Komentar Menteri Luar Negeri Rusia terhadap Serangan di Kyiv
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyampaikan pesan kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, bahwa militer Rusia sedang melakukan serangan sistematis terhadap fasilitas di Kyiv yang disebut digunakan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina. Pesan tersebut disampaikan melalui panggilan telepon pada hari Senin (25/5/2026).
Lavrov menekankan bahwa serangan ini dilakukan sebagai respons terhadap serangan yang dilakukan oleh pihak Ukraina terhadap warga sipil dan fasilitas sipil di wilayah Rusia. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Rusia mengklaim bahwa fasilitas di Kyiv digunakan sebagai pusat-pusat pengambilan keputusan untuk menyerang wilayah Rusia.
“Sebagai tanggapan terhadap serangan yang sedang berlangsung oleh rezim Kyiv terhadap warga sipil dan fasilitas sipil di wilayah Rusia, Angkatan Bersenjata Federasi Rusia mulai melakukan serangan sistematis dan konsisten terhadap fasilitas di Kyiv yang digunakan untuk kebutuhan Angkatan Bersenjata Ukraina, serta terhadap pusat-pusat tempat pengambilan keputusan terkait,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataannya, Selasa (26/5/2026).
Peringatan Rusia untuk Warga Asing
Selain itu, Rusia juga meminta warga asing serta staf diplomatik untuk meninggalkan Kyiv. Pernyataan ini dikeluarkan menjelang serangan baru yang akan dilakukan oleh pasukan Rusia. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengonfirmasi bahwa Lavrov menyampaikan pesan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Presiden AS Donald Trump. Ia menambahkan bahwa Rusia telah mengirimkan peringatan tersebut ke semua kedutaan, bukan hanya AS.
“Putin ingin – bahkan memintanya untuk menghubungi saya agar saya menyampaikan pesan itu langsung kepada presiden (Trump), yang saya lakukan, tetapi jelas kami sudah melihat pemberitahuan yang dikirimkan ke semua fasilitas diplomatik,” kata Rubio.
Reaksi dari Ukraina dan Uni Eropa
Menurut Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, ancaman Rusia untuk melakukan serangan lebih lanjut terhadap Kyiv dimaksudkan untuk mengintimidasi para diplomat Barat. Namun, Ukraina tidak mengharapkan pemerasan semacam itu akan berhasil. Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarína Mathernová, mengatakan para diplomat Barat tidak akan meninggalkan Kyiv meskipun ada ancaman baru dari Rusia.
Serangan Besar-besaran oleh Pasukan Rusia
Pada malam tanggal 23-24 Mei, pasukan Rusia melakukan serangan gabungan skala besar terhadap Ukraina menggunakan 90 rudal dan 600 drone berbagai jenis, termasuk rudal balistik jarak menengah Oreshnik. Di seluruh Ukraina, empat orang tewas dan sekitar 100 orang terluka, dengan sekitar 30 bangunan tempat tinggal rusak atau hancur di Kyiv saja. Hingga 25 Mei, dilaporkan dua orang tewas dan 91 lainnya terluka, termasuk 3 anak-anak, dalam serangan besar-besaran yang dilakukan Rusia.
Latar Belakang Perang Rusia vs Ukraina
Perang Rusia dan Ukraina mulai pecah secara terbuka pada 24 Februari 2022 ketika Rusia meluncurkan serangan militer ke sejumlah wilayah Ukraina. Meski demikian, akar konflik kedua negara sebenarnya sudah muncul sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, saat Ukraina memutuskan menjadi negara merdeka dan tidak lagi berada di bawah pengaruh langsung Rusia.
Seiring berjalannya waktu, Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Ukraina juga menunjukkan keinginan untuk bergabung dengan NATO. Langkah tersebut dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap keamanan dan pengaruhnya di kawasan Eropa Timur.
Ketegangan semakin memuncak pada tahun 2014 setelah Revolusi Maidan menggulingkan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan Rusia. Setelah peristiwa itu, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan mendukung kelompok separatis pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk di kawasan Donbas. Konflik bersenjata pun terus terjadi dan menyebabkan banyak korban.
Upaya perdamaian sempat dilakukan melalui Perjanjian Minsk yang dimediasi oleh Prancis dan Jerman. Namun, perjanjian tersebut tidak berjalan efektif karena kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan. Pada Februari 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan dimulainya “operasi militer khusus” di Ukraina. Rusia menyebut tindakan itu bertujuan melindungi warga berbahasa Rusia di wilayah timur Ukraina serta mencegah perluasan NATO. Sebaliknya, Ukraina dan negara-negara Barat menilai tindakan tersebut sebagai invasi yang melanggar kedaulatan negara.
Sejak perang berlangsung, negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa terus memberikan bantuan militer, ekonomi, dan kemanusiaan kepada Ukraina. Sementara itu, Rusia menghadapi berbagai sanksi internasional yang berdampak pada sektor ekonomi, keuangan, dan energi. Konflik Rusia-Ukraina juga membawa dampak besar bagi dunia, mulai dari krisis energi, terganggunya distribusi pangan global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Hingga kini, perang masih berlangsung meskipun berbagai upaya diplomasi dan perundingan damai terus dilakukan.







