Kenaikan Tegangan di Timur Tengah Mengancam Stabilitas Pasokan Minyak Global
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memuncak setelah Teheran mengumumkan akan memberikan respons tegas terhadap serangan militer yang mungkin dilakukan Washington. Peringatan ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan minyak global, terutama karena Selat Hormuz menjadi jalur distribusi energi paling penting di dunia.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan peringatan tersebut dalam pembicaraan telepon dengan sejumlah pejabat dari Pakistan, Turki, dan Arab Saudi pada Sabtu (2/8/2026). Menurut laporan Reuters, ia menegaskan bahwa Iran akan membalas setiap bentuk agresi yang dilakukan AS atau Israel. Ia juga mengingatkan bahwa tindakan militer AS berpotensi memperburuk stabilitas kawasan dan meningkatkan risiko ketidakamanan di Timur Tengah.
Dalam percakapan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, Araghchi menegaskan bahwa setiap serangan yang dilakukan AS dan Israel, termasuk jika melibatkan negara-negara kawasan, akan mendapat “respons yang proporsional” dari Teheran. Ancaman ini muncul hanya beberapa jam setelah militer Kuwait mengumumkan telah menghancurkan sejumlah drone yang disebut diluncurkan dari Iran dan mengarah ke fasilitas vital di negara tersebut.
Trump Masih Buka Jalur Diplomasi
Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi. Dalam rapat kabinet di Camp David, Jumat (31/7/2026), Trump mengatakan para negosiator AS, termasuk Jared Kushner, utusan khusus Steve Witkoff, serta Menteri Luar Negeri Marco Rubio, masih memiliki kesempatan mencapai kesepakatan dengan Iran.
Meski demikian, Trump mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap Teheran. “Mereka terlalu sering mengingkari janji,” kata Trump. Ia juga menegaskan bahwa AS siap mengambil tindakan militer apabila situasi mengharuskannya. Sementara itu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan berbicara melalui sambungan telepon dengan Trump pada Sabtu. Menurut seorang pejabat AS kepada Axios, Mohammed bin Salman menyampaikan kekhawatiran sekaligus meminta kejelasan mengenai langkah Washington terhadap Iran.
Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar Minyak
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global. Media Iran, Nournews, yang berafiliasi dengan badan keamanan tertinggi negara itu, memperingatkan bahwa apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang fasilitas minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), serta ladang gas di Qatar dan Israel. Media tersebut bahkan menyatakan bahwa “semuanya akan dibakar hingga menjadi abu.”
Ancaman ini membuat perhatian pasar kembali tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi menghambat distribusi minyak internasional sekaligus mendorong lonjakan harga energi. Kekhawatiran itu mulai tercermin pada pergerakan pasar. Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak sekitar 24 persen sepanjang Juli. Sementara itu, survei Reuters menunjukkan harga minyak masih berpotensi meningkat hingga akhir tahun apabila konflik terus bereskalasi.
Jalur Pelayaran Energi Kian Berisiko
Situasi keamanan yang memburuk juga mulai memengaruhi aktivitas pelayaran internasional. Sejumlah kapal dilaporkan mengurangi pelayaran melalui Selat Hormuz untuk menghindari potensi serangan. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran kembali mengancam jalur Bab el-Mandeb di pintu masuk Laut Merah. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting ekspor minyak dari kawasan Teluk selain Selat Hormuz. Militer Kuwait juga melaporkan sebuah fasilitas pemerintah di wilayah utara negara itu serta properti milik perusahaan sipil di Pulau Bubiyan terkena serpihan benda jatuh pada Sabtu. Insiden tersebut hanya menyebabkan kerusakan material tanpa menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menerima dua laporan insiden maritim di lepas pantai Oman pada hari yang sama. Dalam salah satu insiden, sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil yang belum diketahui asalnya sehingga merusak ruang mesin. Pada insiden lainnya, nakhoda kapal tanker melaporkan melihat percikan air besar disertai ledakan di dekat kapal, namun tidak ditemukan kerusakan pada kapal.
Meningkatnya ancaman terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb memperbesar risiko gangguan perdagangan energi global. Apabila konflik terus memanas, tekanan terhadap pasokan minyak dunia dan harga energi diperkirakan akan terus berlanjut.






