Presiden AS Donald Trump Membatalkan Rencana Serangan Militer terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (1/8/2026) mengumumkan bahwa ia membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa pembatalan ini dilakukan setelah Teheran dan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah meminta waktu untuk menyelesaikan kerangka kesepakatan damai. Pengumuman ini disampaikan melalui unggahan di platform media sosial Truth Social.
Trump mengklaim bahwa semua pihak telah menyetujui batas-batas dari potensi kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera, penuh, dan total, serta diakhirinya ancaman nuklir Iran. Ia juga menyatakan bahwa keputusan ini diambil demi kepentingan masa depan dunia dan kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur. Namun, Trump menegaskan bahwa keputusan tersebut bergantung pada kemampuan semua pihak untuk “segera mencapai kesepakatan”.
“AS berada dalam kondisi siap dan siaga untuk melancarkan serangan Republik Islam Iran, dengan tingkat kekuatan militer, daya tempur, dan kemampuan yang belum pernah terlihat sejak Perang Dunia II,” tulis Trump. Ia juga menyebut bahwa Israel telah menyetujui komitmen tersebut untuk menunda serangan. “Semua pihak, segera bekerja dan tuntaskan ini,” tambahnya.
Respons Warganet terhadap Keputusan Trump
Setelah pengumuman pembatalan ini, warganet di media sosial khususnya di X langsung merespons kebiasaan Trump yang sering mundur di menit akhir usai menebarkan ancaman. Mereka menjuluki Trump sebagai “TACO alias Trump Always Chicken Out”. Julukan ini menjadi bukti bahwa publik tidak sepenuhnya percaya dengan keputusan Trump.

Billboard menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump terpampang di salah satu jalan di Teheran, Iran, Senin (27/7/2026). – (EPA/Abedin Taherkenareh)
Persiapan Operasi Militer oleh AS dan Israel
Menurut laporan CBS News, Jumat (1/8/2026), AS dan Israel tengah mempersiapkan sebuah operasi pengeboman besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran. Laporan tersebut menyebut adanya diskusi agar operasi tersebut diselesaikan sebelum pasar saham dibuka lagi pada Senin, mengingat kekhawatiran atas dampak serangan terhadap perekonomian, meskipun tidak ada tenggat yang ditetapkan.
Israel telah menerima taklimat terkait dan terus berkoordinasi dengan Washington, meski Presiden AS Donald Trump masih belum mengeluarkan persetujuan akhir, menurut sumber. Seorang pejabat Israel mengeklaim bahwa pihaknya tidak memiliki informasi apapun terkait keputusan memulai operasi militer berskala besar terhadap Iran serta belum diminta ikut serta dalam operasi serangan ke Iran.
Pernyataan Trump di Camp David
Dalam sebuah rapat kabinet di Camp David, tempat peristirahatan presiden AS, Trump mengatakan, AS akan menyerang Iran dengan sangat keras, “sampai pada suatu titik di mana mereka akan berkata, ‘kami tak dapat menahannya lagi’.” Laporan CBS News mengatakan, pembangkit listrik dan instalasi penyulingan dapat menjadi sasaran serangan AS-Israel. AS juga sedang mempertimbangkan serangan untuk memutus aliran listrik ke Teheran.
Laporan terpisah oleh Wall Street Journal (WSJ), mengutip pejabat AS, menyebut bahwa serangan baru ini disepakati di Camp David. Kepada WSJ, para pejabat berkata Trump mungkin akan menangguhkan serangan dan kembali berunding dengan Iran jika ada “kemajuan langsung pada upaya diplomasi”.
Respons Iran terhadap Ancaman Militer
Mengutip pejabat keamanan senior Iran, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Teheran telah mempersiapkan “rencana komprehensif” untuk membalas serangan AS dalam bentuk apapun. Kepada Tasnim, pejabat itu mengatakan bahwa rencana serangan baru ke Iran merupakan suatu “kesembronoan”. “Kami telah mempersiapkan sebuah rencana komprehensif untuk membalas, termasuk terhadap infrastruktur kritis di Israel serta infrastruktur energi AS di kawasan, dan kami siap melakukannya,” kata si pejabat.
Dia juga menekankan bahwa Teheran memiliki “kemampuan dan tekad” yang kuat untuk membalas serangan AS-Israel.

Perbandingan Militer Iran-Israel – (Infomalangraya.com)






