Perkembangan Terkini dalam Diplomasi Iran dan Amerika Serikat
Pembicaraan untuk mencapai kesepakatan akhir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) tidak akan dimulai jika ancaman terus berlanjut. Peringatan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Selasa (7/7/2026). Pernyataannya menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk “menyelesaikan pekerjaan” jika kesepakatan tidak tercapai.
“Negosiasi tentang kesepakatan akhir tidak akan dimulai jika ancaman terus berlanjut. Hormati tanda tangan Anda,” tulis Abbas Araghchi dalam sebuah unggahan di X. Unggahan tersebut merujuk pada kesepakatan sementara yang ditandatangani pada bulan lalu oleh Iran dan AS, yang menyerukan kedua belah pihak untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap satu sama lain.
Kesepakatan Sementara antara AS dan Iran
Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad antara AS dan Iran, yang dimediasi oleh Pakistan, mulai berlaku pada 18 Juni 2026 setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump menandatanganinya secara elektronik. Kesepakatan 14 poin tersebut memulai periode diplomasi selama 60 hari melalui pembicaraan tidak langsung antara Iran dan AS yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang langgeng.
Pernyataan Araghchi disampaikan beberapa jam setelah Trump memperingatkan bahwa Washington siap menggunakan kekuatan militer jika diplomasi gagal, dan menegaskan bahwa Teheran tidak boleh pernah memperoleh senjata nuklir. “Kita akan membuat kesepakatan atau kita akan menyelesaikan pekerjaan ini. Oke, dan menyelesaikan pekerjaan ini tidak akan sulit.” “Saya lebih suka membuat kesepakatan, karena saya tidak ingin memengaruhi 91 juta orang,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Ancaman Israel terhadap Pemimpin Iran
Ancaman Israel juga muncul sehari setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam para pemimpin Iran yang berupaya menghancurkan negaranya. Israel Katz juga mengklaim Israel telah melenyapkan pemimpin Iran yang tewas, Ali Khamenei. Komentar tersebut muncul saat Iran mengadakan upacara pemakaman Khamenei selama beberapa hari.
Ali Khamenei dan anggota keluarganya yang lain tewas dalam serangan pada 28 Februari 2026, ketika Israel dan Amerika Serikat (AS) membombardir target Iran di awal perang. Setelah disemayamkan selama dua hari di kompleks keagamaan Grand Mosalla di Teheran, jenazah Ali Khamenei memulai perjalanannya melalui ibu kota diiringi oleh kerumunan besar pelayat.
Israel Katz mengatakan setiap pemimpin Iran yang “berupaya memajukan rencana untuk menghancurkan Israel akan digagalkan”, kata seorang juru bicara, Senin, dilansir Al Arabiya. “Khamenei, yang pemakamannya sedang berlangsung sekarang, dilenyapkan oleh Israel karena dia memulai dan memimpin rencana untuk menghancurkan Israel di Iran dan di seluruh wilayah,” ungkap Katz seperti disampaikan sumber itu.
Pelayat Padati Pemakaman Ali Khamenei
Ribuan warga Iran berpawai di jalan-jalan Teheran dalam prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi yang terbunuh, Ayatollah Ali Khamenei, Senin (6/7/2026). Rekaman drone di televisi pemerintah menunjukkan puluhan ribu orang berdesakan di sebuah jalan raya di pusat kota Teheran. Peti mati pemimpin yang terbunuh dan empat anggota keluarganya diangkut dengan truk besar melalui jalan-jalan Teheran.
Sementara itu, selang pemadam kebakaran menyemprotkan air dari atas untuk menjaga agar para peserta pawai tetap merasa sejuk. Diberitakan Arab News, rezim teokrasi Iran berencana untuk mendatangkan banyak orang ke upacara tersebut di seluruh kota untuk menunjukkan dukungan rakyat kepada pemerintah.
Pemakaman pendahulunya, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada tahun 1989, dihadiri sekitar 10 juta orang, menurut kantor berita negara IRNA, dan gelombang massa menewaskan lebih dari 10 orang dan melukai lebih dari 10.000 orang. Peti mati Khamenei yang diselimuti bendera, dan peti mati anggota keluarganya yang tewas pada 28 Februari 2026 dalam serangan udara di awal perang yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat, diletakkan di atas truk yang dihias menyerupai jeruji hias yang mengelilingi makam seorang imam.
Kerumunan Besar dalam Prosesi Pemakaman
Kehadiran massa yang besar ini, yang didorong oleh teokrasi Iran sebagai tanda kekuatan, terjadi ketika negara itu bernegosiasi dengan AS untuk mengakhiri perang yang menewaskan ulama berusia 86 tahun itu secara permanen. Gambar dari helikopter yang ditayangkan di televisi pemerintah Iran menunjukkan kerumunan besar yang membentang dari Lapangan Azadi, atau Lapangan Kebebasan, di Teheran sejauh beberapa kilometer di sepanjang jalan raya dengan nama yang sama.
Kerumunan itu tampak lebih besar daripada kerumunan yang hadir pada prosesi tahun 2020 untuk mendiang Jenderal Garda Revolusi Qassem Soleimani, yang menarik lebih dari 1 juta orang. Pihak berwenang tidak segera memberikan jumlah massa saat truk itu melaju perlahan di jalan. Namun, orang-orang di samping truk dan di tempat lain di sepanjang rute membawa plakat, tanda, dan spanduk yang menyerukan kematian Trump.
“Hari ini, saat kita berkumpul untuk pemakaman pemimpin kita, ini adalah hari yang sangat berat,” kata bernama pelayat Fatima Hassan. “Kita di sini bukan untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya, kita di sini untuk membalas dendam. Dan kita akan membalas dendam,” lanjutnya. Para pelayat mengulurkan tangan untuk menyentuh truk tersebut, dan beberapa melemparkan syal dan barang-barang lainnya agar para petugas dapat mengusapkannya ke peti mati, sebuah praktik umum di Iran yang dianggap sebagai berkah.
Para petugas, beberapa di antaranya berada di tangga truk pemadam kebakaran, menyemprotkan air ke kerumunan untuk mendinginkan mereka di tengah panas terik. Pihak berwenang tampak khawatir tentang bahaya adanya kerumunan besar di samping prosesi, dengan para pejabat melalui pengeras suara mendesak masyarakat untuk berjalan perlahan, tidak saling mendorong, dan tetap berada di tepi jalan.







