Kondisi Jemaah Haji Kalimantan Selatan dan Tengah di Tanah Suci
Sebanyak 6.728 calon haji asal Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah telah tiba di Tanah Suci, dengan didampingi oleh 76 petugas. Proses keberangkatan dilakukan dalam beberapa kloter, termasuk kloter terakhir yang berangkat pada Kamis (21/5) dini hari. Namun, terdapat 30 kursi yang tidak terisi dalam kloter tersebut.
Selain itu, sejumlah jemaah mengalami pembatalan sebelum masuk Asrama Haji di Kota Banjarbaru. Dari jumlah tersebut, delapan orang meninggal dunia, satu orang hamil, dan satu orang batal karena alasan tertentu. Sementara itu, 20 calhaj lainnya membatalkan keberangkatan setelah masuk asrama, sebagian karena sakit atau adanya pendamping yang ikut menunda perjalanan.
Petugas diharapkan memberikan pelayanan terbaik bagi para calhaj lanjut usia, disabilitas, dan perempuan. Tema Haji Ramah Lansia, Disabilitas dan Perempuan ini menjadi respons atas kondisi demografis jemaah tahun 2026 yang didominasi oleh kelompok rentan.
Untuk lebih memahami upaya petugas dalam menjaga kesejahteraan jemaah, B-Talk Banjarmasin Post Bicara Apa Saja menggelar wawancara bertema “Di Balik Perjuangan Menjaga Jemaah Lansia” dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kalsel H Eddy Khairani. Wawancara ini dipandu oleh Jurnalis Murhan dan ditayangkan di akun YouTube Banjarmasin Post News Video, Facebook BPost Online, dan Instagram @banjarmasinpost, Jumat (22/5/2026).
Evaluasi Kesehatan dan Pelayanan Jemaah
Bagaimana kondisi kesehatan mayoritas jemaah Kalsel di Tanah Suci? Secara umum, jemaah dalam kondisi sehat dan telah melaksanakan umrah wajib. Petugas saat ini fokus mempersiapkan jemaah menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna, baik dari sisi manasik maupun kesehatan.
Mengenai pelayanan di Asrama Haji Banjarbaru, evaluasi terhadap fasilitas, konsumsi, dan akomodasi secara umum baik. Namun, masih diperlukan peningkatan edukasi kepada jemaah dan keluarga agar tidak membawa makanan dari luar area karantina. Seluruh makanan yang disajikan selama masa karantina di bawah pengawasan Balai Karantina Kesehatan Kelas I Banjarmasin.
Penambahan Fasilitas untuk Jemaah Prioritas
Salah satu peningkatan fasilitas yang paling dirasakan oleh jemaah adalah tersedianya gedung baru khusus jemaah prioritas, seperti lansia, jemaah uzur, dan penyandang disabilitas. Gedung ini menjadi bagian dari upaya pelayanan yang lebih nyaman dan ramah bagi kelompok rentan.
Proses Skrining dan Penerbangan
Proses skrining kesehatan dan imigrasi berjalan lancar tanpa kendala teknis berarti. Pemeriksaan dokumen dan barang bawaan juga berlangsung tertib sesuai aturan kepabeanan dan keselamatan penerbangan. Jika ditemukan barang berpotensi membahayakan penerbangan, seperti power bank atau barang elektronik tertentu, maka akan dititipkan kepada panitia daerah untuk dikembalikan kepada jemaah.
Penerbangan berjalan sangat baik, bahkan beberapa lebih cepat sekitar lima hingga 20 menit dari jadwal.
Kondisi Pemondokan di Arab Saudi
Di Madinah, rata-rata jemaah menempati hotel di kawasan Markaziyah dengan jarak kurang dari dua kilometer dari Masjid Nabawi. Sedangkan di Makkah, jemaah tinggal di kawasan Aziziyah, tepatnya di Hotel Al Hidayah Tower, yang berjarak sekitar 13 kilometer dari Masjidil Haram. Meski cukup jauh, jemaah tetap mendapat layanan Bus Shalawat selama 24 jam.
Persiapan Petugas dalam Mendampingi Jemaah
Dalam setiap kloter terdapat empat petugas utama, yakni Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, Dokter, dan Perawat. Selain itu ada petugas daerah, Ketua Rombongan, dan Ketua Regu. Kehadiran para petugas ini menjadi bentuk perhatian khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas agar mereka bisa menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Koordinasi antara Tim Petugas Haji Daerah, petugas kloter, dan petugas pusat berjalan baik. Para petugas daerah juga sudah mengikuti pelatihan selama 10 hari guna memperkuat kemampuan pelayanan dan pendampingan jemaah.
Strategi Mitigasi Cuaca Ekstrem
Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi tentu menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi lansia. Petugas terus mengingatkan jemaah untuk menjaga kesehatan dengan memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan payung, topi, masker dan kacamata hitam, serta membatasi aktivitas di luar ruangan saat cuaca terik. Kami juga meminta keluarga maupun pendamping agar tidak memaksakan jemaah lansia menjalankan ibadah sunah berlebihan sebelum puncak haji di Armuzna.
Evaluasi dan Pesan untuk Masyarakat
Evaluasi paling krusial adalah koordinasi dengan pemerintah daerah, khususnya dalam pemeriksaan kesehatan jemaah sejak di daerah asal agar kasus tunda berangkat bisa diminimalkan. Kami berharap ada penambahan gedung baru karena fasilitas yang ada saat ini belum ideal untuk menampung tiga kloter sekaligus atau sekitar 1.080 orang.
Pesan untuk masyarakat yang masih dalam antrean adalah tetap menjaga niat dan kesabaran, sambil mempersiapkan diri dari sisi manasik, kesehatan, dan kemampuan finansial. Kami juga berkomitmen terus meningkatkan pelayanan yang ramah lansia dan inklusif bagi penyandang disabilitas, sehingga seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, sehat, dan meraih haji yang mabrur.







