Momentum Libur Sekolah dan Tantangan Pariwisata Yogyakarta
Momentum libur sekolah tahun ini menjadi ujian berat bagi sektor pariwisata di Kota Yogyakarta. Lonjakan wisatawan yang terjadi memicu desakan dari legislatif agar Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta segera mematangkan strategi penataan, khususnya terkait aksesibilitas dan kantong parkir.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Danang Rudiyatmoko menyebutkan bahwa liburan kali ini menjadi tantangan besar. Ia menyoroti bahwa skenario penataan kawasan wisata belum sepenuhnya terintegrasi, terutama setelah adanya kebijakan zonasi dan penutupan beberapa kantong parkir strategis seperti di kawasan Senopati.
“Liburan tahun ini adalah batu ujian terkait kesiapan kota menampung para wisatawan. Wisatawan nusantara yang biasanya datang menggunakan bus pariwisata otomatis tahun ini tidak bisa merapat sampai depan Taman Pintar,” ujarnya.
Danang mengungkapkan bahwa berdasarkan data situasi normal pada musim liburan sebelumnya, perputaran wisatawan di Kota Yogyakarta bisa mencapai angka 1 juta orang. Tolok ukur perputaran ekonomi ini salah satunya terlihat dari pendapatan tiket Taman Pintar yang mampu menyumbang omzet BLUD hingga Rp12–Rp13 miliar.
Destinasi seperti Gembira Loka Zoo memiliki segmentasi dan kalender event tersendiri, namun pada akhirnya, muara dari pergerakan wisatawan dari berbagai daerah tetap akan menuju ke kawasan Malioboro dan sekitarnya. Oleh karena itu, kendala akses akibat pemindahan kantong parkir menuju kawasan Terminal Giwangan atau Menara Kopi harus segera dicarikan solusi konkret.
“Ini bukan sekadar kendala, tapi challenge, bagaimana kita merangkainya. Mau diangkut pakai apa ini? Apakah disediakan angkutan khusus sebagai shuttle ke pusat kota? Kan belum tersedia,” ujar politikus PDI Perjuangan tersebut.
Sebagai langkah jangka panjang, Komisi B DPRD Kota Yogyakarta mendesak Pemkot untuk segera menyusun roadmap perencanaan dan investasi yang menyeluruh agar tidak tertinggal oleh pergerakan industri wisata. Evaluasi dari musim libur sekolah tahun ini harus menjadi cetak biru penataan yang ditargetkan rampung dua hingga tiga tahun ke depan, paling lambat pada 2027.
“Jangan sampai terlambat, keburu wisatawannya pergi. Kita harus punya perencanaan menyeluruh dan membuka ruang diskusi, duduk satu meja dengan Pemerintah DIY, Sleman, dan Bantul untuk membuka akses lahan yang bisa menopang wisata kota,” tegasnya.
Antisipasi Lonjakan Wisatawan
Untuk mengantisipasi lonjakan pelancong, sejumlah otoritas terkait langsung bergerak guna memastikan kesiapan dan keamanan di berbagai lini destinasi wisata. Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) menggandeng Direktorat Pengamanan Objek Vital (Ditpamobvit) Polda DIY, Dinas Pariwisata DIY, hingga Dinas Pariwisata kabupaten/kota untuk turun ke lapangan.
Mereka menyisir setidaknya 12 titik destinasi wisata di wilayah DIY sepanjang bulan ini, guna mengecek aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, serta kualitas pelayanan. Direktur Destinasi Pariwisata BPOB, Neysa Amelia menjelaskan, pemantauan didasarkan pada tiga komponen utama pariwisata, yakni atraksi, amenitas, dan aksesibilitas (3A).
Kolaborasi lintas sektor tersebut dianggap krusial demi menghadirkan pengalaman berlibur yang prima bagi masyarakat maupun turis yang hadir. “Kami ingin memastikan destinasi wisata siap menghadapi peningkatan arus kunjungan wisatawan selama periode libur sekolah. Kami melakukan pemantauan terhadap tren jumlah kunjungan wisatawan menjelang dan selama masa liburan, serta menilai kesiapan destinasi berdasarkan komponen utama pariwisata,” katanya.
Aksi jemput bola dilakukan secara maraton selama tiga hari. Pada hari pertama, tim menyasar kawasan Sleman, mulai dari Museum Ullen Sentalu, Suraloka Interactive Zoo, Obelix Village, hingga Waterboom Jogja. Dari pantauan tersebut, seluruh destinasi dinilai sudah siap, seperti Museum Ullen Sentalu yang telah mematangkan jalur evakuasi dan standar CHSE. Begitu pula dengan Suraloka Zoo yang menyiagakan fasilitas medis dasar, serta Waterboom Jogja yang menyiagakan lifeguard di tiap wahana lengkap dengan perlindungan asuransi bagi pengunjung.
Memasuki hari kedua, giliran destinasi di Kota Yogyakarta, meliputi Gembira Loka (GL) Zoo, Perpustakaan Grhatama Pustaka, Museum Diorama Arsip Jogja, hingga Gajah Wong Edu Park, yang disasar. Sementara destinasi edukasi seperti Grhatama Pustaka dan Museum Diorama Arsip Jogja juga telah menyiapkan skema pengaturan pengunjung agar tidak terjadi penumpukan.
Hari terakhir, pemantauan ditutup dengan mengunjungi Studio Alam Gamplong, Museum Sonobudoyo, Taman Pintar Yogyakarta, hingga Museum Benteng Vredeburg. Kasubdit Auditor Ditpamobvit Polda DIY, AKBP Susyanto, menegaskan, lonjakan mobilitas warga memerlukan sinergi kuat dari semua elemen agar situasi di lapangan tetap kondusif.
“Melalui kolaborasi bersama ini, Polda DIY berkomitmen melakukan pemantauan dan mendukung berbagai langkah mitigasi yang diperlukan agar destinasi wisata di DIY tetap aman, nyaman, dan kondusif, sehingga wisatawan dapat menikmati liburan dengan tenang,” paparnya.







