trump.
Hanya satu kapal tanker dari Rusia—sebagai sekutu lama pemerintah Kuba—yang berhasil melewati pembatasan tersebut. Namun, pasokan minyak itu kini telah habis, kata Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy kepada televisi pemerintah.
“Kami benar-benar menderita akibat blokade ini… karena kami belum menerima bahan bakar,” ujarnya.
Kuba Bukan Ancaman
Donald Trump sering memberi sinyal ingin menggulingkan pemerintahan komunis di Kuba. Laporan CBS News yang mengutip pejabat AS anonim menyebut pemerintahan Trump juga sedang berupaya mendakwa Raul Castro, saudara Fidel Castro, yang kini berusia 94 tahun.
Namun, pemerintah Kuba melihat kunjungan Ratcliffe sebagai kesempatan untuk meredakan ketegangan. Pertemuan tersebut berlangsung “dalam konteks hubungan bilateral yang kompleks, dengan tujuan berkontribusi pada dialog politik antara kedua negara,” demikian pernyataan resmi pemerintah Kuba.
Pemerintah Havana juga menegaskan bahwa Kuba tidak pernah menjadi ancaman bagi keamanan nasional Amerika Serikat dan tidak memiliki alasan sah untuk dimasukkan dalam daftar negara yang dituduh mendukung terorisme.
“Kuba tidak pernah mendukung aktivitas bermusuhan terhadap Amerika Serikat, dan tidak akan mengizinkan tindakan terhadap negara mana pun dilakukan dari wilayah Kuba,” menurut pernyataan resmi tersebut, yang dipahami sebagai rujukan terhadap tuduhan adanya kehadiran intelijen Cina di pulau itu.
Blokade Energi
Salah satu nadi ekonomi Kuba terputus pada Januari, ketika pasukan Amerika Serikat menggulingkan pemimpin kuat Venezuela, Nicolas Maduro, sekaligus menerapkan blokade bahan bakar terhadap sekutu terbesarnya di Havana.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menawarkan bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dolar AS, dengan syarat penyalurannya dilakukan melalui Gereja Katolik, bukan pemerintah Kuba.
Dalam wawancara dengan NBC News, Rubio menyalahkan pemerintah Kuba atas penderitaan yang kini dialami rakyatnya.
“Rakyat Kuba harus tahu bahwa ada bantuan makanan dan obat-obatan senilai 100 juta dolar yang tersedia bagi mereka saat ini,” ujar Rubio. “Kepentingan nasional kami adalah melihat Kuba yang makmur, bukan negara gagal hanya 90 mil dari pantai kami.”
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menanggapi melalui unggahan di X dengan menyerukan agar Washington mencabut blokade tersebut.
“Kerusakan ini sebenarnya dapat dikurangi dengan cara yang jauh lebih sederhana dan cepat: mencabut atau melonggarkan blokade, karena jelas situasi kemanusiaan ini dihitung dan diciptakan secara sengaja,” katanya.
Krisis Listrik dan Protes
Pada Kamis (14/5), wilayah timur Kuba kembali dilanda pemadaman listrik besar yang memengaruhi hampir seluruh negeri, meski sebagian wilayah kemudian kembali mendapat pasokan listrik pada sore hari.
Krisis ini memicu protes warga. Seorang penduduk distrik San Miguel del Padron di pinggiran Havana mengatakan kepada AFP bahwa warga memukul-mukul panci dan wajan pada Rabu malam sebagai bentuk protes.
Aksi serupa juga terjadi di sejumlah lingkungan lain di ibu kota. Di kawasan Playa, warga berteriak: “Nyalakan listrik!”
Data yang dihimpun AFP menunjukkan pemadaman berkepanjangan dan kekurangan produksi listrik dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (12/5), sekitar 65 persen wilayah Kuba mengalami pemadaman secara bersamaan.
Dalam wawancara dengan Fox News, Rubio menilai perekonomian Kuba berada dalam kondisi lumpuh.
“Ekonomi sudah rusak dan tidak berfungsi, dan mustahil diubah. Saya berharap situasinya berbeda,” ujarnya. “Saya tidak melihat arah Kuba akan berubah selama orang-orang ini masih berkuasa.”






