Kondisi Pasokan Listrik di Indonesia: Tantangan dan Solusi
Kondisi pasokan listrik di Indonesia, khususnya di Pulau Sumatra dan Jawa, mengalami penurunan yang signifikan. Pemadaman listrik skala luas atau blackout serta pemadaman bergilir menjadi alarm terhadap keandalan infrastruktur ketenagalistrikan. Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah jaringan transmisi, yang merupakan tulang punggung dari sistem distribusi listrik.
Realisasi Penambahan Jaringan Transmisi yang Masih Rendah
Direktorat Ketenagalistrikan (Ditjen Gatrik) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa proyek penambahan jaringan transmisi pada tahun 2025 hanya mencapai sekitar 37% dari target RUPTL PT PLN (Persero). Sub Koordinator Penyiapan Perencanaan dan Kebijakan Ketenagalistrikan Nasional, Rahadian Wahyu Pradipta, menjelaskan bahwa realisasi hanya mencapai 3.241 kilometer sirkuit (kms) dari target hampir 9.000 kms.
Penambahan jaringan transmisi tidak hanya dibutuhkan untuk evakuasi daya dan pemenuhan beban, tetapi juga untuk meningkatkan keandalan sistem kelistrikan PLN. Namun, tantangan eksekusi proyek-proyek yang direncanakan dalam RUPTL masih menjadi kendala utama.
Kendala Teknis dan Non-Teknis dalam Pembangunan Jaringan Transmisi
Beberapa kendala teknis dan non-teknis menyebabkan terhambatnya penambahan jaringan transmisi. Diantaranya adalah pengadaan lahan dan perizinan. Pembangunan jaringan transmisi melewati berbagai daerah geografis, termasuk hutan lindung yang membutuhkan izin khusus seperti izin pinjam pakai kawasan.
Rahadian menjelaskan bahwa kesulitan-kesulitan di lapangan, yang dulu waktu perencanaan mungkin belum terpetakan, sering kali menghambat proyek. Di beberapa tempat ada yang terkendala permasalahan perizinan. Harus berhati-hati menyelesaikannya, agar transmisi-transmisi segera dapat tereksekusi sesuai jadwal yang ditetapkan di RUPTL.
Peran Jaringan Transmisi dalam Transformasi Sistem Kelistrikan
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen, Muhammad Kholid Syeirazi, menegaskan bahwa jaringan transmisi bukan sekadar infrastruktur pendukung, tetapi enabler bagi transformasi sistem kelistrikan nasional. Sayangnya, realisasi pembangunan jaringan transmisi tertinggal dibanding eskalasi penambahan pembangkit.
Kholid memberikan catatan bahwa selama lima tahun terakhir (2021-2025), rata-rata realisasi penambahan jaringan transmisi hanya 42,3% terhadap RUPTL. Sementara untuk tahun 2025, realisasinya hanya 37%. Padahal, jaringan transmisi ibarat sebagai jalan tol bagi pasokan listrik.
Faktor Penghambat Lainnya
Selain masalah perizinan dan pembebasan lahan, medan geografis yang sulit dan keterbatasan akses lahan serta right-of-way menjadi hambatan teknis. Keterbatasan modal juga bisa menjadi hambatan dalam pengerjaan proyek jaringan transmisi. Aspek lingkungan dan kehutanan, koordinasi dengan pemerintah daerah yang rumit, dan kondisi geografis kepulauan yang kompleks membuat biaya investasi infrastruktur kelistrikan di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan negara yang wilayahnya terkoneksi secara daratan.
Empat Hal yang Perlu Diperhatikan
Menurut Kholid, ada empat hal yang perlu menjadi perhatian agar pembangunan jaringan transmisi bisa lebih terakselerasi:
* Perencanaan pembangkit dan jaringan transmisi harus dilakukan secara terintegrasi.
* Perlunya penyederhanaan proses perizinan dan pembebasan lahan tanpa mengabaikan hak-hak masyarakat dan perlindungan lingkungan.
* Perlu dipastikan kecukupan investasi, baik melalui pendanaan PLN maupun skema pembiayaan alternatif yang tetap menjaga kepentingan nasional.
* Pembangunan transmisi harus diarahkan untuk memperkuat interkoneksi antarsistem agar lebih andal, fleksibel, dan mampu menyerap penetrasi energi terbarukan yang lebih besar.
Progres Proyek RUPTL 2025-2034
PLN telah membeberkan progres proyek pembangkit dan infrastruktur ketenagalistrikan dalam RUPTL 2025-2034. Secara keseluruhan, ada 4.118 proyek yang terdiri dari pembangkit listrik, jaringan transmisi dan gardu induk. Khusus untuk jaringan transmisi, ada 1.240 proyek dengan rencana penambahan 47.759 kms.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan bahwa Kementerian ESDM telah menetapkan target delivery RUPTL 2025-2034 melalui kontrak kinerja, yang disusun dengan mempertimbangkan proyeksi permintaan dan kebutuhan sistem ketenagalistrikan nasional. Dengan begitu, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan bisa menjadi lebih terukur dan selaras.
Dalam waktu setahun sejak penerbitan RUPTL 2025-2034, sebanyak 1.646 proyek atau sekitar 40% telah masuk ke tahap eksekusi. Rinciannya, 1.083 proyek ketenagalistrikan sudah berada di proses pengadaan, 420 proyek di fase konstruksi, dan 143 proyek telah beroperasi secara komersial.
Dari sisi penambahan jaringan transmisi, realisasi hingga Juni 2026 tercatat mencapai 3.694 kms, yang merupakan progres kumulatif 2025-2026. Prognosa sampai akhir tahun 2026 penambahan panjang transmisi bisa mencapai 4.138 kms, dengan rencana penambahan 444 kms pada semester kedua ini.
PLN telah menyiapkan roadmap (peta jalan) lelang proyek pembangkit, transmisi dan gardu induk untuk periode 2025 – 2031. Pada 2025, PLN telah melelang proyek pembangkit sebanyak 2,46 GW, 2.070 kms transmisi, dan 2.190 MVA gardu induk. Pada tahun 2026, PLN baru melaksanakan lelang untuk 5 GW pembangkit, dari target 19,62 GW. Sedangkan pelaksanaan lelang untuk transmisi sudah mencapai 7.022 kms dari target 9.219 kms, serta pelaksanaan lelang untuk gardu induk mencapai 11.910 MVA dari target lelang 17.790 MVA.






