Refleksi untuk Calon Mahasiswa NTT di Tengah Kasus SMMU Undana 2026
Saya membaca berita mengenai temuan pelanggaran dalam Seleksi Mandiri Masuk Universitas Nusa Cendana (SMMU) Kupang 2026. Tim seleksi menemukan peserta yang mengisi nilai rapor tidak sesuai dokumen asli, bahkan ada indikasi penggunaan kecerdasan buatan untuk menjawab soal. Kepala Kelompok Kerja Data Akademik BAK Undana, Hendro Soepranoto, menyebut tim telah melakukan koreksi berdasarkan dokumen resmi yang valid.
Bagus bahwa tindakan cepat diambil. Tapi yang harus kita tanyakan sekarang bukan hanya “siapa yang ketahuan”, melainkan “mengapa ini bisa terjadi, dan apa artinya bagi kita di NTT?” Saya menulis ini bukan sebagai pakar pendidikan. Saya warga Ngada, yang melihat adik-adik SMA di kampung bersaing dengan terbatasnya akses, guru yang merangkap mata pelajaran, listrik yang sering padam, dan tanpa sinyal internet.
Justru karena kondisi itu, ketika mendengar ada yang memalsukan nilai dan menyerahkan jawaban pada AI, rasanya seperti melihat rumah sendiri dibakar dari dalam. Sekali lagi, rumah sendiri dibakar dari dalam.
Kampus Negeri Bukan Pasar tapi Janji
Kampus negeri, bagi anak NTT, masih dianggap janji. Janji bahwa kerja keras di kampung yang jauh dari pusat bisa ditebus dengan kesempatan belajar di kota. Janji bahwa keterbatasan tidak membunuh masa depan. Maka ketika janji itu dicederai oleh nilai palsu, yang rusak bukan hanya satu proses seleksi. Yang rusak adalah kepercayaan.
Anak di Riung Barat yang belajar dengan lampu tenaga matahari akan bertanya: untuk apa saya begadang kalau teman saya cukup menaikkan angka di rapor? Kita menuntut Undana, Undana menuntut kejujuran dari peserta. Tapi kejujuran tidak turun dari langit. Ia ditanam sejak di bangku SMA, di meja makan keluarga, di percakapan antara guru dan murid, di kelompok hobi anak-anak.
Kalau kampus negeri adalah ruang publik tertinggi untuk ilmu, maka ia tidak boleh menjadi pasar tawar-menawar nilai. Apalagi ketika datanya sudah bicara: Undana mendeteksi sekitar 70 persen jawaban esai peserta memiliki kemiripan tinggi yang mengindikasikan penggunaan AI, dari 1.738 kursi yang diperebutkan.
Jurang Antara SMA dan Perguruan Tinggi
Ada ruang kosong yang kita pura-pura tidak lihat. Di SMA, ukuran sukses sering kali satu: nilai. Lulus 100 persen, rapor hijau, nama sekolah naik. Jarang sekali kita bicara tentang proses berpikir, tentang logika, tentang keberanian berkata “saya tidak tahu”, tentang integritas saat tidak diawasi.
Lalu tiba-tiba di perguruan tinggi, kita menuntut mahasiswa berpikir kritis, menulis esai orisinal, dan menjaga etika akademik. Itu seperti menuntut seseorang berlari maraton padahal ia hanya modal dilatih jalan di tempat. Kecurangan SMMU adalah gejala dari jurang itu. Siswa terbiasa “mengejar angka”, bukan “mengejar paham”.
Bimbel mengajarkan trik lolos tes, bukan cara membaca teks. Orang tua bertanya “sudah lulus belum?”, bukan “sudah paham belum?”. Kalau kita ingin kasus seperti ini tidak terulang, jembatannya harus dibangun lebih awal.
Tanggung Jawab yang Tidak Bisa Ditumpuk
Mudah menyalahkan peserta. Mereka yang memalsukan nilai, mereka yang mengirim jawaban AI. Tapi kalau kita berhenti di situ, kita membohongi diri sendiri. Peserta seleksi adalah produk. Produk dari sistem yang mengukur manusia dari angka, dari orang tua yang menganggap masuk PTN adalah harga mati, dari sekolah yang takut rapor siswanya jelek, dari kampus yang baru memperketat verifikasi setelah kecurigaan muncul.
Maka tanggung jawabnya berlapis. Undana harus mempublikasikan sanksi dengan transparan agar ada efek jera. Kemdikbud perlu membuat standar minimum verifikasi jalur mandiri agar tidak tiap kampus berjalan sendiri. Tapi yang paling mendesak adalah kita di NTT: orang tua, guru, tokoh gereja, tokoh adat. Kita harus bertanya, nilai apa yang sedang kita wariskan ketika diam terhadap kecurangan kecil?
Orang Tua dan Guru: Penjaga Moral, Bukan Agen Kelulusan
Saya tahu, orang tua di NTT rela jual ternak dan komoditi hingga bidang tanah demi anak kuliah. Tekanan itu nyata. Tapi justru karena pengorbanan itu besar, jangan sampai anak masuk kampus dengan cara yang salah. Lebih baik anak pulang ke kampung dengan kepala tegak karena gagal secara jujur, daripada duduk di bangku kuliah dengan rasa takut ketahuan.
Lebih baik guru mempertahankan standar penilaian pada siswa yang berusaha, daripada melonggarkan standar pada siswa yang menjiplak. Kita sering bilang “anak NTT harus berani keluar”. Benar. Tapi keberanian yang sejati bukan berani curang, melainkan berani gagal dengan jujur.
AI Bukan Musuh Tapi Kita Boleh Ragu
Indikasi penggunaan AI dalam SMMU Undana harus dibaca dengan tenang. AI bukan setan, tidak juga malaikat. Ia alat. Sama seperti pisau, ia bisa memotong sayur atau melukai orang, tergantung yang memegang. Masalahnya, banyak dari kita memperlakukan AI seperti jalan pintas berpikir. Salin, tempel, kirim. Otak tidak diajak bekerja. Lama-lama, kapasitas berpikir itu melemah. Kita menjadi generasi yang cepat menjawab tapi lambat memahami.
Jujur, saya sendiri masih ragu apakah melarang AI dalam seleksi adalah solusi. Mungkin tidak. Teknologi akan terus jalan. Tapi yang bisa kita jaga adalah batasnya. Untuk calon mahasiswa NTT, ini peringatannya: kalau kalian lolos karena AI, kuliah akan menyiksa. Dosen akan bertanya, diskusi akan menuntut, skripsi tidak bisa dibeli di internet. Di situlah nilai palsu akan ketahuan.
Masa Depan Tidak Bisa Dipalsukan
Judul ini saya pinjam dari kegelisahan kita bersama: Nilai Palsu, Masa Depan Asli. Nilai di rapor bisa dimanipulasi. Jawaban di layar bisa ditulis AI. Tapi masa depan, tidak. Ia akan menagih apa yang sungguh-sungguh kita miliki: kemampuan, karakter, ketekunan.
Untuk adik-adik di NTT yang sedang bermimpi masuk Undana, Politeknik, dan kampus lain: takut gagal itu manusiawi. Tapi jangan sampai rasa takut itu membuatmu berani curang. Sebab ketika kamu curang sekali, kamu akan terbiasa. Dan ketika kamu terbiasa, kamu akan kehilangan satu hal yang tidak bisa dibeli beasiswa: kepercayaan pada dirimu sendiri.







