Iran Mengancam Akan Merespons Serangan Militer AS dengan Menghancurkan Ladang Minyak di Negara Lain
Iran telah mengeluarkan peringatan keras terhadap Amerika Serikat (AS) terkait kemungkinan serangan militer baru. Dalam pernyataannya, Iran menegaskan bahwa setiap agresi yang dilakukan oleh AS akan langsung dibalas dengan tindakan tegas, termasuk ancaman untuk menghancurkan ladang minyak di negara lain.
Peringatan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam percakapan telepon dengan para pejabat tinggi Turki, Pakistan, dan Arab Saudi pada 1 Agustus. Ia menyatakan bahwa Iran akan merespons dengan tegas setiap “agresi” yang dilakukan oleh pihak asing. Pernyataan ini muncul setelah militer Kuwait menyatakan telah menghancurkan pesawat nirawak (drone) musuh yang diluncurkan Iran ke arah sejumlah fasilitas vital.
Dalam pembicaraan dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Araqchi menekankan bahwa Iran akan merespons setiap tindakan yang dianggap sebagai gangguan terhadap stabilitas kawasan. Ia juga menyampaikan pesan serupa kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, bahwa setiap serangan oleh AS dan Israel atau keterlibatan negara-negara kawasan dalam tindakan semacam itu akan dibalas dengan “respons yang proporsional”.
Media yang berafiliasi dengan badan keamanan tertinggi Iran, Nournews, melaporkan bahwa serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran akan memicu serangan balasan Iran terhadap ladang minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, serta ladang gas di Qatar dan Israel. Peringatan tersebut disertai dengan pernyataan bahwa “semuanya akan hangus menjadi abu”.
Perkembangan Harga Minyak dan Ketegangan Global
Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent (sebagai acuan) naik 24 persen pada bulan Juli 2026. Para analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan harga akan terus meningkat pada tahun 2026. Risiko serangan Iran telah menghambat sebagian besar aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz—jalur vital bagi pasokan energi global—sejak konflik bermula, sehingga menimbulkan guncangan pada perekonomian dunia.
Pada 31 Juli di Camp David, Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa para negosiator AS masih dapat mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun, ia juga menyatakan bahwa mulai kehilangan kepercayaan terhadap pihak Iran, seraya menyebut bahwa “mereka sering kali mengingkari janji”. Trump mengatakan bahwa ia akan “menghantam mereka” jika diperlukan.
Ancaman dari Kelompok Houthi di Yaman
Menambah kekhawatiran industri energi, kelompok Houthi di Yaman yang merupakan sekutu Iran baru-baru ini mulai menebar ancaman di Bab el-Mandeb—selat yang terletak di ujung lain Laut Merah dari Terusan Suez, yang juga merupakan jalur ekspor minyak mentah Arab Saudi.
United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan pada 1 Agustus bahwa pihaknya menerima laporan mengenai dua insiden maritim di lepas pantai Oman. Salah satu insiden melibatkan sebuah kapal tanker yang terkena proyektil tak dikenal hingga merusak ruang mesin, sementara pada insiden lainnya, nakhoda kapal tanker melaporkan adanya cipratan air yang besar serta ledakan di dekat kapal, meskipun tidak ada kerusakan yang dilaporkan.
Serangan di Kuwait dan Kerusakan Material
Sebuah fasilitas pemerintah di wilayah utara Kuwait dan properti sipil milik sebuah perusahaan di Pulau Bubiyan terkena serangan pada 1 Agustus; serpihan yang jatuh menyebabkan kerusakan materi namun tidak menimbulkan korban jiwa, demikian pernyataan militer Kuwait.






