Ringkasan Berita
Berikut adalah ringkangan berita yang menarik dan relevan:
Carok antar kerabat di Lumajang
Kasus carok antara dua tukang ngarit, Abdul Karim Marzuki (55) dan Wasil (44), di Desa Sumberwringin Kecamatan Lumajang, Jawa Timur, merupakan puncak dari perselisihan antara dua keluarga. Perseteruan ini dipicu oleh konflik lama yang terjadi karena daun nangka dan serempetan motor.
Saniyeh, istri Abdul Karim, mengatakan bahwa suaminya sudah memiliki konflik dengan Wasil sejak lama karena masalah daun nangka. Ia mengambil rumput yang bercampur daun nangka, dan tetangganya menyarankan agar tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun, keesokan harinya Wasil datang ke rumahnya dan marah-marah karena merasa daun nangka tersebut diambil tanpa izin.
Setelah itu, putra Abdul Karim menyarankan agar Wasil mengambil kembali daun nangka tersebut jika masih merasa keberatan. Namun, peristiwa tersebut berujung pada duel carok. Kasatreskrim Polres Lumajang AKP Prass Ardinata menyebutkan bahwa kedua pelaku masih dalam hubungan kerabat dan memiliki dendam lama.
Peristiwa terjadi pada Kamis (21/5/2026) pukul 11.30 WIB. Saat itu, Abdul Karim dan Wasil bertemu di jalan dan terjadi serempetan motor. Setelah itu, Abdul Karim kembali ke rumah untuk mengambil celurit dan menantang Wasil di perkebunan sengon Desa Sumberwringin. Akibatnya, satu pihak meninggal di tempat dan satunya mengalami luka berat di bagian perut.
Warga Tuban mengalami pemadaman listrik
Sejumlah wilayah Kabupaten Tuban mengalami pemadaman listrik secara merata pada Jumat (22/5/2026) malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Padamnya aliran listrik dirasakan warga di berbagai kecamatan, mulai dari Semanding hingga Palang.
Manajer ULP PLN Tuban, Baskoro Ocky Widakdo, menjelaskan bahwa gangguan terjadi akibat proses pemulihan interkoneksi transmisi 500 kV Ngimbang. Ratusan personel PLN telah diterjunkan untuk menangani gangguan agar sistem kelistrikan dapat segera normal kembali. Proses penormalan dilakukan secara bertahap.
Jejak Kepemimpinan Wali Kota Malang Pascareformasi
Kota Malang dipimpin oleh sejumlah tokoh dengan latar belakang berbeda, mulai dari akademisi, pengusaha, aktivis organisasi, hingga birokrat. Masing-masing Wali Kota Malang memiliki perjalanan karier dan kebijakan yang memberi warna tersendiri bagi perkembangan Kota Pendidikan tersebut.
Peni Suparto
Peni Suparto atau akrab disapa Ebes Inep menjabat selama dua periode, yakni 2003–2008 dan 2008–2013. Ia dikenal sebagai wali kota dari kalangan sipil pertama di Kota Malang setelah era reformasi.
Mochamad Anton
Mochamad Anton atau akrab disapa Abah Anton menjabat sebagai Wali Kota Malang periode 2013–2018. Ia menjadi wali kota pertama di Malang yang berasal dari etnis Tionghoa.

Sutiaji
Sutiaji menjabat sebagai Wali Kota Malang periode 2018–2023 setelah sebelumnya menjadi Wakil Wali Kota Malang mendampingi Mochamad Anton. Ia dikenal sebagai politisi yang aktif membangun karier sejak muda melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Wahyu Hidayat
Wahyu Hidayat menjadi Wali Kota Malang periode 2025–2030 setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 di Istana Negara, Jakarta. Ia sebelumnya dikenal sebagai birokrat yang lama berkarier di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang.

Warna Kepemimpinan di Kota Malang
Perjalanan kepemimpinan Kota Malang menunjukkan dinamika politik dan pemerintahan yang terus berkembang dari masa ke masa. Setiap wali kota memiliki kebijakan, tantangan, dan capaian tersendiri dalam membangun Kota Malang. Beragam program yang dijalankan juga menjadi bagian dari perjalanan Kota Malang sebagai kota pendidikan, ekonomi kreatif, hingga pusat pelayanan publik di Jawa Timur. Dengan latar belakang kepemimpinan yang berbeda-beda, para wali kota tersebut turut memberikan warna dalam sejarah perkembangan Kota Malang hingga saat ini.






