Kecurangan dalam Seleksi Paskibraka Provinsi Sulawesi Selatan?
Seleksi calon paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan kembali menjadi perbincangan setelah siswa asal Kota Makassar, Cathlyn Yvaeni Lesmana, gagal melaju ke tingkat pusat. Isu dugaan kecurangan pun muncul, menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan objektivitas proses seleksi tersebut.
Kritik dari Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Makassar
Ketua PPI Makassar, Muhammad Fahmi, mengungkapkan beberapa kejanggalan yang terjadi selama proses seleksi. Menurutnya, ada beberapa poin yang patut diperhatikan, terutama dalam pelaksanaan tes wawasan kebangsaan (TWK), tes intelegensia umum (TIU), hingga penilaian kepribadian peserta.
Proses seleksi berlangsung selama tiga hari di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Informasi yang diterima oleh Fahmi berasal dari para peserta yang mengikuti tahapan seleksi secara langsung. Ia menyebutkan bahwa dugaan kejanggalan tersebut kemudian mengarah pada opini yang sebelumnya telah ia sampaikan ke publik.
“Saya kemarin keluarkan opini, pendapat pribadi, opini itu kami dapat informasi dari adek-adek di dalam. Adik-adik didalam kami dapat informasi mengerucut ke opini yang saya keluarkan, waktu penyeleksian,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).
Cathlyn bersama peserta lainnya menjalani berbagai tes mulai dari TWK, TIU, pemeriksaan kesehatan, hingga tes kepribadian. Namun, menurut Fahmi, ada kejanggalan saat seleksi kepribadian.
“Hari pertama kan TWK TIU, Cathlyn hampir sempurna, secara penilaian ok, hari kedua Dinkes, hari ketiga selesai kepribadian, nah ini yang janggal.”
Kejanggalan dalam Penilaian Kepribadian
Fahmi menyoroti bahwa nilai Cathlyn hampir sempurna, namun ada kejanggalan saat seleksi kepribadian. “Kenapa saat seleksi kepribadian adek kita masih ada dipanggil untuk dilihat geraknya, kan sudah ada diseleksi baris-berbaris di hari kedua, kenapa harus ditanyakan lagi di hari ketiga,” cetusnya.
Selain itu, Fahmi mengatakan bahwa indikator dari nilai seleksi kepribadian seharusnya transparan melalui aplikasi. Namun, nilai tersebut tidak langsung terupdate di hari usai penentuan nama calon. “Kita seleksi ditingkat kota langsung muncul, masa seleksi begini tidak. Apakah sistem itu berbeda kalau beda tingkatan,” ucapnya.
Tidak hanya itu, Fahmi juga menyebut adanya dugaan Cathlyn dianggap sebagai ras Tionghoa. “Ada juga bahasa dari dalam, bahasa Catlin di sebut China, dan teman-teman yang lain bilang begitu didengar, apakah tidak boleh anak keturunan misalnya, pembawa sebelumnya kan China. Terus masalahnya di mana,” ungkapnya.
Penentuan Tiga Besar yang Mencurigakan
Lebih lanjut, Fahmi mengaku ada kejanggalan saat penentuan tiga besar yang akan bertugas di istana negara nantinya. Saat penentuan, semua pendamping disuruh keluar ruangan, dan hanya siswa yang berada di dalam. “Mereka yang kami utus ini kan yang siap lolos dan gugur, yang disesalkan adanya praktik, apakah memang ada.”
“Saat itu pendamping disuruh keluar semua, selama ini pelaksanaan kegiatan di GOR Sudiang bisa nonton semua, calon yang menang ini, nomor satu 3 besar ini Bone, Jeneponto, dan Gowa,” bebernya.
Pemprov Sulsel Bantah Tuduhan
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulawesi Selatan Bustanul Arifin membantah semua tuduhan yang dilayangkan kepada pihaknya terkait seleksi tersebut. “Semua narasi yang terbangun itu tidak benar dan hoaks,” kata Bustanul kepada Kompas.com.
Bustanul menegaskan bahwa pelaksanaan seleksi paskibraka di tingkat Provinsi Sulsel berjalan secara objektif dan transparan, di tengah adanya dugaan bahwa Cathlyn diganti atau pun dianulir. “Perlu kami sampaikan bahwa kata diganti itu adalah sudah ditetapkan terus diganti, logikanya begitu, berarti ada pengumuman dulu, lolos ini bersangkutan terus diganti orang baru. Tapi ada tidak pengumuman yang dimaksud,” katanya.
Selain soal isu diganti, Bustanul juga membantah terkait penilaian bahasa daerah yang dianggap mengurangi poin Cathlyn. “Jadi tes kepribadian salah satunya adalah melihat kearifan lokal yang bersangkutan namanya juga mewakili daerah, masa salah ketika kita bertanya tahu bahasa daerah tidak. Tetapi bahasa daerah tau atau tidaknya itu tidak menjadi indikator menggugurkan,” ungkapnya.
Tidak Ada Rasisme dalam Seleksi
Lebih lanjut, ia juga tidak membenarkan adanya rasisme terhadap Cathlyn dengan membahas asal keluarganya yang merupakan keturunan Tionghoa. “Terkait rasisme kalau yang disangkakan ke kami panitia tidak murni seleksinya saya tidur nyenyak tidak urusi, karena saya yakinkan ini berjalan objektif. Tapi yang viral ini karena membawa ras itu tidak bagus.”
“Kalau provinsi menitikberatkan bahwa tidak ada Tionghoa di dalam kenapa dia lolos menjadi paskibraka provinsi, cuma tidak lolos paskibraka pusat,” lanjutnya.
Bustanul mengungkapkan bahwa dari Kota Makassar ada 3 orang yang menjadi utusan, dan Cathlyn berada di urutan ke-7 dari 10 besar. “Tiga orang dari Kota Makassar paling rendah itu Cathlyn dia di urutan 7 kalau tidak salah, malah temannya bernama Putri itu di urutan 5.”
“Kalau pun Makassar mau ngotot menganggap harusnya kan yang diprioritaskan itu Putri bukan Catlyn karena lebih tinggi nilainya. Tetapi yang digoreng karena Tionghoanya,” cetusnya.
Proses Seleksi yang Tertutup
Sementara itu, terkait dugaan seleksi tertutup, Bustanul mengaku bahwa prinsipnya dalam surat edaran pemerintah bahwa untuk menentukan 3 besar memang dengan rapat tertutup dan tidak boleh ada di luar kepanitiaan yang terlibat. “Dan memang pada saat itu memang dikeluarkan semua pendamping dari kabupaten dan hanya seluruh peserta seleksi.”
“Kalau kami mau kucing-kucingan tidak perlu ada peserta seleksi di dalam, langsung kami tetapkan, tetapi pada saat itu kita memang lakukan pendalaman betulkah ini nilainya kita cek lagi satu kali, tapi itu disaksikan semua siswa,” tuturnya.
Bustanul mengaku siap menerima risiko jika adanya dugaan kecurangan dalam seleksi paskibraka tingkat provinsi tersebut. “Kalau ada bisa buktikan Catlyn masuk tiga besar, saya siap apapun risikonya. Logikanya masa kita kasih gugur orang karena bahasa daerah, masuk akal tidak, kita mau kasih gugur orang karena dia Tionghoa, itu tidak,” pungkasnya.







